Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Umi Rohmi, Berjuang tanpa Bayang-Bayang (Padanya Mengalir Darah Pahlawan dan Pejuang)

Rury Anjas Andita • Jumat, 4 Oktober 2024 | 05:39 WIB
Bacagub NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah saat berkunjung ke Rumah Putih di Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Dompu.
Bacagub NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah saat berkunjung ke Rumah Putih di Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Dompu.

Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, lazim disapa Umi Rohmi. Putri cantik nan anggun berseri. Suaranya lembut tapi menghujam pada kebenaran yang diperjuangkan. Keanggunannya tak akan melapukkan prinsip tegar yang telah melekat kuat pada sosoknya sebagai perempuan.

Ada orang bertanya, "Siapa dan dari mana dia?" Umi Rohmi, lahir sebagai anak pertama dari Umi Ustazah Hj. Siti Rauhun seorang putri pertama Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sosok ulama besar dan Pahlawan Nasional asal Pancor, Lombok Timur, NTB.

Saudara Umi Rohmi yang juga ulama besar dan tokoh nasional adalah Dr. TGKH. Muhammad Zainul Majdi, akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB). Pada sosok adik kandungnya ini berpadu ketokohannya sebagai ahli agama (ulama) dan ketokohannya di bidang politik (Gubernur NTB).

Ada lagi orang bertanya, "Siapa yang mendidik Umi Rohmi hingga menjadi perempuan setegar ini?"

Bagi Umi Sitti Rohmi Djalilah (SRD), kakek dan adiknya adalah dua tokoh inspirasi dan teladan. Bagi beliau, kiprah keduanya pada agama dan bangsa dengan sekian cara dan karya, adalah sebaik-baik inspirasi dan sehebat-hebat didikan hingga ia bagai setegar karang. Sekian hempasan dalam perjuangan, justru memantulkan sosok dirinya sebagai perempuan tegar dan petarung.

Ada pula orang yang penasaran, "Mengapa dan apa niat Umi Rohmi ikut Kontesasi Pilgub NTB, padahal ia perempuan berkecukupan yang bisa hidup santai di kediamannya?"

Petarung sejati itu, coba lihat pada niatnya bertarung, bukan hanya melihat pada kemampuan ia mengalahkan musuh. Itu kata sementara orang bijak. Umi Rohmi pun demikian, ia perempuan tapi jiwanya petarung. Sosoknya tegar, niatnya pun benar.

"Berjuang untuk NTB itu, sebagai bagian dari perjuangan. Karena jalan ini adalah jalan yang baik. Untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi. Maka konteksnya adalah perjuangan." Kata Umi Rohmi menguatkan niat para jamaah di setiap titik yang dikunjunginya.

Sekian uraian di atas bukan puja puji belaka. Tapi, itu adalah kenyataan sebagai buah didikan dan inspirasi dari dua tokoh pujaan Umi Rohmi. Bukankah kakek dan adik kandungnya adalah sosok histori bukan cerita misteri.

Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan segala kebesarannya sebagai ulama dan pejuang, telah menjadi inspirasi dan teladan dirinya, teladan jutaan murid dan jamaahnya.

Gelar Abul Madaaris wal Masaajid (Bapak madrasah dan masjid) adalah menjadi bukti nyata Sang Maulana sebagai ulama besar yang sangat berpengaruh dengan mentaksis dua tempat ibadah itu. Karya Hizibnya dibaca pagi petang pada setiap hari tiada jeda oleh murid dan jemaahnya, juga menjadi lem perekat keterikatan batin mereka kepada Sang Maha Guru.
Sementara sematan gelar "Pahlawan Nasional" (bahkan satu-satunya di NTB) menunjukkan, bahwa segala perkhidmatan dan karya Maulana Syekh sudah diakui negara, sebab dinilai memiliki dampak luar biasa pada agama dan bangsa.

Karena itu tak ayal, di masa hayat maupun pasca wafat, Maulana Sang Maha Guru menjadi inspirasi dan teladan tiada henti. Titahnya dituruti. Diri beliau dan zuriatnya pun diikuti sebagai bukti bakti. Pengaruh dan nama besar Maulana pun, ternyata tak pernah usang hingga kini dan (syukurnya) mengalir kepada zuriatnya.
 
Pun demikian, sosok Tuan Guru Bajang (TGB) adalah seorang Gubernur Termuda di Indonesia dan dari sentuhan tangan dinginnya, ia telah berhasil mengubah wajah Nusa Tenggara Barat menjadi wajah berseri, penuh pesona, punya daya tawar tinggi di level nasional, bahkan tingkat internasional.

Pembangun NTB (2008-2018) yang dinilai melesat itu, ditopang oleh TGB dengan sekian kebijakan dan program strategis yang memiliki konektivitas dengan arah pembangun dan kebutuhan Pemerintah Pusat. Pariwisata NTB nomor wahid di dunia. Pertumbuhan ekonomi 9,9 persen sebagai tertinggi di Indonesia. Bendungan dan pelabuhan semua dibenahi. Bandara pun bertaraf Internasional.

Hebatnya, pembangunan fisik dibangun dan dibenahi, pembangunan jiwa dan kebatinan rakyatnya pun tak ditinggalkan. Mereka dibangunkan tempat ibadah berupa Islamic Center NTB, dan masjid megah ini pun tahun 2016 menjadi Pusat MTQ Nasional. Termasuk dilegalkan Bank NTB menjadi Bank Daerah yang syariah pertama di Indonesia.

Kita pun tahu, kepemimpinan TGB di NTB kala itu menjadi sorotan di tingkat pusat dan seantero negeri. Gaya dan pemikirannya dalam memimpin dibedah di kampus-kampus. Sembari beliau juga keliling Dakwah Nusantara dalam ikhtiar ikut menguatkan sulaman persatuan Indonesia. Nama "TGB" pun booming hingga ia masuk radar Cawapres 2019.

Nah, berangkat dari dua tokoh besar ini, yakni Maulana Syekh dan Tuan Guru Bajang, saya ingin berkata; "Pada kakek dan adiknya, Umi Rohmi seketurunan dan sekeluarga, Umi Rohmi sedarah dan sedaging, maka saya lebih yakin bahwa Umi Rohmi insyaallah lebih siap menjadi penerus setia keduanya."

Pertanyaan berikutnya, "Umi Rohmi yang notabene adalah cucu pertama dari putri pertama Maulana Syekh dan sekaligus kakak kandung TGB, mengapa ia tak 'berpayung' di bawah kebesaran dan ketokohan keduanya demi meraih jabatan?"

Potret perjuangan Umi Rohmi hari ini adalah "copy paste" potret perjuangan TGB sebagai Cagub NTB dahulu (2008), yang nyaris tak satupun kita temukan ada spanduk, baliho, player dan APK kampanye yang menyertakan foto Sang Kakek. Justru, TGB maju sebagai kontestan dengan modal semangat perjuangan Sang Moyang, dan niat baiknya ingin membangun NTB menjadi lebih baik.

Pun demikian, Umi Rohmi meneladani hal yang sama dengan apa yang dilakukan adiknya, disertai niat yang baik untuk berkhidmat meneruskan dan merawat apa yang sudah diwariskan Sang Pendahulu, maka Bismillahirrahmanirrahim beliau maju untuk "NTB Maju dan Berdaya Saing".

Alhamdulillah, kenyataan hari ini, setelah Umi Rohmi intens turun menyapa masyarakat NTB, maka hasil survei Poltracking Indonesia mendaulat, pasangan Rohmi-Firin Unggul dibanding calon lain.

Walhasil. Umi Rohmi sudah mencontohkan cara berjuang dan cara menjaga marwah keluarga Sang Moyang. Padahal meski, andai pun beliau bernaung di bawah kebesaran dan ketokohan Sang Teladannya, (rasa-rasanya) "tak masalah" sebab ia sedarah dan sekeluarga. Namun, Rektor Universitas HAMZANWADI ini adalah perempuan tegar yang padanya mengalir darah pahlawan dan pejuang. Pejuang, pantang berjuang di bawah bayang-bayang.

Akhirnya. Jangan kita pikirkan cara orang lain yang hanya sekadar sahabat begitu "songel" (baca Sasak: kurang punya malu) bernaung di bawah "ketiak" sahabatnya. Fokus saja lihat kualitas juang orang. Toh, semua akan kembali pulang. Bila sudah di rumah, tak ada yang ditemukan kecuali saudara. Bukankah begitu? Wa Allah A'lam! (*)

 



*) Muallif Majhul

Editor : Rury Anjas Andita
#Rohmi #Sitti Rohmi Djalilah #Ummi Rohmi #pahlawan #pejuang