Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menyusuri Jejak Pendiri Ponpes Al-Aziziyah: Sang Peletak Fondasi Al-Qur’an di Tana Lombok

Rury Anjas Andita • Selasa, 5 November 2024 | 08:40 WIB
Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos.
Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos.

PENDIDIKAN menjadi suatu hal yang penting bagi tiap-tiap individu. Pendidikan sebagai sebuah landasan dasar untuk berpikir, menganalisa, memutuskan suatu perkara dan sebagai jalan menumbuhkan karakter pada setiap diri individu sehingga terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik. Dalam diri setiap individu, pendidikan pertama kali didapat adalah pendidikan yang ada di lingkungan keluarga (Pendidikan Informal), kemudian pendidikan di lingkungan sekolah (Pendidikan Formal), dan dalam konteks yang lebih luas yakni lingkungan masyarakat (Pendidikan Nonformal).

Pesantren tidak saja sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai pusat pengembangan agama Islam, tetapi dalam catatan sejarah pesantren juga sebagai tempat atau lembaga yang turut serta berjuang dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau biasa disapa (Maulana Syekh), beliau mendirikan Pesantren Al- Mujahidin sebagai bentuk aksi nyata dalam menyikapi kondisi bangsa yang pada saat itu masih terjajah dan terbelakang.

Dalam konteks masyarakat muslim, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat (indigenous) dan memiliki pendidikan multi aspek. Para santri dididik tidak saja diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam mengenai ilmu agama, tetapi para santri diajarkan untuk hidup sederhana, memiliki solidaritas yang tinggi dan tak kalah pentingnya para santri diajarkan tentang kepemimpinan.

Di Nusa Tenggara Barat, selain Pesantren Al-Mujahidin di Pancor, salah satu lembaga pesantren yang memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan di Pulau Lombok dan masih eksis hingga saat ini adalah Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek, Gunungsari Lombok Barat. Ponpes Al-Aziziyah didirikan oleh Ulama’ besar yang bernama TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz. Ponpes Al-Aziziyah memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan lain pesantren yang ada di Pulau Lombok, yakni para santri diwajibkan menghafal Al-Qur’an.

Latar Belakang TGKH Musthafa

TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz akrab disapa Tuan Guru Kapek lahir pada tanggal 17 Juli 1934 dari pasangan TGH Umar dan Hj Jamilah di Kapek Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Beliau merupakan anak ke empat dari 12 bersaudara. Saudara- saudara beliau, Hj. Marhamah, TGH Sakaki, Hj. Fatmah, Hj. Husniah, TGH. Marzuki, TGH. Jalaludin, Hj. Jurmiah, Jamaah, Kartubi, Hj. Aminah, dan Hj. Fatlaah.

Musthafa kecil lahir dan tumbuh di lingkungan yang sederhana. Ayah beliau, TGH Umar merupakan tokoh masyarakat setempat dipercaya menjadi Imam dan khatib. Walau hidup dalam kesederhanaan, tetapi semangat mencari ilmu beliau (TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz) amat tinggi. Ayah beliau, TGH Umar mengantarkan beliau ke Pancor untuk menggali ilmu ke TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Karena kecerdasan dan kegigihannya menuntut ilmu Maulana Syekh merekomendasikan beliau untuk melanjutkan jihad keilmuan ke Mekkah.

Maka pada tahun 1976 beliau berangkat ke Mekkah melakukan jihad intelektual keilmuan dengan belajar  ilmu-ilmu agama dan beliau berguru kepada tak kurang dari 27 syekh (guru) dengan berbagai latar belakang keilmuan. Setelah 15 Tahun belajar dan mengajar di Mekkah akhirnya beliau kembali ke tanah kelahirannya Kapek pada 1985. Kepulangan beliau bukan tanpa alasan, pada saat itu Pemerintah Kerajaan Saudi memiliki kebijakan bahwa para ulama yang berasal dari non Arab yang mengajar di Masjid Al-Haram harus diganti dan dipulangkan ke negara masing-masing.

Berdirinya Ponpes Al-Aziziyah

Kecintaan TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz terhadap pendidikan khususnya pendidikan Al-Qur’an begitu tinggi, sampai kemudian pada tanggal 03 November 1985 beliau mendirikan lembaga pendidikan Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Aziziyah. Sebelumnya telah banyak berdiri lembaga-lembaga pesantren di tanah Lombok, hanya saja lembaga-lembaga tersebut berpokus pada kajian kitab kuning dan hanya menjadikan Tahfidzul Qur’an sebagai bagian programnya. Berbeda kemudian dengan Pondok Pesantren Al-Aziziyah yang menjadikan Tahfidzul Qur’an sebagai program utamanya. Sehingga Nada Nazopah (2022) dalam temuan riset disertasinya menyebutkan bahwa “Pondok Pesantren Al-Aziziyah sebagai pelopor Tahfidzul Qur’an di Pulau Lombok.

TGH Ridwan dalam Nada Nazopah (2022) mengungkapkan bawah “Sosok seorang TGH. Musthofa dapat dikatakan sebagai Orang Qur’an. Hal ini dibuktikan dengan ketika datangnya bulan suci Ramadhan, hampir 24 jam beliau menghabiskan waktunya dengan membaca al-Qur’an. Tempat majelis-majelis duduknya mesti ada bantal yang di atasnya ada al-Qur’an dan itu sampai tertidur beliau membaca. Beliau pernah bercerita bahwa beliau khatam al-Qur’an 17 kali selama bulan Ramadhan.

Perkembangan Al-Aziziyah

Ponpes Al-Aziziyah telah mampu menjawab tantangan dan  menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ponpes Al-Aziziyah sebagai lembaga Tahfidzul Qu’ran berkembang dan bertransformasi dengan dibukanya lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Berdasarkan catatan sejarah bahwa sampai saat ini  Ponpes Al-Aziziyah telah memiliki lembaga pendidikan dari mulai TK-Perguruan tinggi. Secara sosiologis perkembangan Ponpes Al-Aziziyah merupakan bentuk dari perubahan sosial. Menurut Kingsley Davis “perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam srtuktur dan fungsi masyarakat.

Pengaruh TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz

Sosok TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz merupakan ulama’ kharismatik yang keilmuannya tidak dapat diragukan lagi. Beliau merupakan ulama’ yang menjadi rujukan oleh masyarakat maupun ulama’ lainnya, tidak hanya masyarakat ataupun ulama’ dari NTB saja yang datang ke beliau akan tetapi ulama’ besar di Indonesia bahkan dunia datang kepada beliau. Sosok ulama’ yang sederhana dan kehidupannya tidak pernah jauh dari Al-Qur’an.

Warisan yang Ditinggalkan

TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz telah meninggalkan warisan yang tidak akan ada putusnya. Kebaikan beliau akan terus mengalir sebagai ladang kebaikan dan penerang di alam barzah. Bagi penulis beliau merupakan “GURUNYA PARA GURU AL-QUR’AN”, beliau telah mendirikan dan mencetak ratusan bahkan ribuan para ahli ilmu, ahli al-Aqur’an yang akan terus mendoakan beliau.

Beliau TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz telah meninggalkan beberapa kitab yang dapat digunakan oleh para murid-murid beliau bahkan masyarakat pada umumnya. Kitab-tibab tersebut diantaranya: (1) Kitab Wirid Azkarul Al- Mukminin, kitab ini merupakan kitab yang cukup masyhur dikalangan santri karna berisi doa dan wirid sehari-hari (2) Kitab Al-Fawaid, yang berisi kajian tentang fiqih, sejarah, tasawuf, dan berisi kajian lainnya, (3) Kitab Risalah Al-Mufidah Fii al-Hajj wa al-Umrah yang berisi tentang kumpulan dan ringkasan tentang haji dan umroh.

Penulis selaku salah seorang alumni Ponpes Al-Aziziyah merasakan betul bagaimana proses pembelajaran al-qur'an yang dilakukan oleh Tuan Guru dan Para Ustadz, sekaligus menjadi pembangkit ghiroh penyebaran cinta al-Qur'an di tanah Lombok yang bahkan berkembang menjadi rumah-rumah tahfizh ke berbagai pelosok Desa bahkan dusun yang jauh dari keramaian. Selain itu, penulis merasakan bagaimana ajaran-ajaran selama di pondok begitu penting dan manfaatnya amat terasa sampai saat sekarang. Al-Aziziyah tidak saja mengajarkan santri tentang menghapal dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an tetapi juga  Al-Aziziyah mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai persatuan, dan nila-nilai keberagaman. Para pencari ilmu di Ponpes Al-Aziziyah tidak saja datang dari satu suku ataupun satu daerah tetapi beragam suku, beragam latar belakang dan disatukan di dalam tempat yang amat suci bernama “Ponpes Al-Aziziyah. 

Komitmen TGKH Musthafa Umar Abdul Aziz untuk membumikan Al-Qur’an dengan mendirikan Ponpes Al-Aziziyah dan mengajarkan ajaran-ajaran agama merupakan cerminan dedikasi beliau terhadap pendidikan Al-Qur’an dan masyarakat. Beliau telah menciptakan generasi penerus yang mampu menjadi lilin-lilin penerang bagi kehidupan sosial keagamaan di tengah-tengah masyarakat. Selamat Milad ke 39 Ponpes pencetak para Hafiz Al-Qur’an. (*)

 


*) Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos. Mahasiswa Magister Hukum Keluarga Islam UIN Mataram

Editor : Rury Anjas Andita
#Ponpes Al Aziziyah