LombokPost - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pentingnya sektor pariwisata sebagai pilar utama pembangunan ekonomi daerah. Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), 2–4 Juni 2025.
Dalam forum strategis tersebut, Mendagri Tito Karnavian menekankan pembangunan NTB harus mengedepankan sinergi antara program pusat dan daerah. Dengan pariwisata sebagai motor pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Musrenbang bukan sekadar pertemuan teknokratis, tetapi panggung untuk menyatukan semangat pusat dan daerah dalam menyusun agenda pembangunan yang nyata, konkret, dan berpihak pada masyarakat,” ujar Mendagri Tito Karnavian.
B. Tantangan Ekonomi Daerah dan Peran Strategis Sektor Pariwisata
Dalam evaluasinya terhadap kondisi ekonomi NTB, Mendagri Tito Karnavian mencatat bahwa sebagian wilayah mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional. Namun kesenjangan wilayah, pengangguran, dan menurunnya daya beli masih menjadi tantangan nyata.
“Pariwisata adalah sektor dengan daya ungkit yang besar. Ia mampu membuka lapangan kerja, mendorong UMKM, dan menciptakan pemerataan ekonomi bahkan di wilayah yang selama ini tertinggal,” ujar Tito Karnavian.
Ia menambahkan, ketika pariwisata dikelola dengan baik, efek bergandanya akan terasa hingga ke desa-desa, tak hanya kota-kota besar.
C. Tata Ruang, Investasi, dan Perizinan: Fondasi Keberhasilan Destinasi
Dalam konteks regulasi dan iklim investasi, Tito Karnavian menekankan pentingnya percepatan penyelesaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di seluruh kabupaten/kota. Kepastian tata ruang, menurutnya, adalah prasyarat utama untuk mendatangkan investasi, termasuk investasi di sektor pariwisata.
“Saya melihat daerah yang sudah punya RTRW yang baik dan menerapkan sistem perizinan satu pintu berhasil menarik investasi lebih cepat. Ini harus direplikasi di seluruh NTB,” tegas Tito Karnavian.
Transparansi perizinan, penyederhanaan birokrasi, dan pengawasan yang akuntabel disebut sebagai elemen penting untuk mendukung ekosistem pariwisata yang sehat.
D. Swasembada Beras dan Ketahanan Pangan untuk Pariwisata
Meski terlihat tidak langsung berkaitan, ketahanan pangan juga dinilai Mendagri sebagai bagian dari ekosistem pariwisata. Ia mencontohkan bahwa kawasan wisata yang stabil pasokan pangannya akan lebih siap menghadapi lonjakan kunjungan, terutama saat musim liburan.
“Ketika kita bicara swasembada beras, itu bukan semata untuk pangan, tapi untuk daya tahan daerah wisata kita. Jangan sampai destinasi yang indah tidak siap secara logistik,” ungkap Tito Karnavian.
E. Pembangunan Rumah Rakyat dan Infrastruktur Pariwisata
Dalam upaya mendukung ketersediaan hunian terjangkau, Tito Karnavian menyebutkan bahwa program pembangunan tiga juta rumah nasional harus dikaitkan pula dengan pengembangan kawasan wisata. Hal ini penting agar pekerja dan masyarakat lokal di sekitar kawasan pariwisata memiliki akses terhadap tempat tinggal yang layak.
Ia juga mengajak DPRD dan pemerintah daerah mendukung program ini dengan insentif fiskal, seperti pembebasan pajak dan retribusi.
F. SDM dan Lingkungan: Dua Pilar Pariwisata Masa Depan
Tak kalah penting, pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis industri pariwisata juga menjadi perhatian Mendagri. Ia menyebut NTB memiliki potensi besar dalam mencetak SDM unggul di bidang perhotelan, kuliner, dan ekowisata.
“SDM kita harus siap bersaing. Tidak hanya jadi penonton, tapi jadi aktor utama pariwisata NTB,” ujar Tito Karnavian.
Di sisi lain, pembangunan harus tetap menjaga kelestarian lingkungan. NTB diminta memperkuat konsep eco-tourism dan wisata berbasis komunitas untuk memastikan keberlanjutan alam dan budaya lokal.
G. Optimalisasi Fiskal Daerah dan Sumber PAD dari Pariwisata
Mendagri menutup sambutannya dengan menyinggung pentingnya optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD). Di tengah masih tingginya ketergantungan sebagian daerah di NTB pada transfer pusat, sektor pariwisata dianggap sebagai sumber PAD yang sangat potensial.
“Dengan tata kelola yang baik, retribusi wisata, pajak hotel dan restoran, serta berbagai aktivitas pariwisata bisa menjadi penyumbang PAD yang signifikan. Kita tidak bisa terus bergantung pada pusat,” pungkas Tito Karnavian.
Baca Juga: Samsung Kenalkan Galaxy Active Club, Komunitas Olahraga Inspiratif
H. Pariwisata Bukan Tambahan, Tapi Panglima Pembangunan Daerah
Sambutan Mendagri Tito Karnavian dalam Musrenbang NTB mempertegas satu hal penting: pariwisata bukan sekadar sektor pelengkap, tapi harus menjadi panglima pembangunan daerah. Melalui koordinasi lintas sektor, investasi yang sehat, SDM yang unggul, serta keberpihakan pada lingkungan dan masyarakat lokal, NTB diharapkan mampu menjadikan pariwisata sebagai mesin utama pertumbuhan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Oleh Taufan Rahmadi (*)
Editor : Prihadi Zoldic