LombokPoat - Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTB yang berlangsung pada 2–4 Juni 2025 menjadi tonggak penting dalam arah pembangunan lima tahun ke depan. Dalam sambutannya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memaparkan fondasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB 2025–2029 dengan visi yang tegas: menjadikan NTB sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia sekaligus lumbung pangan nasional. Di tengah tantangan global dan keterbatasan sumber daya, NTB mencoba menempuh lompatan, bukan sekadar langkah.
Yang menarik, sektor pariwisata kini bukan lagi pelengkap, melainkan lokomotif utama transformasi ekonomi. NTB tidak ingin lagi sekadar dikenal karena keindahan alamnya, melainkan ingin mencetak nilai tambah melalui konektivitas, infrastruktur, event internasional, dan penguatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
*A. Membangun dari Laut, Udara, dan Darat*
Langkah konkret terlihat dalam program peningkatan konektivitas udara dan laut, dengan target menambah jalur penerbangan internasional serta pelayaran wisata bahari yang menjangkau pulau-pulau eksotis NTB. Pemerintah Provinsi juga menggarap pembangunan dan pelebaran jalan antar destinasi wisata, menjadikan aksesibilitas sebagai alat pemerataan ekonomi.
Konsep integrasi darat-laut-udara ini menunjukkan bahwa Gubernur Iqbal memahami betul bahwa wisata tidak tumbuh di ruang hampa. Infrastruktur bukan hanya fasilitas, melainkan simbol niat serius dalam mengundang wisatawan global dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi lokal.
*B. Event Bulanan dan Daya Saing Global*
Target NTB untuk menyelenggarakan minimal satu event nasional atau internasional setiap bulan patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan paradigma baru: pariwisata bukan hanya menunggu wisatawan datang, tapi menciptakan alasan dan momentum kunjungan.
Model ini telah sukses di destinasi global seperti Thailand dan Korea Selatan, di mana rangkaian event menjadi magnet kunjungan sekaligus platform promosi budaya dan produk lokal. Jika dikawal dengan manajemen profesional dan promosi digital global, NTB berpeluang menjadi Destinasi Wisata Utama dunia dengan wajah baru yang lebih hijau, inklusif, dan berbasis komunitas.
*C. Pariwisata Sebagai Katalis Diversifikasi Ekonomi*
NTB juga mulai menggeser ketergantungan pada sektor pertambangan. Diversifikasi ekonomi diarahkan pada penguatan sektor pengolahan, pariwisata, dan pangan. Gubernur Iqbal menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 9% pada 2029, dengan angka kemiskinan umum di bawah 10% dan kemiskinan ekstrem 0%.
Di sini, pariwisata tidak hanya menjadi penghasil devisa, tetapi juga menjadi pasar bagi produk lokal—dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga kerajinan. Inilah konsep “pariwisata sebagai ekosistem,” yang menyerap tenaga kerja, menumbuhkan UMKM, sekaligus memperluas rantai nilai.
*D. Tata Kelola dan Kepemimpinan Baru*
Namun, semua rencana besar itu tak akan terwujud tanpa tata kelola yang adaptif dan kolaboratif. Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menekankan pentingnya sinergi antar kabupaten/kota dan penyederhanaan birokrasi. Di era digital dan disrupsi ini, reformasi struktural tak bisa ditunda, terlebih bila ingin mengejar lompatan, bukan sekadar peningkatan gradual.
Kepemimpinan Iqbal yang berlatar diplomasi dan jejaring internasional menjadi aset strategis. Ia memahami pentingnya ekonomi reputasi, di mana branding daerah menjadi bagian dari daya saing global. Pendekatan ini selaras dengan arah pembangunan yang menempatkan pariwisata sebagai wajah dan etalase NTB di mata dunia.
*E. NTB sebagai Model Baru Pembangunan Daerah*
Dalam banyak hal, apa yang dirancang NTB di bawah kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal bisa menjadi model baru bagi daerah lain, pembangunan multisektoral, berbasis data, berorientasi global namun berpijak kuat pada potensi lokal. Pariwisata bukan hanya cerita keindahan, tetapi strategi ekonomi yang konkret, inklusif, dan berkelanjutan.
NTB kini tak hanya membangun jalan dan bandara, tetapi juga harapan dan kepercayaan diri. Dengan arah yang jelas, target yang terukur, dan kepemimpinan yang progresif, NTB layak menjadi poros baru pembangunan Indonesia Timur, bahkan jendela Indonesia ke dunia.
Oleh: Taufan Rahmadi
Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata