Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Meneladani Rasulullah, Seni Diplomasi Minim Konflik, Mengedepankan Solusi tanpa Friksi

Lombok Post Online • Selasa, 9 September 2025 | 15:39 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Maulid bagi umat Islam merupakan bulan yang sangat dinanti karena pada bulan Rabiul Awal ini adalah bulan kelahiran sekaligus wafatnya manusia termulia sepanjang peradaban bumi.

Tradisi maulid di Indonesia khususnya di kalangan masyarakat tradisionalis dilakukan dengan beragam kegiatan keagamaan dibalut lomba bernapaskan religi.

Dalam tradisi masyarakat di Pulau Lombok, bulan maulid menjadi momentum untuk menguatkan nilai nilai keteladanan yang disampaikan para dai, ustad, tuan guru dan para mauidhoh hasanah lainnya.

Hal yang tidak kalah pentingnya yakni tradisi beberkat (oleh-oleh) seusai menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pada perayaan maulid tahun 2025 ini, kita dihadapi pada situasi negara yang tidak baik-baik saja. Gelombang protes dari berbagai kalangan masyarakat menghiasi pemberitaan seantero negeri.

Fokus tuntutan masyarakat mengarah pada penyelenggara negara terutama kalangan legislatif. Dalam situasi ekonomi yang tidak berpihak kepada masyarakat, penyelenggara pemerintahan justru menunjukkan kemewahannya sehingga menyulut emosi masyarakat.

Rasa empati menjadi hal yang langka sehingga layak di tempatkan pada museum, begitupun dengan solidaritas antar warga bangsa sepertinya sudah mulai terkikis.

Dan hasilnya, dalam sepekan di bulan kemerdekaan Indonesia sejumlah korban berguguran, fasilitas publik hancur dan terbakar.

Gedung pemerintahan terbakar di penjuru Tanah Air. Tangis ibu pertiwi sudah tak tertahankan, duka tak bisa dihindarkan. Pertanyaan yang muncul, kenapa ini bisa terjadi?Ada apa dengan negeri ini?

Problem Solving (Solusi) dan Yielding (Mengalah) ala Rasulullah

Berkaca pada rentetan persoalan yang mendera negeri ini, kita mencoba untuk meneladani pola Nabi Muhammad dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin umat. Di era Rasulullah banyak konflik yang berhasil diredam baik intra umat maupun antar umat beragama pada saat itu. Yang monumental dan kerap kita dengan yakni berhasilnya kesepakatan antara penduduk muslim dan non muslim di Madinah yang tertuang dalam “Piagam Madinah”.

Ada 47 pasal yang tertuang dalam Piagam Madinah ini. Di mana nilai nilai penting yang dapat petik dalam piagam ini yakni terkait kesetaraan (Hak Azasi Manusia), solidaritas antar umat seagama dan umat beragama, perlindungan terhadap minoritas, perlindungan negara, tugas warga negara, dan politik perdamaian.

Tidak jarang dalam berdiplomasi, Rasulullah menggunakan teknik yielding (mengalah) dalam bersepakat baik ketika beliau menjadi penengah maupun pada saat menjadi pihak yang berkonflik. Seringkali para sahabat nabi kecewa dengan keputusan yang diambil oleh rasulullah, karena dianggap merugikan kaum muslimin namun sesungguhnya teknik ini diambil oleh beliau karena keuntungan yang besar akan berpihak kepada kaum muslimin pada jangka panjang. Dalam bernegosiasi beliau mengedepankan logika objektif yang bervisi jauh ke depan.

Albert Einstein pernah berpesan bahwa suatu masalah tidak dapat diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama pada saat masalah tersebut terjadi. Di sinilah letak kecerdasan Rasulullah (Fathanah) yang dapat kita tiru. Menaikkan tingkat kecerdasan lebih tinggi dengan standar persoalan yang dihadapi dalam waktu singkat.

Peran sebagai diplomat dan ambbasador terekam dalam perjanjian Hudaibiyah. Di mana pada perjanjian ini merupakan pencapaian besar (achievement) bagi Islam dan bermanfaat bagi perkembangan Islam di masa depan. Keberhasilan ini tidak lepas dari Kemahiran Rasulullah SAW dalam menyelesaikan konflik atara pihak Quraisy dan kaum muslimin di Madinah dengan cara mengakomodir kedua belah pihak (problem solving). Di sisi kaum muslimin saat itu akan melaksanakan ibadah haji ke Kota Makkah namun pihak Quraisy menghawatirkan bahwa ummat Islam akan menyerang Kota Makkah. Setelah menjalani serangkaian diplomasi dengan mengutus para diplomat, di mana umat Islam diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun depan.

Tokoh adat Desa Songak, saat memimpin acara maulid adat sebelum melakukan ritual Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman di Masjid Kuno Desa Songak, Sabtu malam (6/9)
Tokoh adat Desa Songak, saat memimpin acara maulid adat sebelum melakukan ritual Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman di Masjid Kuno Desa Songak, Sabtu malam (6/9)

Peristiwa Hajar Aswad dan Solusi untuk Negeri

Tahun 605 Masehi dilakukan renovasi besar besaran terhadap kompleks Masjidilharam pascabanjir besar yang menerjang Kota Makkah. Pada saat momen pemasangan Hajar (batu) Aswad kembali pada dinding Kakbah, terjadi perselisihan antar para pemimpin suku Quraisy. Perselisihan tersebut tentang siapa yang pantas untuk meletakkan Hajar Aswad Kembali ke posisi semula. Semua merasa berhak namun tidak ada satupun yang ingin mengalah. Musyawarah mufakat yang disepakati saat itu adalah menunjuk orang yang pertama kali masuk ke Masjidilharam adalah orang yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad. Adalah Rasulullah SAW, orang yang pertama kali masuk ke dalam Masjidilharam dan tentunya menjadi orang yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke posisinya.

Menyadari posisi beliau adalah penengah dari suku suku kaum Quraisy, beliau mengedepankan equality (kesetaraan) dengan membentangkan kain. Di mana ujung kain tersebut dipegang oleh perwakilan/pimpinan suku masing masing yang kemudian diletakkan Hajar Aswad tersebut ke atas kain dan dibawa menuju Kakbah. Rasulullah kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut ke posisi pada dinding Kakbah.

Betapa sederhana solusi yang ditawarkan namun bisa menyelesaikan persoalan yang bisa berujung pertikaian hebat.

Dari beberapa kisah tersebut dapat dipetik hikmah bahwa Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat memiliki kiat-kiat dalam meminimalisir konflik dengan menawarkan solusi-solusi kreatif dan cerdas tanpa mengajarkan ataupun merendahkan pihak lain. Prinsip kesetaraan untuk kebersamaan dan kedamaian salah satu kunci sukses resolusi konflik ala Rasulullah SAW.

Semoga pemimpin di negeri ini dapat sungguh sungguh meneladani pola kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW dalam menciptakan keamanan, kedamaian dalam bingkai persatuan (Bhinneka Tunggal Ika). Tidak ada sesuatu persoalan yang tidak ada jalan keluarnya (QS. Al Insyirah 5-6).

Solusi sederhana yang dapat ditawarkan kepada pemimpin negeri, apabila negara hadir menjamin isi otak (pendidikan), isi perut (pangan) dan isi dompet (ekonomi/kesejahteraan) masyarakat, maka kami berkeyakinan bahwa negeri ini akan damai makmur dan sejahtera. Wallahua’lam Bissawab.

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad. (Dedy Harnanto, M. Sos ASN Pemerintah Kota Mataram)

Editor : Pujo Nugroho
#muhammad #rasulullah #maulid #umat #masyarakat #nabi #islam