Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

MotoGP Mandalika 2022–2025: Dari Event Jadi Mesin Pertumbuhan Pariwisata

Alfian Yusni • Senin, 6 Oktober 2025 | 10:35 WIB
Taufan Rahmadi : Analis Kebijakan Publik BA Center Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata
Taufan Rahmadi : Analis Kebijakan Publik BA Center Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata

LombokPost - Empat tahun perjalanan MotoGP di Mandalika telah melahirkan lebih dari sekadar tontonan olahraga.

Event balap akbar ini telah menjelma menjadi ekosistem pertumbuhan yang menghubungkan infrastruktur, ekonomi kreatif, UMKM, branding destinasi, hingga tata kelola keberlanjutan.

Mandalika bukan lagi “venue”, melainkan laboratorium nyata bagaimana sport tourism bertransformasi menjadi penggerak ekonomi daerah yang tangguh dan berkelanjutan.

A. 2022: Balap Pertama yang memantik kepercayaan

Edisi perdana MotoGP Mandalika tahun 2022 menandai momentum penting bagi Indonesia. Di bawah guyuran hujan tropis dan sorotan dunia, sirkuit ini bukan hanya melahirkan juara balapan, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia di peta world class circuit.

Sebanyak 102.801 penonton hadir selama tiga hari, dan 91,1% di antaranya datang dari luar Nusa Tenggara Barat (NTB) indikator kuat bahwa event ini sukses menjadi magnet wisata.

Dampak ekonominya pun langsung terasa: Rp3,57 triliun bagi NTB dan Rp4,5 triliun di level nasional (data ITDC). Dari hotel hingga warung kecil, semua merasakan denyut ekonomi baru.

B. 2023: Sport Tourism Makin Matang

Tahun kedua menjadi fase konsolidasi. Pemerintah melalui Kemenparekraf mencatat dampak ekonomi ke PDB nasional antara Rp3,59–4,30 triliun.

Di Lombok Tengah, aktivitas ekonomi pariwisata tumbuh 13,45% dan menyumbang 7,97% terhadap PDRB daerah.

Pola ini memperlihatkan bahwa manfaat ekonomi sudah mulai merata dan struktur penyerapan tenaga kerja semakin kuat.

 

Mandalika bukan lagi sekadar proyek kebanggaan, tetapi sudah menjadi mesin ekonomi yang menggerakkan berbagai lapisan masyarakat.

C. 2024: Ekonomi Berputar Lebih kencang, UMKM Naik Kelas

Edisi ketiga MotoGP Mandalika memperlihatkan peningkatan signifikan pada sektor ekonomi rakyat.

Sekitar 800 UMKM dilibatkan, mulai dari penyedia suvenir, kuliner lokal, hingga transportasi wisata. Sebanyak 2.750 tenaga kerja diserap sepanjang penyelenggaraan.

Estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp4,8 triliun, angka tertinggi sejak 2022.
Yang menarik, pola kemitraan antara panitia, pemerintah daerah, dan pelaku lokal semakin efisien.

MotoGP bukan lagi milik segelintir pihak, tetapi milik masyarakat Lombok yang kini mulai menikmati hasil nyata dari pariwisata berkelas dunia.

D. 2025: Okupansi 100%, Konektivitas ditingkatkan, dan Reputasi Global Menguat

Masuk tahun keempat, MotoGP Mandalika mencapai tingkat kematangan baru, dianggap sebagai Best Edition MotoGP selama ini.

Selama periode 3–5 Oktober 2025, okupansi hotel di kawasan Mandalika mencapai 100%, sementara Mataram dan sekitarnya menembus rata-rata 90–93%.

Maskapai menambah penerbangan untuk memenuhi lonjakan penumpang, mencerminkan kekuatan daya tarik event yang belum surut.

Para pengamat dan analis ekonomi memperkirakan perputaran ekonomi masih stabil di kisaran Rp4,8 triliun.

 

Namun nilai sejatinya tidak hanya pada angka, melainkan pada konsistensi: empat tahun berturut-turut Mandalika mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan reputasi internasional yang seimbang.

E. Dimensi Tata Kelola & Keberlanjutan: Kontribusi Dorna

Keberhasilan Mandalika juga tak lepas dari standar global yang diterapkan oleh Dorna Sports, pemegang hak komersial MotoGP.

Sejak 2022, Dorna telah menerapkan sertifikasi ISO 20121 untuk sustainable event management, dan secara rutin merilis laporan ESG (Environmental, Social, and Governance).

Melalui inisiatif seperti program #IndonesianGP Go To Schools (2025), para pelajar Lombok Tengah diundang untuk mengenal dunia balap, keselamatan jalan, dan karier otomotif.

Pendekatan ini memperluas makna MotoGP, bukan hanya hiburan, tetapi edukasi, pemberdayaan, dan goodwill sosial.

F. Mengapa MotoGP berdampak signifikan bagi Pariwisata Indonesia dan NTB?

1. Daya ungkit ekonomi yang konsisten.
Rentang dampak Rp3,6–4,8 triliun per edisi menjadi bukti resilience sport tourism sebagai sektor penggerak ekonomi daerah.

2. Lonjakan Okupansi & Konektivitas.
Tingkat hunian hotel yang mencapai 100% dan tambahan penerbangan menunjukkan efek sebar wisatawan yang nyata di Mandalika, Mataram, dan Senggigi.

3. Branding Destinasi Jangka Panjang.
Masuknya Mandalika dalam kalender resmi MotoGP memperkuat posisi Indonesia sebagai global tourism destination yang siap bersaing dengan Malaysia, UEA, Thailand, Qatar, atau Spanyol.

4. Tata kelola berkelanjutan.
Sertifikasi ISO dan komitmen ESG menjadikan Mandalika model penyelenggaraan event kelas dunia yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas.

 

G. Catatan Pamungkas: Dari Lintasan ke Visi Bangsa

Mandalika kini bukan sekadar sirkuit, tetapi simbol evolusi pariwisata Indonesia: dari event-based menjadi ecosystem-based growth.

Di lintasan sepanjang 4,31 kilometer itu, deru mesin telah berubah menjadi denyut ekonomi rakyat. Di setiap tikungan, ada cerita tentang kerja sama, keberanian, dan mimpi besar negeri ini.

Dalam visi Presiden Prabowo Subianto, pariwisata bukan hanya soal angka kunjungan, tetapi tentang kemandirian ekonomi bangsa, di mana destinasi seperti Mandalika menjadi pusat gravitasi pertumbuhan, inovasi, dan kebanggaan nasional.

Jika 2022 adalah bab kepercayaan, maka 2025 adalah bab kematangan. Dan dari Mandalika, Indonesia sedang menulis kisah baru: bagaimana sebuah ajang balap dunia bisa menjadi mesin pertumbuhan pariwisata yang berpacu menuju masa depan.

Karena di Mandalika, mesin tidak hanya berputar di lintasan, tetapi juga berputar di nadi bangsa. 

Taufan Rahmadi
Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata
Analis Kebijakan BA Center

Editor : Alfian Yusni
#MotoGP Mandalika #penggerak ekonomi daerah #sorotan dunia