LombokPost - Humans cannot live without traditions even though they often feel dissatisfied with their traditions (Manusia tak mampu hidup tanpa tradisi, meski mereka sering merasa tak puas terhadap tradisi mereka).
Pernyataan traumatik budaya dalam teori perubahan sosial Piotr Sztompka (sosiolog Polandia), ini tampaknya sedang terjadi dalam fenomena kebudayaan kita hari-hari ini.
Keinginan untuk merawat tradisi seringkali tersandera dengan realita kehidupan serba instan yang menawarkan berbagai macam kemudahan walaupun dengan menggadaikan adat dan tradisi bahkan etika.
Dampaknya, identitas genuine (asli) kita tergerus oleh arus deras globalisasi yang ditandai perkembangan teknologi dan informasi hingga merangsak masuk kedalam sendi kehidupan sosial budaya kita.
Ketidakpuasan terhadap tradisi yang dianggap belum sepenuhnya mampu menjawab kehendak zaman menjadi tantangan tersendiri dalam pelestariannya, hal ini diakibatkan oleh karena preservasi (pelestarian) dan transmisi (pewarisan) tradisi dan budaya mengalamai begitu banyak hambatan baik kebijakan pemerintah yang cenderung tidak sustainable (tidak berkelanjutan) dan ketidakmandirian sebagian masyarakat dalam merawat tradisinya.
Ditetapakannnya lima karya budaya asal NTB resmi sebagai warisan budaya nusantara tak benda (Intangable Heritage) tahun 2025 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam sidang penetapan Warisan Budaya Tak benda (WBTb) yang digelar di Jakarta, Rabu 8 Oktober 2025), adalah momentum untuk membangun kebersamaan seluruh element masyarakat NTB untuk kembali merevitalisasi tradisi budaya kaya nilai, khususnya memaknai dan “membudayakan” kekayaan budaya tak benda tersebut dalam perikehidupan sehari-hari.
Penetapan ini setidak tidaknya menjadi penyemangat dan bukti nyata bangkitnya kesadaran para pegiat seni budaya dan tradisi, bersama Pemprov NTB agar warisan leluhur tetap lestari dan Living (hidup) dan membudaya di masyarakat nusantara wabilkhusus di NTB.
Lima karya budaya yang ditetapkan tersebut adalah 1. Palopo dari Kabupaten Sumbawa Barat, 2. Baris Arug dari Lombok Barat, 3. Tari Oncer dari Lombok Tengah, 4. Bebubus Mangkung dari Lombok Timur, dan 5. Betetulak dari Kota Mataram. Tentunya ini barulah sebagian yang dapat diorganisir untuk diajukan diantara begitu banyak tradisi asli NTB yang lainnya.
1) Palopo, Kudapan tradisional menyerupai puding ini dibuat dari susu kerbau segar, gula aren, dan terong kuning sebagai pengental alami. Selain bernilai gizi, Palopo juga memiliki makna sosial karena disajikan dalam acara penyambutan tamu dan upacara adat.
Keterampilan tradisi ini tentu bersumber dari bahan utama yang mudah didapatkan di alam sekitar, air susu kerbau yang banyak ditemukan di pulau sumbawa berpadu dengan hasil hutan dan pertanian masyarakat setempat. Tradisi kudapan ini tak boleh berhenti pada hidangan penyambutan tamu dan upacara adat belaka dapat dilebarkan dan dibudayakan menjadi menu harian yang sehat dan hemat sekaligus sebagai teman bercengkerama dalam membangun kohesi sosial masyarakat maka palopo akan tetap lestari di bumi samawa dan menjadi slahsatu kekayaan Nusantara .
2) Baris Arug, seni pertunjukan rakyat dari Desa Longserang, Kecamatan Lingsar, ini memiliki gerak barisan yang energik diiringi musik jidor, tar, dan seruling. Baris Arug dipergelarkan dalam bentuk pawai jalan dan lainnya dengan mengenakan topeng dan membawa miniatur alat pertanian, hal ini mencerminkan harmoni manusia dengan alam serta semangat kerja kolektif masyarakat agraris. Arug dari kata “aru” yang berarti cepat, artinya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk tujuan yang produktif. Semangat kekompakan dan kedisiplinan ini adalah kebiasaan baik yang harus dibudayakan dan dapat menjadi bekal generasi kekinian untuk menata masa depan yang lebih optimis.
3) Tari Oncer, Diciptakan oleh seniman Lalu Muhammad Tahir di Desa Puyung pada tahun 1960, tari oncer terinspirasi dari gerak ikan sepat yang ngocer (lincah berenang). Tarian ini sebagai simbol hantaran para pahlawan dalam berjuang hal ini termanifestasi dalam koreo dasar yang menggambarkan keberangkatan ke medan laga, berupa gerkan pembuka pintu, sekaligus sebagai penyambutan ketika pulang dengan kemenangan diiringi dengan tetabuh Gendang Beleq (genderang besar) yang khas seakan mengalirkan semangat hidup masyarakat sasak yang tentunya harus terus dipelihara hingga generasi masa kini dengan cara kekinian. Tari Oncer adalah jenis tari yang relatif paling sering ditampilkan dalam even budaya, maka diharapkan intensitas ini pertanda bahwa tari ini kan tetap lestari dan membudaya.
4) Bebubus Mangkung, Tradisi pengobatan tradisional di Desa Jerowaru. Tradisi ini berbahan utama beras sengeh (harum) yang dicampur rempah dan bahan penyempurna lainnya. “Bubus” berarti obat mangkung merujuk satu desa, berbeda penyakit maka berbeda pula bubusnya, hal ini mengisyaratkan bahwa pengobatan dengan herbal (bahan alami) telah lama dikenal dan disesuaikan dengan ragam penyakit masa lalu, saat ini pengobatan alternatif berbasis herbal kembali marak, inilah momentum pembudayaan tradisi yang masih relevan dengan dunia medis kekinian.
5) Betetulak dari dua kata “bete” (mari) “tulak” (Kembali) sebuah ritus adat penyunyian kembali, baik prilaku agama maupun prilaku tradisi dengan harapan agar terhindar dari marabahaya (tolak bala) dalam bahasa agama ilaihi roji’un (kepadaNya jua Kita kembali) ritual ini telah berlangsung sejak masa Kerajaan Pejanggik abad ke-12 ini rutin dilaksanakan setiap awal Muharam. Prosesinya dalam mencakup doa bersama, macepat, begibung, serta pengembalian benda pusaka adat sebagai simbol doa keselamatan dan kerukunan sosial. Esensi tradisi ini begitu sangat penting terutama kaitannya dengan menjaga harmoni di tengah kemajemukan dan harmoni dengan semesta alam di tengah segala macam bentuk kerusakan alam yang telah mengakibatkan begitu banyak penderitaan.
Warisan budaya tak benda berupa tradisi, ekspresi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat, ritual, dan perayaan, pengetahuan dan praktik tentang alam dan semesta, keahlian tradisional dan lainnya begitu sangat kaya di negeri Nusantara kita, baik secara varian maupun nilai, makna serta fungsi-fungsinya, selain memperkuat Identitas ke Nusantaraan, juga menyemarakkan pariwisata yang berujung kepada peningkatan Kehidupan sosial dan budaya serta menggeliatnya ekonomi.
Warisan budaya tak benda dengan segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan, serta alat, benda, artefak, dan ruang budaya terkait yang ada di dalamnya akan memperkuat keunikan sekaligus menjadi bukti sejarah panjang bangsa ini. Adat dan ritualnya mencerminkan kepercayaan, nilai, dan norma masyarakat dari kelahiran, proses kehidupan hingga ke kematian.
Konsepsi dan konsesus kebudayaan Nusantara oleh para pegiat kebudayaan dengan sinergisitas pemerintah akan sangat membantu konsolidasi seluruh warisan yang tak ternilai harganya dan menjadi kapital dalam memupuk rasa nasionalisme melalui pembangunan karakter berbasis nilai-nilai budaya daerah. Hal ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi seluruh anak bangsa, agar bangga ber-Indonesia serta tetap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan suku ras tertentu, karena sejatinya seluruh keunikan budaya lokal adalah kekayaan nasional milik bersama.
Perkembangan informasi dan teknologi yang telah berhasil mengubah wajah dunia, sekaligus semakin mengaburkan batas antarbudaya serta mengubah cara berkomunikasi antarbudaya, yang secara langsung maupun tidak langsung menghadirkan percampuran budaya, namun dengan kecintaan mendalam terhadap budaya lokal dengan cara kolektif dan masiv serta membudayakan nilai -nilai kearifan tersebut dalam bentuk yang nyata, maka hal ini diharapkan akan mampu menangkal dampak negatif arus deras globalisasi tersebut.
Dalam konteks NTB, dengan dua hamparan pulau besar Lombok dan Sumbawa yang memiliki begitu banyak warisan budaya tak benda, selain memunculkan kebanggan atas diakuinya warisan budaya NTB oleh pemerintah pusat, tentu kewajiban bersama untuk melestarikan dan mewariskan budaya tersebut kepada anak cucu kita, dengan tetap tidak alergi dengan perkembangan peradaban dengan segala gejalanya, sebab peradaban baru telah melahirkan teknologi yang dapat menjadi media efektif transimisi, penyebarluasan hingga pembudayaan nilai-nilai adiluhung kearifan lokal. mengutif quote (Kata bijak) orang timur tengah Almuhafazoh ‘ala qodimissholeh wal’ akhzu biljadidil ashlah (marawat tradisi klasik yang baik dengan tetap mengambil tradisi kekinian yang lebih baik). Selamat membudayakan budaya tak benda kita.
Editor : Siti Aeny Maryam