Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sensus Ekonomi 2026: Mencatat Ekonomi Indonesia untuk Masa Depan yang Lebih Mandiri

Lombok Post Online • Senin, 20 Oktober 2025 | 12:37 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
LombokPost - Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk kembali mencatat denyut perekonomiannya melalui Sensus Ekonomi (SE2026).

Dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kegiatan ini akan mendata seluruh pelaku usaha non pertanian, dari pedagang kecil di pasar tradisional, pelaku industri kreatif, hingga perusahaan besar berskala nasional.

SE2026 tidak hanya sekadar mendata jumlah usaha, tetapi juga memberikan potret lengkap struktur perekonomian nasional dan regional.

Dari sini, pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat bisa membaca arah perkembangan ekonomi Indonesia. Tidak berlebihan bila dikatakan, SE2026 akan menjadi “kompas” pembangunan ekonomi sepuluh tahun ke depan.

Dengan tema “Mencatat Ekonomi Indonesia untuk Kemandirian Bangsa”, SE2026 hadir untuk memastikan seluruh potensi ekonomi bangsa terekam dengan baik. Sensus ini akan menjadi dasar perencanaan ekonomi nasional yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berbasis data yang terpercaya. Lantas, apa yang harus disiapkan?

Dari SE2016 ke SE2026: Meneruskan Catatan Sukses

Sensus Ekonomi terakhir yang dilakukan pada tahun 2016 mencatat lebih dari 590 ribu Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Jumlah ini mewakili lebih dari 90 persen tenaga kerja di NTB yang menggantungkan hidupnya pada UMK.

Angka tersebut menunjukkan bahwa UMK bukan hanya tulang punggung ekonomi daerah, tetapi juga pilar penting ketahanan ekonomi nasional. Meski beroperasi dengan skala kecil, UMK terbukti Tangguh dan berperan besar menjaga stabilitas ekonomi

Selain UMK, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran menjadi motor utama ekonomi NTB. Pada SE2016, sektor ini menyumbang 47,64 persen dari total unit usaha, diikuti oleh industri pengolahan sebesar 21,74 persen dan akomodasi serta penyediaan makan-minum sebesar 9,49 persen.

Menariknya, hasil SE2016 juga memperlihatkan bahwa sebagian besar pelaku usaha di NTB memiliki karakter kewirausahaan yang kuat dan berorientasi lokal. Sebagian besar UMK merupakan usaha keluarga yang dikelola secara mandiri, dengan kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan pendapatan rumah tangga.

Dengan fondasi ekonomi yang solid ini, SE2026 diharapkan dapat menangkap potret yang lebih luas, termasuk kemunculan pelaku ekonomi digital, industri kreatif, dan wirausaha muda yang kini tumbuh pesat di NTB. Melalui SE2026, seluruh pelaku usaha akan terdata secara lebih lengkap, modern, dan informatif, sehingga arah pembangunan ekonomi NTB ke depan dapat dirancang dengan lebih presisi dan berkelanjutan.

Ekonomi yang Tumbuh dari Potensi Lokal

NTB dikenal dengan potensi ekonominya yang beragam. Berdasarkan hasil SE2016, sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi besar dengan nilai tambah mencapai Rp25,37 triliun, didukung oleh aktivitas tambang bijih logam di Sumbawa Barat dan galian C di Lombok Barat serta Bima.

Sektor akomodasi dan penyediaan makan-minum tumbuh pesat seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Lombok dan Sumbawa. Pada 2016, tercatat lebih dari 56 ribu unit usaha jasa dan pariwisata aktif di NTB, sebagian besar berada di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat, yang menjadi pusat pertumbuhan destinasi wisata unggulan.

Selain itu, lapangan usaha konstruksi juga menunjukkan perkembangan signifikan. Meningkatnya pembangunan infrastruktur, hotel, dan fasilitas publik mendorong tumbuhnya permintaan tenaga kerja lokal. Di sisi lain, sektor industri pengolahan skala kecil seperti pengrajin, pengolah makanan, dan produsen kerajinan tangan menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi lokal yang menghubungkan produk tradisional NTB dengan pasar nasional bahkan internasional.

Kini, NTB berdiri sebagai provinsi yang ekonominya semakin beragam: kuat di sektor primer, kreatif di sektor sekunder, dan berkembang di sektor jasa. Dengan keunggulan ini, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan akan merekam lebih banyak kisah sukses pelaku usaha NTB, mulai dari UMKM lokal yang tumbuh dari dapur rumah, hingga perusahaan modern yang berkontribusi dalam perekonomian nasional.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Sensus Ekonomi 2026: Lebih Lengkap, Lebih Modern, Lebih Informatif

Melalui SE2026, BPS akan melakukan pendataan yang lebih luas dan mendalam dibandingkan sensus sebelumnya. Sensus ini mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, termasuk seluruh pelaku usaha dari skala mikro hingga besar di semua sektor, kecuali pertanian.

BPS juga memperkuat Statistics Business Register (SBR), direktori perusahaan nasional yang menjadi fondasi utama pendataan usaha. Dengan prinsip T3I (Terkini, Terbaru, Ter-update, dan Informatif), SBR memastikan bahwa setiap usaha yang beroperasi di Indonesia tercatat secara akurat.

Tak hanya itu, SE2026 juga mengintegrasikan pemanfaatan big data dan teknologi digital, menjadikannya sensus ekonomi paling modern dalam sejarah Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan pendataan usaha berbasis daring, termasuk pelaku ekonomi digital dan e-commerce yang kini tumbuh pesat di berbagai daerah.

Baca Juga: Sensus Pertanian 2023, Catat Jumlah Petani Milenial di NTB 30,37 Persen

Data untuk Semua, dari Kita untuk Indonesia

Partisipasi masyarakat menjadi kunci sukses Sensus Ekonomi 2026. Setiap pelaku usaha yang berpartisipasi bukan sekadar memberikan data, tetapi ikut menuliskan bab penting dalam sejarah ekonomi bangsa. Data yang terkumpul dari SE2026 akan menjadi pondasi utama kebijakan ekonomi nasional: mulai dari penyusunan strategi pemberdayaan UMKM, penguatan investasi daerah, hingga penciptaan lapangan kerja baru. Dengan semangat gotong royong, SE2026 mengajak seluruh pelaku usaha, dari penjual bakso keliling hingga pengusaha ekspor, untuk bersama-sama mencatat kemajuan Indonesia.

Bagi pelaku usaha, SE2026 menjadi jembatan menuju ekosistem bisnis yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Data yang terkumpul akan mendukung kebijakan yang lebih berpihak pada sektor riil, mendorong inovasi, serta memperkuat rantai pasok nasional. Sementara bagi masyarakat, SE2026 adalah wujud nyata kehadiran negara dalam mengakui dan menghargai setiap bentuk usaha, sekecil apa pun. Tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga pedagang kaki lima, pelaku ekonomi kreatif, hingga wirausaha muda yang berjualan secara daring, semua memiliki peran dalam membangun perekonomian Indonesia.

Melalui SE2026, pemerintah dan dunia usaha akan memperoleh gambaran utuh tentang struktur dan potensi ekonomi nasional.

Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk kembali mencatat denyut perekonomiannya melalui Sensus Ekonomi (SE2026).
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk kembali mencatat denyut perekonomiannya melalui Sensus Ekonomi (SE2026).

Data tersebut akan menjadi pijakan penting untuk memperkuat program pemberdayaan UMKM, memperluas akses pembiayaan, dan membuka peluang investasi baru di berbagai daerah. Mari kita bersama-sama sukseskan Sensus Ekonomi di tahun 2026 mendatang. (Hertina Yusnissa, BPS Provinsi NTB)

Editor : Siti Aeny Maryam
#BPS #nasional #regional #Ekonomi #Sensus