DI kelas saya, pada pelajaran Bahasa Indonesia menjelang Hari Ayah yang diperingati pada 12 November 2025, para siswa menulis surat untuk ayah mereka. Latihan sederhana itu ternyata berubah menjadi sebuah ruang sunyi yang sarat perasaan. Beberapa siswa menatap lama kertas kosong, beberapa menulis lalu menghapus, dan tidak sedikit yang diam-diam meneteskan air mata. Ada pula yang memilih tidak menulis, bukan karena enggan, tapi karena kata-kata tak lagi mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Dari kegiatan itu, saya menyadari sesuatu yang jarang muncul dalam percakapan kita tentang pendidikan, ayah bukan sekadar figur keluarga, melainkan salah satu penopang emosional yang diam-diam sangat berarti bagi perkembangan anak. Pada momen menjelang Hari Guru, yang diperingati pada 25 November, kita mendapat ruang refleksi bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang keluarga, terutama melalui kehadiran ayah yang sering bekerja dalam diam.
Fenomena Fatherless: Hadir Secara Fisik, Jauh Secara Emosional
Pengalaman sederhana di kelas itu membuat saya merenungkan satu hal yang lebih luas, bahwa posisi ayah dalam kehidupan anak sebenarnya lebih kompleks dari yang sering kita bayangkan. Dalam berbagai riset global, para peneliti mengidentifikasi meningkatnya fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika anak tumbuh tanpa dukungan ayah, baik secara fisik maupun emosional. Banyak ayah sesungguhnya tinggal di rumah, tetapi kehadiran emosionalnya tipis, tenggelam dalam tekanan pekerjaan, kelelahan setelah mencari nafkah, atau merasa bahwa pengasuhan sepenuhnya tanggung jawab ibu.
Indonesia memang tidak memiliki data resmi yang komprehensif, namun gejala sosial itu terasa jelas di ruang kelas. Tulisan-tulisan siswa saya mengungkap kerinduan yang nyaris tak pernah mereka ucapkan, kerinduan untuk ditemani, didengar, dan dirasakan keberadaannya.
Fenomena ini penting dibahas bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membuka pandangan bahwa keterlibatan ayah berkaitan erat dengan kesehatan mental, motivasi belajar, dan prestasi akademik anak.
Peran Ayah dalam Prestasi Akademik
Jika kehadiran ayah baik secara fisik maupun emosional semakin renggang, pertanyaannya kemudian adalah, "Apakah dampaknya bagi perkembangan anak, terutama dalam konteks pendidikan?” Sejumlah penelitian lintas negara menunjukkan bahwa anak dengan ayah yang terlibat aktif dalam keseharian—baik melalui percakapan rutin, pendampingan belajar, maupun kehadiran emosional—memiliki prestasi akademik lebih stabil. Mereka cenderung memiliki regulasi emosi lebih baik, kepercayaan diri lebih tinggi, serta kemampuan pemecahan masalah yang lebih matang.
Dari sudut pandang guru, saya melihat hal itu nyata. Siswa dengan hubungan hangat dengan ayahnya tidak selalu paling pintar, tetapi mereka kerap paling kukuh. Mereka tampak lebih tenang, lebih percaya diri, lebih berani bertanya, dan lebih siap menghadapi tekanan akademik. Mereka membawa rasa aman dari rumah ke sekolah, dan rasa aman adalah dasar dari segala proses belajar.
Read-Aloud dari Ayah: Tradisi Kecil, Dampak Besar
Di antara bentuk keterlibatan ayah yang sering diremehkan, read aloud atau membacakan cerita dengan suara lantang, adalah salah satu interaksi yang terbukti sangat berpengaruh. Riset menyebutkan bahwa keterlibatan ayah dalam read aloud memperkuat ikatan emosional, memperkaya kosakata anak, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan minat membaca.
Sayangnya, budaya membaca bersama sering dianggap sebagai “wilayah ibu”. Padahal suara ayah, dengan ritme, gaya bercerita, dan keluwesan khasnya, memberikan stimulasi linguistik dan emosional yang berbeda. Saya sendiri sebagai orang tua merasakannya. Momen membaca sebelum tidur, meskipun hanya lima belas menit, menghadirkan suasana tenang yang menyatukan dua dunia, dunia orang dewasa yang sibuk dan dunia anak yang penuh rasa ingin tahu.
Ketika Anak Beranjak Remaja
Ada mitos yang mengatakan bahwa mendampingi anak berhenti ketika anak sudah melewati kelas 6 SD. Juga ada anggapan bahwa kebutuhan untuk ditemani berkurang seiring anak memasuki usia remaja. Namun tulisan-tulisan siswa saya justru menunjukkan sebaliknya. Meskipun tubuh mereka tumbuh, kemampuan akademik berkembang, dan pemikirannya semakin dewasa, kerentanan emosional itu tetap ada.
Mereka merindukan kebersamaan, tetapi dalam bentuk yang baru, duduk di ruang tamu tanpa banyak bicara, ditemani saat belajar, atau sekadar mendengar ayah bercerita tentang hari-harinya. Hal-hal yang tampak kecil bagi orang dewasa, justru menjadi penguat identitas bagi remaja.
Sebagian siswa saya menulis tentang ketakutan mengecewakan ayahnya. Mereka ingin membanggakan keluarga, tetapi terkadang merasa standar tersebut berada di luar jangkauan. Di balik tulisan-tulisan itu, saya menangkap permintaan halus yang sama, “Semoga Ayah tahu bahwa saya berusaha. Meski saya tidak selalu hebat, saya ingin tetap diterima.”
Ayah dan Guru: Dua Lingkaran yang Saling Menguatkan
Menjelang Hari Guru, saya merasa penting untuk melihat peran ayah dalam konteks pendidikan. Guru hadir di sekolah untuk membimbing, menstimulasi, dan menumbuhkan potensi. Tetapi dukungan ayah, sering kali hadir dalam bentuk yang tidak spektakuler, menciptakan ruang aman yang membuat anak mampu berkembang.
Kegiatan menulis surat pada Hari Ayah di kelas memberi saya pelajaran yang tak terbantahkan bahwa banyak anak ingin berbicara, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya, banyak anak ingin dekat, tetapi menunggu ayahnya membuat langkah pertama.
Dalam dunia yang bergerak cepat, di mana peran keluarga semakin kompleks, mungkin kita hanya perlu mengingat satu hal sederhana, bagi anak-anak, kehadiran ayah dengan segala ketidaksempurnaannya adalah jangkar yang menjaga hati mereka tetap teguh.
Pada Hari Guru ini, semoga kita tidak hanya merayakan peran guru di sekolah, tetapi juga menghargai para ayah yang diam-diam ikut menjaga nyala semangat belajar anak-anaknya. Sebab, pada akhirnya, pendidikan adalah pertemuan dua lingkaran, sekolah dan keluarga. Pada irisan pertemuan lingkaran itulah anak tumbuh menemukan jati dirinya. (*)
*) Penulis: Danu Saputra, Guru MAN 1 Mataram
Editor : Rury Anjas Andita