Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menuju Paru Sehat 2026: Membuka Lembaran Baru dari Lombok yang Asri

M Islamuddin • Senin, 15 Desember 2025 | 10:13 WIB

dr. Gemilang KR, Sp.P
dr. Gemilang KR, Sp.P

 

Oleh: dr. Gemilang KR, Sp.P 

Spesialis Paru (Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi) Rsud Provinsi NTB/ Siloam Hospitals Mataram/ RS Universitas Mataram

 

SAAT pergantian tahun tiba, banyak di antara kita berbicara tentang resolusi baru—lebih rajin berolahraga, makan lebih sehat, atau lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga. Namun di balik semangat menyambut tahun 2026, ada satu hal yang sering terlupakan, padahal menjadi pondasi penting bagi setiap manusia: kesehatan paru-paru.

Sebagai daerah wisata unggulan, Lombok memiliki panorama alam menakjubkan, udara pegunungan yang segar, hamparan pantai yang memanjakan mata, dan keramahan masyarakatnya yang khas. Namun, di balik potensi wisata tersebut, ada tantangan besar yang perlu kita hadapi bersama: melindungi paru-paru dari ancaman penyakit dan polusi. Tahun 2026 menjadi momentum yang tepat untuk menata kembali gaya hidup dan lingkungan menuju “Paru Sehat 2026”—sebuah gerakan kolektif untuk menjaga udara dan napas tetap bersih bagi masyarakat dan para wisatawan.

Tantangan Kesehatan Paru di Lombok

Beberapa tahun terakhir, kasus tuberkulosis (TB) masih menjadi perhatian serius, tidak hanya di Lombok, tetapi di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia masih berada di jajaran negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Lombok, dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat sektor pariwisata, memiliki risiko penularan yang relevan. Aktivitas sosial di tempat ramai—pasar, terminal, tempat ibadah, maupun destinasi wisata—menjadi situasi di mana penularan Mycobacterium tuberculosis dapat terjadi apabila seseorang batuk atau bersin tanpa etika pernapasan yang baik.

Selain TB, paparan asap rokok dan polusi udara—baik dari kendaraan bermotor maupun pembakaran sampah—juga menjadi faktor yang memperburuk kesehatan paru. Banyak pasien datang ke klinik atau rumah sakit dengan keluhan sesak, batuk kronis, atau nyeri dada yang kemudian terbukti disebabkan oleh Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akibat kebiasaan merokok selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, asap dapur tanpa ventilasi memadai, terutama di wilayah pedesaan, juga memberi kontribusi signifikan terhadap gangguan fungsi paru, terutama pada ibu rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa masalah paru tidak hanya milik perokok, tetapi menyangkut semua lapisan masyarakat.

Wisata dan Udara Bersih: Dua Hal yang Harus Selaras

Dalam konteks Lombok sebagai destinasi wisata, kesehatan paru juga memiliki dimensi ekonomi dan sosial. Wisatawan yang datang ke pulau ini tentu mengharapkan udara bersih dan lingkungan sehat. Maka, menjaga kualitas udara berbanding lurus dengan menjaga reputasi Lombok sebagai wisata sehat dan berkelanjutan.

Upaya pemerintah daerah bersama komunitas lingkungan seperti program “Lombok Hijau” patut diapresiasi. Namun, program ini akan jauh lebih efektif jika masyarakat ikut terlibat aktif dengan langkah sederhana, seperti:

Mengurangi Pembakaran Sampah Terbuka

Menggunakan transportasi ramah lingkungan seperti bersepeda atau berjalan kaki untuk jarak dekat.

Menerapkan area bebas rokok di kawasan wisata, restoran, dan penginapan.

Menanam pohon di sekitar rumah dan area publik untuk membantu filtrasi udara alami.

Langkah-langkah kecil, jika dilakukan bersama, dapat menciptakan perubahan besar bagi kualitas udara Lombok.

Jauhkan Rokok, Dekatkan Pemeriksaan Rutin

Kebiasaan merokok masih menjadi penyebab utama berbagai penyakit paru kronis, termasuk kanker paru. Data klinis menunjukkan, hampir 9 dari 10 pasien kanker paru adalah perokok aktif atau bekas perokok. Mengurangi konsumsi rokok bahkan hanya satu batang per hari secara signifikan menurunkan risiko penyakit paru dalam jangka panjang.

Kepada masyarakat Lombok dan wisatawan yang berlibur di sini, mari jadikan 2026 sebagai tahun meninggalkan rokok. Bagi mereka yang sudah bertekad berhenti, konsultasi ke dokter paru dapat membantu menentukan strategi berhenti merokok yang efektif—baik melalui terapi pengganti nikotin, konseling perilaku, maupun dukungan keluarga.

Selain itu, penting untuk memeriksakan kesehatan paru secara rutin, minimal setahun sekali. Pemeriksaan sederhana seperti spirometri atau rontgen dada bisa mendeteksi masalah sejak dini, bahkan sebelum gejalanya dirasakan. Deteksi dini menjadi senjata paling ampuh untuk menurunkan kasus TB, PPOK, dan asma yang tak terkendali.

Mencegah Penularan TB: Dari Rumah ke Komunitas

Kunci utama mencegah tuberkulosis adalah mengenali gejala dini dan tidak menunda pemeriksaan. Batuk lebih dari dua minggu, disertai penurunan berat badan, keringat malam, atau demam ringan, harus segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dahak dan rontgen dada. Pemerintah telah menyediakan layanan deteksi dan pengobatan TB gratis di puskesmas dan rumah sakit.

Selain deteksi, etika batuk dan ventilasi rumah yang baik sangat penting. Membuka jendela setiap pagi agar sinar matahari masuk dan udara berganti secara alami merupakan cara sederhana namun sangat efektif untuk mencegah penularan kuman TB di rumah. Gunakan masker saat batuk, tutup mulut dengan tisu atau lengan bagian dalam, dan jangan meludah sembarangan di tempat umum.

Di tingkat komunitas, kampanye “Lombok Sehat Tanpa TB” perlu mendapat dukungan lintas sektor—dari tenaga kesehatan, guru, tokoh agama, hingga pelaku usaha wisata. Dengan edukasi berulang dan berbasis komunitas, pemahaman masyarakat tentang TB akan meningkat, stigma berkurang, dan angka putus berobat menurun.

Menuju Paru Sehat 2026: Ajakan Kolektif

Memasuki 2026, mari menanamkan visi “Lombok bebas asap dan bebas TB”. Visi ini bukan hanya milik tenaga medis, tetapi setiap keluarga, setiap pelaku wisata, dan setiap individu yang ingin menghirup udara bersih di masa depan. Menjaga paru berarti menjaga sumber kehidupan, karena dari paru, oksigen mengalir ke seluruh tubuh, memberi energi bagi otak dan jantung untuk bekerja sebagaimana mestinya.

Harapan tahun baru semestinya tidak berhenti pada niat, tetapi diwujudkan lewat tindakan nyata setiap hari:

- Hentikan kebiasaan merokok dan hindari asap rokok dari orang lain.

- Lakukan pemeriksaan kesehatan paru minimal setahun sekali.

- Terapkan etika batuk dan jaga ventilasi rumah yang baik.

- Dukung lingkungan bersih dan bebas polusi.

- Jadilah agen perubahan—mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga komunitas.

Dengan semangat tahun baru dan napas baru, mari bersama-sama membuka lembaran 2026 dengan tekad yang lebih kuat untuk melindungi paru-paru kita. Dari Lombok yang indah ini, mari kirim pesan ke seluruh Indonesia: udara bersih adalah hak setiap manusia, dan paru sehat adalah tanggung jawab bersama.

Selamat Tahun Baru 2026. Semoga setiap tarikan napas membawa kesehatan, harapan, dan kehidupan yang lebih baik.

Editor : Jelo Sangaji
#penyakit paru #dr Gemilang KR #paru -paru