Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Monster Nian Modern di Tahun Baru (Refleksi Akhir Tahun) Oleh: Hamzani Wathoni

Fatih Kudus Jaelani • Kamis, 1 Januari 2026 | 12:56 WIB

Hamzani Wathoni
Hamzani Wathoni
LombokPost - Setiap pergantian tahun seolah menjadi panggung massal(terompet ditiup, kembang api dinyalakan, hitung mundurditeriakkan) lalu media sosial dipenuhi resolusi dan refleksiyang bentuknya nyaris seragam. Tidak ada yang salah dengankegembiraan, manusia memang membutuhkan ritus untukmenandai waktu. Namun, ketika ritus berubah menjadikebiasaan latah, kita patut bertanya: apakah ini benar-benarperayaan makna, atau hanya repetisi simbol yang menenangkan sementara?

Kebiasaan meniup terompet misalnya, tampak remeh, sekadarbunyi yang meramaikan malam. Tetapi bunyi itu juga dapatdibaca sebagai metafora sosial yang mungkin saja bisadimaknakan ramai di permukaan, kosong di kedalaman. Terompet tidak menuntut perubahan, hanya menuntutmomentum. Ia memberi ilusiperistiwa besartanpa perlukerja besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat mudahterjebak pada tindakan yang digerakkan oleh norma kerumunan, kita melakukannya bukan karena memahami, melainkan karena semua orang melakukan. Kita takut terlihatberbeda atau kurang merayakan, sehingga memilih menirusebagai cara paling aman untuk tetap dianggap sebagai bagiandari kelompok.

Di titik inilah, kisah Monster Nian menjadi analogi yang tajam. Dalam legenda yang hidup di tradisi Tahun Baru Tionghoa, Nian adalah ancaman yang muncul berulang setiapmalam pergantian tahun, ia membuat orang panik, bersembunyi, dan kehilangan kendali. Warga tidak hanyatakut pada “monsternya, tetapi juga pada ketidakpastian yang ia bawa, datang rutin, mengguncang rasa aman, dan memaksaorang bereaksi. Lalu muncultradisisebagai strategi sosial: warna merah dan suara keras bukan sekadar hiasan, melainkan tanda bahwa warga memiliki cara bersama untukmelawan rasa takut. Tradisi, dalam kisah itu, bukan kosmetikbudaya, ia adalah teknologi sosial untuk mengubah kepanikanmenjadi kendali.

Jika dianalogikan hari ini, kita hidup di bawah ancaman yang tidak selalu berbentuk fisik, tetapi bekerja dengan mekanismeyang mirip Nian: arus global yang cepat (tren, kompetisi, tuntutan ekonomi) dan distraksi digital (notifikasi, doomscrolling, FOMO, informasi yang tak habis-habis) datang rutin, menyedot perhatian, dan membuat kita reaktif. Banyak orang akhirnya bersembunyi dalam bentuk lain,menunda dengan dalih kelelahan, cemas karenamembandingkan diri, ikut-ikutan demi validasi, atau sibuktanpa bergerak ke tujuan. Secara sosial, pola ini berbahayakarena melahirkan konformitas, kita mengikuti tanda-tandaperubahan tanpa memasuki substansi perubahan.

Tidak jarang, latahnya perayaan tahun baru bertemu denganlatahnya resolusi. Kita menyusun daftar target yang terdengarindah tetapi tidak operasional (lebih baik, lebih sabar, lebihproduktif, lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih Bahagia). Kalimat-kalimat ini tidak keliru, tetapi berisiko menjadislogan jika tidak disertai perangkat yang membuatnya bisadikerjakan dan dievaluasi. Akibatnya, resolusi sering berubahmenjadi kosmetik moral terlihat bertumbuh, padahal hanyamengganti kemasan. Esok hari setelah euforia mereda, kehidupan kembali pada arus lama dimana kita kembalireaktif, kembali menunda, kembali menyalahkan keadaan, dan kembali menyimpan niat baik sebagai pengganti disiplin.

Yang lebih problematis, refleksi yang seharusnya kritis justrumenjadi mimikri. Kita meniru format refleksi yang popular,rangkuman pencapaian, daftar kegagalan, dan kata-kata penutup yang penuh afirmasi. Padahal refleksi yang bermutubukan etalase emosi, melainkan proses penalaran, mengapasaya mengambil keputusan ini? faktor sosial apa yang membentuk pilihan saya? struktur apa yang menghambat ataumemfasilitasi? nilai apa yang saya kompromikan, dan apakonsekuensinya bagi orang lain? Tanpa pertanyaan-pertanyaan semacam ini, refleksi menjadi ritual naratif,menulis untuk terlihat sadar diri, bukan untuk benar-benarmengubah diri.

Di sinilah pelajaran dari kisah Nian menjadi relevan dan jikakita jujur, sangat modern. Warga mengalahkan Nian bukandengan kepanikan, tetapi dengan tradisi yang sengajadibangun: kebiasaan kolektif yang memberi batas, arah, dan keberanian. Bedanya, merah dan petasan masa kini tidakharus berupa hiasan dan bunyi, melainkan tradisi yang berorientasi keilmuan, tradisi yang membentuk nalar, menatafokus, dan memproduksi dampak.

Merah, dalam konteks kita, dapat dimaknai sebagaikomitmen pada nilai dan identitas ilmiah seperti budayamembaca, menulis, diskusi berbasis data, berpikir kritis, dan etika akademik. Merah adalah warna yang menandai bahwakita tidak mudah terseret arus tren, kita punya pijakanepistemik. Ia mengingatkan bahwa ilmu bukan aksesori, melainkan cara hidup: menyaring klaim, menguji asumsi, dan membangun argumen yang bertanggung jawab.

Suara keras, bukan lagi petasan, dapat berupa ritual pemicufocus, forum ilmiah rutin, presentasi mingguan, seminar, bedah buku, publikasi, atau “deadline” bersama. Ini bukansekadar kesibukan institusional, melainkan sinyal sosial yang lebih kuat daripada kebisingan distraksi. Ia memecahdoomscrolling denganbunyi” yang lebih bermakna: tanggung jawab, akuntabilitas, dan kemajuan yang dapatdilacak.

Kertas merah, sebagai simbol yang ditaruh dan diwariskan, dapat berupa jejak pengetahuan seperti catatan riset, rangkuman bacaan, agenda belajar, roadmap proyek, log refleksi, atau rencana kerja yang ditinjau berkala. Kertasmerah adalah bukti bahwa kita membangun sistem, bukansekadar niat. Ia membedakan antara ingin berubah dan sedangmenjalankan perubahan.

Dengan kerangka ini, kritik terhadap kebiasaan meniupterompet (dan simbol-simbol latah lainnya) menjadi lebihjelas, masalahnya bukan pada terompet sebagai benda, melainkan pada mentalitas yang menganggap suara kerassebagai pengganti kerja sunyi. Kerja sunyi itu bernamakonsistensi; menyusun langkah kecil yang terukur, mengurangi kebisingan yang tidak perlu, menundakesenangan yang tidak menambah kualitas hidup, sertamenata ulang prioritas dengan sadar. Masyarakat yang sehattidak anti-perayaan, masyarakat yang sehat hanyamenempatkan perayaan sebagai jeda, bukan sebagai tujuan.

Pada akhirnya, “Monster Nian” modern tidak dikalahkandengan menutup diri dari dunia, melainkan denganmenciptakan tradisi yang membuat kita lebih berilmu, lebihsadar, dan lebih terarah. Sehingga setiap Malam Tahun Barusebagai momen evaluasi dan awal baru, menjadi kesempatanmenyaring arus global, meredam distraksi digital, dan melangkah dengan pijakan pengetahuan. Sebab kualitas hiduptidak ditentukan oleh seberapa meriah kita merayakan, tetapiseberapa konsisten kita memperbaiki. Dan ketika kitamenutup tahun tanpa lagi bersembunyi, tanpa lagi latah, tanpalagi sibuk yang tak berujung, biarlah kalimat ini menjadicermin yang hening namun tegas: siapa yang hari ini samadengan hari kemarin, ia merugi

(مَنْ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ)

 

(Hamzani Wathoni lahir di Lombok Timur, 30 Maret 1985. Lulusan Universitas Hamzanwadi pada tahun 2010. Tahun 2012 ia melanjutkan studi magister di Universitas Flinders, Australia dengan Beasiswa Australia Awards. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Flinders dengan dukungan Beasiswa LPDP. Buku pertamanya berjudul A Dad’s Notes (Madani Berkah Abadi, 2025).

Editor : Siti Aeny Maryam
#Monster Nian #refleksi #tahun baru #resolusi #Kembang Api