Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mandalika Tumbuh Pesat, Apakah Arsitek Kita Sudah Siap?

Yuyun Kutari • Kamis, 23 April 2026 | 21:12 WIB
Ketua Program Studi Arsitektur Unram Dr. Rini S. Saptaningtyas. (IST/LOMBOK POST)
Ketua Program Studi Arsitektur Unram Dr. Rini S. Saptaningtyas. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Pembangunan kawasan pariwisata di NTB, khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan sumber daya manusia (SDM)-nya. 

Event internasional, investasi besar, dan proyek-proyek strategis terus bermunculan. Namun, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: apakah kita sudah menyiapkan arsitek yang benar-benar siap menjawab kompleksitas pembangunan tersebut?

Baca Juga: Pembayaran QRIS Diterapkan di Pasar Kuta Mandalika

Selama ini, pendidikan arsitektur kerap berjalan dalam ruang akademik yang relatif nyaman, tetapi kurang bersentuhan langsung dengan dinamika dunia praktik.

Lulusan tidak sedikit yang unggul dalam konsep, namun gagap ketika berhadapan dengan realitas proyek—mulai dari standar gambar kerja, koordinasi lintas disiplin, hingga tekanan waktu dan biaya di lapangan.

Di sinilah pentingnya keberanian untuk mengevaluasi kurikulum secara serius. Bukan sekadar menyesuaikan mata kuliah, tetapi melakukan rekonstruksi cara berpikir dalam pendidikan arsitektur itu sendiri.

Langkah ini mulai terlihat di Program Studi Arsitektur Universitas Mataram. Di bawah kepemimpinan Dr. Rini S. Saptaningtyas, upaya rekonstruksi kurikulum dilakukan dengan membuka ruang dialog bersama berbagai pemangku kepentingan.

Melalui forum diskusi yang melibatkan pemerintah, praktisi, hingga pengembang kawasan seperti ITDC Mandalika, arah pendidikan mulai dihadapkan langsung pada kebutuhan riil di lapangan.

Baca Juga: Sirkuit Mandalika Bersiap Sambut "Kartini" Lintasan

Pendekatan ini penting, karena dunia arsitektur hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia berada di persimpangan antara ekonomi, lingkungan, budaya, dan teknologi. Oleh karena itu, kurikulum tidak bisa hanya berisi teori dan studio desain, tetapi harus mencerminkan kompleksitas tersebut.

Rekomendasi dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) yang menekankan, porsi besar pada mata kuliah studio sebenarnya bukan sekadar soal jumlah SKS.

Lebih dari itu, studio harus menjadi ruang simulasi nyata dunia praktik—tempat mahasiswa belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan memahami konsekuensi desain secara komprehensif.

Namun demikian, ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, pendidikan arsitektur berisiko kehilangan pijakan lokalnya.

Padahal, konteks NTB dengan kekayaan budaya dan lanskapnya justru menawarkan peluang besar untuk pengembangan arsitektur yang khas dan berkelanjutan.

Keseimbangan antara kearifan lokal dan penguasaan teknologi menjadi kunci. Tanpa pemahaman konteks lokal, arsitektur akan kehilangan identitasnya. Sebaliknya, tanpa penguasaan teknologi, lulusan akan tertinggal dalam persaingan profesional.

Momentum rekonstruksi kurikulum ini seharusnya tidak berhenti sebagai agenda internal kampus. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari strategi besar daerah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola pembangunan secara berkelanjutan.

Baca Juga: KEK Mandalika Makin Diminati Investor, Pemkab Lombok Tengah Perkuat Regulasi Investasi

Jika Mandalika ingin benar-benar menjadi destinasi kelas dunia, maka yang dibangun tidak hanya infrastruktur fisik, tetapi juga kapasitas manusianya. Dalam hal ini, arsitek memegang peran penting—bukan hanya sebagai perancang bangunan, tetapi sebagai aktor yang menentukan kualitas ruang hidup masyarakat.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita akan terus membiarkan kesenjangan antara pendidikan dan praktik, atau mulai berani mengubahnya?

Tanpa perubahan serius dalam pendidikan, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. (*)

Editor : Akbar Sirinawa
#arsitektur #pendidikan #Mandalika #NTB #ITDC