LombokPost - Ada masanya ketika senja berlabuh di ufuk Lombok dan Sumbawa, udara tidak hanya dipenuhi oleh aroma tanah yang basah atau debur ombak, melainkan oleh riak suara anak-anak mengaji dari surau ke surau.
Tradisi tilawatil Quran bukan sekadar aktivitas ibadah; ia adalah detak jantung kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari gemerisik daun kelapa di pesisir hingga kaki gunung yang dingin, ayat-ayat suci dialunkan sebagai pelipur lara sekaligus penuntun arah pulang.
Namun, zaman bergerak cepat. Modernisasi, digitalisasi, dan pergeseran ruang sosial perlahan-lahan mulai mengancam eksistensi suara senja tersebut. Surau-surau mulai sepi, tergantikan oleh bising gawai dan budaya pop yang acapkali tercerabut dari akar nilai lokal.
Baca Juga: Membumikan Ecotheology: Catatan Aktual dari Majelis VIII KTIQ pada MTQ XXXI NTB
Ketika Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mendeklarasikan kebangkitan kembali tradisi ini dan mencanangkan visi menjadikan NTB sebagai "Serambi Alquran" Indonesia, kita sedang menyaksikan sebuah lompatan spiritual yang berani sekaligus sebuah upaya rekayasa kebudayaan (cultural engineering) yang mendasar. Namun, benarkah ini hanya soal spanduk, mimbar, ceremonial birokrasi, dan panggung megah Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ)?
Jika kita bedah lebih dalam, ada benang merah filosofis yang sangat kuat yang menghubungkan antara kesalehan spiritual dengan visi kesejahteraan sekuler dalam narasi "Masmirah Mendunia, Menebar Rahmatan Lil Alamin" menuju NTB Makmur Mendunia.
Ini adalah sebuah antitesis terhadap anggapan modern bahwa kemajuan materi harus dibayar mahal dengan kebangkrutan moral.
1. "Masmirah Mendunia": Metamorfosis Jiwa dan Identitas Lokal
Kata Masmirah untaian emas dan permata dalam tradisi Sasak-Samawa-Mbojo bukan sekadar perhiasan fisik yang dipamerkan di dada para bangsawan. Ia adalah simbol pemurnian metafisik. Permata tidak lahir langsung berkilau; ia adalah sebongkah karbon yang dibakar oleh tekanan bumi yang ekstrem, dihantam oleh panas magma, dan ditempa oleh waktu ribuan tahun hingga menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya.
Memadukan Masmirah dengan semangat Tilawatil Qur'an adalah sebuah tamsil yang sangat indah sekaligus profetik. Alquran dalam konteks ini diposisikan sebagai laboratorium pembentuk karakter (character building) manusia NTB. Ketika tradisi mengaji dibangkitkan dari level keluarga hingga tingkat kebijakan daerah, yang sedang ditempa sebenarnya adalah kualitas manusia kita manusia yang jujur, tangguh, memiliki daya tahan, dan berintegritas tinggi.
Inilah modal utama untuk "Mendunia". Kita tidak bisa menaklukkan panggung global jika kita kehilangan akar lokal. Globalisasi tanpa akar budaya hanya akan menjadikan masyarakat NTB sebagai konsumen kebudayaan barat atau timur asing, bukan pemain utama. Masmirah Mendunia adalah sebuah maklumat kebudayaan bahwa NTB siap bersaing di kancah internasional baik di sektor pariwisata, investasi, maupun pendidikan tanpa harus menanggalkan jubah spiritualitasnya. Kita ingin dunia mengenal NTB bukan karena kita pandai meniru mereka, tetapi karena kita menawarkan sesuatu yang berharga yang tidak mereka miliki: kedalaman jiwa.
2. "Serambi Alquran" dan Kosmopolitanisme Islam
Menjadikan NTB sebagai "Serambi Alquran" bukan berarti kita sedang membangun tembok eksklusivisme atau menarik diri ke dalam tempurung chauvinisme agama. Sebaliknya, Alquran yang digaungkan dalam manifesto pembangunan kali ini membawa misi agung: Rahmatan Lil Alamin—rahmat bagi semesta alam, melintasi batas-batas suku, ras, bahkan keyakinan.
Secara filosofis, ini adalah manifestasi dari Islam yang inklusif, ramah, teduh, dan solutif terhadap tantangan zaman. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam klasik di Andalusia atau Baghdad mampu memimpin dunia justru karena mereka mengintegrasikan wahyu dengan ilmu pengetahuan. NTB ingin mereplikasi semangat tersebut.
Dari bilik-bilik pesantren yang tersebar di kaki Rinjani hingga madrasah-madrasah di bawah bayang-bayang Tambora, harus lahir generasi Kosmopolitan Islam. Yaitu generasi yang fasih dan syahdu melantunkan ayat suci di sepertiga malam, sekaligus fasih berbicara tentang: algoritma dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), ekonomi hijau (green economy) dan mitigasi perubahan iklim, serta diplomasi internasional dan perdamaian global.
"Serambi Alquran" tidak boleh mandek pada urusan tajwid dan fasohah di atas panggung MTQ, melainkan harus bertransformasi menjadi episentrum energi positif yang memancarkan etos kerja, tradisi literasi, dan kedamaian ke seluruh penjuru bumi.
3. Korelasi Nyata: Mengapa "Ngaji" Bisa Bikin NTB "Makmur"?
Bagi sebagian kalangan skeptis dan berpikiran positivistik-materialis, mungkin akan muncul pertanyaan kritis: Apa hubungannya melantunkan ayat suci secara berulang-ulang dengan pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan, atau peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Jawabannya terletak pada konsep yang dalam ilmu sosiologi ekonomi disebut sebagai Kapital Spiritual (Spiritual Capital). Ekonomi yang maju pesat tanpa fondasi moral yang kuat terbukti hanya akan melahirkan ketimpangan sosial yang menganga, keserakahan korporasi, dan kerusakan alam yang masif (ecological disaster).
Visi NTB Makmur Mendunia membutuhkan manusia-manusia yang sudah "selesai" dengan moralitas pribadinya.
Mari kita bedah korelasi nyata tersebut dalam dua sektor strategis NTB:
A. Pariwisata Ramah dan Berkah
Sebagai salah satu episentrum destinasi wisata dunia dengan magnet KEK Mandalika, keelokan Gili Matra, hingga eksotisme Samota, NTB berada di pusaran arus budaya global. Di sinilah interaksi antar-peradaban terjadi setiap detik. Tanpa tameng budaya yang kokoh, kemajuan ekonomi pariwisata berisiko menggerus moralitas publik dan melahirkan patologi sosial.
Karakter Alquran yang mewujud dalam diri masyarakat akan menjamin lahirnya hospitality (keramahan) yang tulus, kejujuran dalam berniaga (tidak melakukan scamming atau pemerasan harga terhadap turis), serta rasa aman yang mutlak. Wisatawan dunia tidak hanya mencari pemandangan indah—karena laut yang indah ada di banyak belahan dunia tetapi mereka mencari ketenangan jiwa yang lahir dari masyarakat yang religius dan toleran.
B. Keberkahan Ekonomi dan Ekosistem Investasi
Dalam teologi pembangunan Islam, kemakmuran (falah) bukanlah sekadar tumpukan angka PDRB, melainkan dampak langsung dari terciptanya harmoni. Harmoni vertikal (manusia dengan Tuhan) akan melahirkan harmoni horizontal (manusia dengan sesama dan alam).
Hukum Alam Sosial: Ketika tradisi mengaji membumi dan dihayati, ia secara psikologis menekan angka kriminalitas, menurunkan angka pernikahan anak di bawah umur, memupuk kembali semangat gotong-royong (saling beriri), dan menumbuhkan etos kerja yang jujur.
Daerah yang aman, stabil secara sosial, dan memiliki birokrasi yang bersih (karena takut kepada Tuhan) adalah surga bagi investasi yang berkah. Investor tidak akan ragu menanamkan modalnya di tempat di mana hukum dihormati dan masyarakatnya memiliki integritas moral.
Penutup: Menjemput Takdir Baru NTB
Deklarasi yang dicetuskan oleh Lalu Muhamad Iqbal bukanlah sebuah romantisasi masa lalu yang utopis, bukan pula sekadar strategi elektoral atau jargon politik musiman. Ini adalah sebuah Strategi Kebudayaan jangka panjang untuk menjemput masa depan NTB yang bermartabat.
NTB sedang mendefinisikan ulang identitas dirinya di hadapan dunia. Kita tidak ingin lagi hanya dikenal secara permukaan: sebagai daerah bertarif internasional karena memiliki sirkuit balap yang megah, atau daerah tropis yang sekadar indah lanskapnya. Kita ingin dunia melihat bahwa di balik kemegahan fisik tersebut, NTB memiliki kedalaman jiwa, karakter manusia yang kuat, dan peradaban yang berakar pada wahyu ilahi.
Ketika Alquran tidak lagi sekadar menjadi pajangan di lemari, melainkan menjadi napas dalam merumuskan kebijakan birokrasi, urat nadi dalam kehidupan bermasyarakat, dan penerang di ruang-ruang kelas, maka untaian Masmirah itu akan benar-benar memancarkan kilaunya yang sejati.
Di titik itulah, visi NTB Makmur Mendunia akan menjelma dari sekadar kalimat di atas kertas visi-misi, menjadi sebuah takdir sejarah yang kita jemput dan menangkan bersama. Sebuah potret ideal dari sebuah peradaban: di mana kemakmuran material dan kemuliaan spiritual tumbuh subur, berdampingan, dan saling menguatkan di atas tanah berkat NTB.
Editor : Redaksi Lombok Post Online