Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjaga "Hutan" Gili Air: (Konservasi Bukan Sekadar Menanam Karang, Melainkan Merawat Fondasi Kehidupan Samudra)

Redaksi • Rabu, 24 Juni 2026 | 13:39 WIB
OPINI
OPINI

LombokPost - Ketika mendengar kata “konservasi laut”, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan kegiatan menanam terumbu karang di dasar laut.

Saya pun sempat beranggapan yang kurang lebih sama sebelum terjun ke lapangan.

Cara pandang saya berubah total setelah mengikuti Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Indo Coral Conservation, sebuah yayasan nirlaba di Gili Air, Lombok Utara.

Baca Juga: Merawat Rumah Ikan Teluk Ekas, Anak-anak dan Warga Belajar Menjaga Laut dari Restorasi Terumbu Karang

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa konservasi laut ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menanam karang.

Selama menjalani program magang, saya diajak untuk mengenal kehidupan bawah laut secara lebih dekat.

Mulai dari penyu, ikan karang, terumbu karang, hingga berbagai hewan tak bertulang belakang atau marine invertebrate yang hidup di dalam ekosistem tersebut.

 Baca Juga: Bhayangkari Polda NTB Tanam 60 Jaring Terumbu Karang di Gili Sudak

Mengenal Penghuni Samudra

Bagi saya, salah satu pengalaman yang paling menarik selama magang adalah mempelajari berbagai jenis biota laut secara langsung di habitat asli mereka. Tidak hanya belajar melalui buku atau materi di dalam ruang kelas perkuliahan.

Saya berkesempatan mengamati dan mengenali karakteristik setiap organisme yang ditemui selama kegiatan lapangan. Pada kelompok penyu, saya mempelajari jenis-jenis penyu yang dapat dijumpai di perairan Indonesia dan persebarannya.

Baca Juga: Cara Bhayangkari NTB Menanam Masa Depan di Sigar Penjalin, Memulihkan Terumbu Karang yang Luka untuk Wariskan Laut Sehat

Saya juga belajar mengenai berbagai hal yang tidak boleh dilakukan ketika berinteraksi dengan satwa yang dilindungi tersebut. Termasuk bagaimana mengidentifikasi penyu berdasarkan ciri-ciri fisik yang dimilikinya.

Tidak hanya penyu, pengenalan terhadap ikan karang juga menjadi bagian yang tidak kalah menarik. Banyaknya spesies ikan dengan bentuk dan warna yang beragam sempat membuat saya kesulitan untuk membedakan satu jenis dengan jenis lainnya.

Akan tetapi, melalui pengamatan yang dilakukan secara berulang, perlahan saya mulai memahami karakteristik berbagai ikan karang. Saya juga mulai mengetahui beberapa spesies yang memiliki peranan penting sehingga tidak boleh ditangkap.

Merawat "Pohon" di Dasar Laut

Terumbu karang sering disebut sebagai “hutan hujan tropis” di lautan karena menjadi rumah bagi ribuan organisme laut. Namun, mengenali komponen pembentuk hutan ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Berbagai genus karang memiliki bentuk pertumbuhan yang berbeda-beda. Selain mempelajari karakteristik fisiknya, saya juga belajar mengenai fenomena pemutihan karang (coral bleaching), mulai dari faktor penyebab hingga dampaknya terhadap ekosistem secara keseluruhan.

Pemahaman tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa terumbu karang bukan sekadar batu mati di dasar laut. Layaknya pohon di daratan, terumbu karang menjadi penopang utama kehidupan bagi banyak organisme yang hidup di sekitarnya.

Pengetahuan mengenai ekosistem laut tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan rehabilitasi dan transplantasi karang. Bersama tim Indo Coral Conservation, saya terlibat langsung dalam perakitan struktur rangka besi berbentuk jaring laba-laba (substrate reef/spider web) sebagai media rekayasa substrat tempat fragmen karang baru dikunci dan ditumbuhkan. Struktur ini berfungsi vital untuk menstabilkan pecahan karang mati (rubble) di dasar laut agar tidak bergerak terbawa arus dan merusak tunas-tunas karang yang baru tumbuh.

Kedua, kami menerapkan metode meja (table method) yang memanfaatkan struktur beton semen memanjang sebagai media tempel. Prosesnya menjadi tantangan tersendiri, dimana kami harus membawa adonan semen khusus ke bawah air dan merekatkan fragmen karang satu per satu langsung di dasar laut.

Langkah restorasi fisik ini memiliki urgensi yang sangat krusial. Perlu diingat bahwa Gili Air merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Gili Matra yang menjadi motor penggerak pariwisata utama di NTB. Kawasan ini sekaligus menjadi salah satu jantung pariwisata bahari internasional kebanggaan daerah. Dengan demikian, upaya menjaga kelestarian terumbu karang di sana sama saja dengan melindungi aset ekonomi pariwisata daerah. Keindahan bawah samudra yang terjaga berbanding lurus dengan keberlangsungan roda ekonomi masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sektor bahari.

Melalui kegiatan tersebut, saya memahami bahwa konservasi bukanlah pekerjaan instan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Menanam karang hanyalah awal kecil dari sebuah proses pemulihan alam yang teramat panjang. Dibutuhkan pemantauan secara berkala, ketelitian tingkat tinggi, serta komitmen yang berkelanjutan agar karang yang ditransplantasikan dapat tumbuh dengan baik.

Program MBKM ini tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga mengubah cara pandang saya terhadap laut. Dari yang awalnya hanya mengenal laut sebagai hamparan biru yang indah, saya mulai memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Setiap penyu, ikan karang, terumbu karang, dan organisme kecil lainnya memiliki peran yang saling bertautan. Konservasi bukan sekadar tentang menanam karang, melainkan tentang memahami dan menjaga kehidupan yang bergantung pada “pohon-pohon laut” tersebut agar tetap lestari bagi generasi mendatang. (Haikal Akhmad Zaidan (Mahasiswa Ilmu Kelautan Unram); Chandrika Eka Larasati, S.Pi., M.Si. (Dosen Pembimbing MBKM, Prodi Ilmu Kelautan, Unram); dan Daniel Setiawan, S.Kel. (Pembimbing Lapangan Indo Coral Conservation))

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#konervasi #Gili Air #ekosistem #MBKM #Terumbu Karang