Messi, Mohan dan Seni Memimpin dari Hati

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 02:25 WIB
M.Ramadhani
M.Ramadhani

LombokPost - Ahad, 19 Juli 2026, 04.30 wita, sekitar 22 Jam menuju Partai Final World Cup 2026. Saat ketika membuka laptop untuk memulai tulisan ini adalah pada saat penulis menanti kick off partai puncak World Cup 2026: Argentina versus Spanyol. Sebuah Final ideal. Semua orang sibuk dengan analisisnya masing masing. Bagi yang jagoannya sudah gugur, sabagai pengalihannya kemungkinan yang penting bukan Argentina. Saatnya Messi anti klimak. Bagi pendukung Argentina dari awal, tentu sangat berharap ini menjadi legacy terbaik bagi Messi di ajang World Cup terakhirnya. 

Memang agak dilematis, apakah menulis sambil berkeyakinan dengan insting dan yakin Argentina dengan Lionel Messi yang akan mengangkat Trophy juara atau harus menunggu hasil pertandingan. Semua ada plus minusnya, ada resikonya. Tapi ide dan momentum kadang tidak datang berulang kali. Bagi penulis, mengambil kesimpulan tentang seorang Messi dari satu pertandingan tentu tidak fair. Dari sekian 207 cap nya bersama Argentina dan perannya sejauh ini terhadap tim dengan 125 gol, 18 gol diantaranya di ajang World Cup. Akhirnya penulis mengambil keputusan: Argentina juara atau tidak, Messi tersenyum atau menangis di Senin pagi esok, Messi tetaplah seorang Pahlawan bagi timnas Argentina, bahkan disebut dalam tulisan sebelumnya, Messi adalah Pemimpin setengah Dewa untuk semua rakyat Argentina dalam konteks Sepakbola. 

Pada saat yang hampir bersamaan, penulis sedang mengedit rilis sebuah berita. Bahwa Walikota Mataram, diundang untuk meraih penghargaan yang tidak disangka-sangka sebelumnya. H. Mohan Roliskana (selanjutnya penulis singkat dengan Mohan), menerima Indonesian Public Service Excellence Award (IPSEA) 2026 yang diselenggarakan Seven Media Asia di Platinum Hotel Jimbaran Beach, Bali, Jumat (17/7/2026). Pada ajang tersebut, Mohan meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Best Regional Leader for Public Service Excellence, Creative Finance, and Cultural Advancement serta Excellence in Creative Fiscal Management, Cultural Advancement, and Integrated Public Service. Penghargaan tersebut bukan diberikan karena satu program yang populer atau satu inovasi yang viral. Dewan juri melakukan penilaian secara menyeluruh melalui rekam jejak kepemimpinan, inovasi pelayanan publik, transformasi digital, pengelolaan fiskal, pemberitaan media massa, hingga persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan pemerintah daerah. Dalam keterangan resminya, penyelenggara menyebutkan bahwa IPSEA dirancang sebagai bentuk apresiasi kepada kepala daerah yang mampu membangun pelayanan publik secara berkelanjutan melalui kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang adaptif, dan inovasi yang berdampak nyata.

Baca Juga: Tindak Lanjuti Instruksi Presiden, Wali Kota Mohan Perketat Pengawasan MBG

Dari dua peristiwa yang secara bersamaan, maka lahirlah inspirasi judul diatas. Tentu boleh jadi ada yang berkomentar agak lebay membandingkan Messi dengan Mohan. Beda level. Beda profesi. Penulis melihat dan membandingkan dari perpektif seni kepemimpinan, karena kebetulan tengah mengikuti Diklat Kepemimpinan. Dari Messi ke Mohan: Dari Lapangan Hijau Sepakbola ke Lapangan Pelayanan Publik di Pemerintahan. Setiap kali menonton Lionel Messi bermain, dan setiap hari bekerja mendampingi Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, penulis melihat pola yang sama. Pola kepemimpinan yang tidak diajarkan di buku manajemen, tapi tampak di depan mata dan terasa di hati: kepemimpinan kharismatik yang lahir dari intuisi, hati nurani, dan ketulusan.

Sebagai peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II yang diajarkan teori tentang Self Mastery, Kepemimpinan Srategis dan Manajemen Strategi, serta sebagai pengampu komunikasi publik, penulis belajar bahwa memimpin bukan soal paling keras berteriak di ruang rapat. Memimpin adalah soal "membuat orang mau mengikuti, bahkan saat keadaan 0-1 di babak semifinal Lionel Messi bukan kapten yang teriak-teriak di pinggir lapangan. Ia pendiam. Tapi ketika ia pegang bola, 10 pemain lain dan 45 juta rakyat Argentina percaya: "Bola aman di kakinya".

Pun Mohan di Pemerintah Kota Mataram. Beliau bukan tipe pemimpin yang gemar pencitraan yang berlebihan. Kharismanya lahir dari konsistensi. Saat banjir melanda, beliau turun ke sungai menghalau sampah yang menghambat laju air. Saat jalanan macet akibat trafict light padam, beliau turun mengurai lalu lintas. Saat sampah menumpuk di jalan jalan kota akibat TPA di tutup, Mohan ambil keputusan berani, alihkan sementara sampah di tanah kosong dalam kota yang belum terpakai. Saat ada aduan warga di media sosial tengah malam, Mohan minta Kadis untuk segera merespons. Dalam teori kepemimpinan, ini disebut "Referent Power" - sebuah kekuatan dikagumi bukan karena jabatan, warga kota Mataram mengikuti bukan karena takut, tetapi tumbuh dari rasa percaya (trush). 

Baca Juga: Gebrakan Baru! Wali Kota Mohan Kerahkan PPPK Mataram Jadi Agen Bansos ke Rumah-Rumah Warga

Belajar dari seorang Messi: Kharisma bukan dibangun dari mikrofon. Kharisma dibangun dari "jejak". Dari ribuan dribble, ribuan assist, ribuan keputusan kecil yang benar. Sama seperti Walikota membangun kepercayaan dari ribuan keputusan kecil: menyiapkan taman untuk warga kota, menyapa para PKL, memperhatikan penyapu jalan, sampai kebijakan komunikasi publik yang transparan.

Mungkin kita masih ingat Final World Cup 2022. Saat itu dimenit 108, di masa ekstra time. Skor sama kuat: 3-3. Semua orang tegang. Messi tidak menunggu instruksi pelatih. Dengan instingnya ia menusuk, dan nalurinya membaca ruang kosong.

Itu bukan taktik di papan tulis. Itu intuisi 20 tahun di lapangan. Penulis beberapa kali menyaksikan hal yang mirip di Kantor Walikota di saat bersama seorang Mohan. Dalam beberapa keputusan Mohan mengambil keputusan tidak semata mata dari data diatas kertas. Tetapi menggunakan intuisinya atau "Intuitive Decision Making". 

Baca Juga: MPLS tanpa Bullying Jadi Komitmen Mataram, Mohan Roliskana Ajak Ayah Antar Anak Sekolah

Ia pakai data ditambah pengalaman, serta satu lagi: hati nurani. Data adalah kompas. Tapi intuisi adalah kemudi. Tanpa kemudi, kompas hanya membuat kita berputar. Walikota mengajarkan: keputusan yang benar belum tentu populer. Tapi keputusan yang tulus akan selalu bisa dipertanggungjawabkan. Sama seperti Messi yang berani ambil penalti di final, walau risiko jika gagal, akan dicaci se Antero Argentina.

Memimpin yang Lahir dari Ketulusan

Apa yang membuat jutaan penonton bola orang sedih saat Argentina kalah di final 2014, dan menangis bahagia saat menang di 2022? Bukan karena trofinya. Tapi karena mereka melihat ketulusan Messi. Ia bermain bukan untuk dirinya. Ia bermain untuk bendera di dada. Di Mataram, Penulis melihat ketulusan yang sama. Saat beliau memutuskan mengalihkan anggaran untuk bantuan warga terdampak, ada banyak "suara" di internal yang keberatan. Tapi keputusannya satu: "Yang penting warga kota di pesisir pantai bisa segera punya rumah tinggal". Tidak ada hitungan politik. Tidak ada pencitraan. Murni hati nurani. Saat menjelaskan "kenapa" di balik keputusan itu. Dan jawabannya selalu kembali ke satu: karena beliau tulus. Dalam marketing politik modern, ketulusan adalah mata uang paling langka. Publik sekarang cerdas. Mereka bisa membedakan mana pemimpin yang "acting" dan mana yang "dari hati". Messi mengajari Penulis: jangan pernah bermain untuk statistik pribadi. Bermainlah untuk tim. Mohan mengajari penulis: jangan pernah membuat kebijakan hanya sebagai konsep dan laporan. Tetapi buatlah kebijakan untuk manusia, untuk orang banyak. 

Sebagai sorang birokrat, yang membidangi komunikasi publik, penulis menarik 3 (tiga) "benang merah" untuk belajar kepemimpinan dari dua figur pemimpin ini yaitu : 

Pertama, "Lead by Example, Not by Ego". Messi latihan paling awal, pulang paling akhir. Walikota datang rapat tepat waktu, cek lapangan paling sering. Kharisma lahir saat pemimpin mau jadi orang pertama yang bekerja dan orang terakhir yang pulang.

Kedua, "Tenang di Tengah Tekanan". Partai puncak dan final itu kadang riuh dan bising. 80-100 ribu penonton, dan menjadi sorotan dunia. Tapi Messi tetap dingin. Kota Mataram juga punya "final" sendiri: sampah, banjir rob, stunting, kemiskinan, hoaks. Pemimpin yang baik tidak panik. Ia menenangkan timnya dulu, baru menyelesaikan masalah.

Ketiga, "Komunikasi Tanpa Banyak Kata". Messi cukup mengangkat tangan, rekan setim langsung mengerti. Walikota cukup satu kalimat: "utamakan rakyat", seluruh OPD langsung bergerak. Ini yang Penulis sebut "Komunikasi Kharismatik". Singkat, jelas, dan menggerakkan. Sama seperti Messi yang membaca permainan dalam sepersekian detik.

Pemimpin : Menang atau Kalah, tetapi terus Membangkit Harapan

Juara atau tidak hari ini, World Cup 2026 kemungkinan akan jadi panggung terakhir Messi. Dan masa jabatan seorang Walikota juga ada akhirnya. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Karena pemimpin itu manusia. Tapi warisan kepemimpinan tidak diukur dari berapa trofi atau berapa proyek diresmikan. Warisan diukur dari: "Apakah orang-orang di sekitarmu menjadi lebih baik karena kehadiranmu?"Messi membuat Argentina percaya lagi. Mohan membuat warga Mataram percaya bahwa pemerintah hadir. Penulis, sebagai ASN, peserta PKN II, penikmat sepakbola, belajar satu hal paling penting: Pemimpin hebat tidak menciptakan pengikut. Pemimpin hebat menciptakan pemimpin-pemimpin baru. Mungkin suatu hari nanti, 10 tahun dari sekarang, ada anak-anak muda Kota Mataram yang bilang: "Saya jadi Politisi karena dulu lihat Walikota kerja tulus". Sama seperti jutaan anak di dunia yang bilang: "Saya jadi pemain bola karena lihat Messi". Dan itulah final yang sebenarnya. Bukan di Qatar, bukan di Stadion New Jersey, New York, USA. Tapi di hati masyarakat yang kita layani. Karena pada akhirnya, baik di lapangan hijau maupun di Kantor Walikota, kepemimpinan adalah tentang satu hal: membangkitkan harapan orang tetap selalu hidup. Membuat orang lain percaya bahwa kemenangan itu mungkin. 

(Penulis adalah ASN Pemkot Mataram, Owner Klub Fatahillah 354, Peserta PKN II Angkatan 13 NTB 2026)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post Online
world cup 2026 jabatan Mataram piala dunia Mohan Roliskana