Oleh: Dr. dr. Rohadi, Sp.BS, Subsp.N-Onk (K), S.H., M.H.Kes, M.Med.Ed (Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi NTB)
Pendidikan kedokteran tidak hanya membutuhkan dosen yang pintar. Ia membutuhkan dosen yang mampu memimpin perubahan.
Ada ironi yang sering luput dari perhatian kita. Kita menuntut seorang dokter untuk mampu mengambil keputusan penting dalam situasi yang kompleks.
Kita berharap mereka mampu menjadi teladan, berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, beradaptasi dengan perubahan, bahkan memimpin pelayanan kesehatan.
Namun, ketika mereka kembali ke lingkungan akademik sebagai dosen, kemampuan memimpin justru sering dianggap sebagai sesuatu yang akan tumbuh dengan sendirinya.
Seolah-olah seseorang otomatis menjadi pemimpin hanya karena suatu hari dipercaya menjadi ketua program studi, kepala departemen, koordinator, atau pimpinan institusi.
Padahal kepemimpinan tidak lahir dari surat keputusan. Kepemimpinan dibangun jauh sebelum seseorang menduduki jabatan. Inilah salah satu persoalan penting yang perlu kita renungkan dalam pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Dosen kedokteran hari ini menjalankan peran yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar menyampaikan materi di ruang kuliah. Mereka adalah pendidik, klinisi, peneliti, pembimbing mahasiswa, pengelola program, sekaligus bagian dari organisasi akademik.
Mereka harus mampu menjalankan berbagai tanggung jawab secara bersamaan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan yang terus berubah.
Dalam kondisi seperti itu, kepemimpinan bukan lagi kompetensi tambahan. Kepemimpinan adalah bagian dari profesionalisme dosen.
Menariknya, penelitian mengenai kebutuhan kompetensi kepemimpinan dosen di fakultas kedokteran menunjukkan bahwa sesungguhnya fondasi kepemimpinan tersebut telah tumbuh.
Dosen telah membangun kemampuan self-leadership, komunikasi interpersonal, koordinasi dan kerja sama tim, kepemimpinan berbasis nilai dan keteladanan, serta kemampuan beradaptasi melalui pengalaman akademik, klinis, organisasi, dan interaksi sehari-hari.
Artinya, banyak dosen sebenarnya telah belajar memimpin tanpa pernah secara formal diajarkan bagaimana menjadi pemimpin.
Mereka belajar ketika menghadapi mahasiswa yang membutuhkan bimbingan. Mereka belajar ketika harus menyatukan pendapat dalam sebuah tim. Mereka belajar ketika berhadapan dengan konflik. Mereka belajar ketika harus mengambil keputusan di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya.
Namun belajar dari pengalaman saja tidak cukup. Di sinilah tantangan yang lebih besar muncul.
Penelitian tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi kepemimpinan yang telah dimiliki dosen dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.
Kebutuhan tersebut mencakup kepemimpinan transformasional, kemampuan manajerial, pengambilan keputusan, manajemen konflik, perencanaan strategis, pengelolaan prioritas, hingga pengembangan dan regenerasi kepemimpinan.
Dengan kata lain, kita sedang bergerak dari kebutuhan untuk sekadar “mampu mengelola” menuju kebutuhan untuk “mampu mengubah”.
Dosen tidak cukup hanya memastikan proses pembelajaran berjalan. Mereka perlu mampu membaca perubahan, membangun visi, mengelola kompleksitas, mengambil keputusan strategis, dan menciptakan lingkungan akademik yang memungkinkan orang lain berkembang.
Itulah esensi kepemimpinan transformasional.
Namun ada satu masalah: pengembangan kepemimpinan dosen selama ini masih banyak berlangsung secara informal.
Kompetensi tersebut lebih sering terbentuk dari praktik sehari-hari, pengalaman menjalankan tridharma, keterlibatan organisasi, dan tuntutan pekerjaan.
Sementara itu, pelatihan kepemimpinan yang terstruktur, pendidikan manajerial akademik, dan faculty development berkelanjutan belum sepenuhnya menjadi bagian sistem. Kita tidak boleh terus membiarkan sistem belajar memimpin secara kebetulan.
Jika kepemimpinan dianggap penting bagi masa depan pendidikan kedokteran, maka pengembangannya harus dirancang dengan sengaja. Fakultas kedokteran perlu memikirkan kembali bagaimana menyiapkan dosen sejak awal kariernya.
Tidak harus langsung menjadikan semua dosen sebagai calon pejabat struktural. Yang jauh lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar mengambil keputusan, memimpin proyek, membangun kolaborasi, menyelesaikan konflik, melakukan mentoring, dan mengembangkan orang lain.
Kaderisasi kepemimpinan juga tidak boleh baru dimulai ketika kursi pimpinan kosong. Kita harus menyiapkan pemimpin sebelum kita membutuhkan pemimpin.
Pendekatan ini penting karena kepemimpinan akademik bukan semata-mata persoalan kemampuan mengelola organisasi. Ada dimensi manusia yang jauh lebih mendasar.
Seorang dosen yang baik bukan hanya membuat mahasiswa memahami ilmu kedokteran. Ia membuat mahasiswa percaya bahwa mereka mampu menjadi dokter yang lebih baik.
Seorang pemimpin akademik yang baik bukan hanya mampu menyelesaikan masalah. Ia membuat orang-orang di sekitarnya tumbuh menjadi lebih mampu menyelesaikan masalah.
Dan seorang pemimpin yang benar-benar baik bukan hanya meninggalkan sistem yang berjalan ketika ia pergi. Ia meninggalkan orang-orang yang siap melanjutkan perjuangan.
Karena itu, pengembangan kepemimpinan dosen seharusnya tidak berhenti pada seminar atau pelatihan satu-dua hari.
Diperlukan proses yang berkelanjutan: mentoring, pengalaman kepemimpinan bertahap, pengembangan kapasitas manajerial, ruang untuk refleksi, serta budaya akademik yang mendorong kolaborasi dan regenerasi.
Penelitian ini juga menempatkan kebutuhan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan sebagai bagian dari arah penguatan kepemimpinan dosen.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang dosen. Ini tentang mahasiswa yang mereka didik. Tentang dokter yang kelak mereka hasilkan. Tentang rumah sakit dan sistem kesehatan yang akan mereka masuki.
Dan tentang masyarakat yang pada akhirnya akan menerima dampak dari kualitas pendidikan kedokteran kita. Sebab pendidikan kedokteran tidak hanya sedang mencetak dokter untuk menghadapi persoalan kesehatan hari ini.
Ia sedang membentuk manusia yang suatu hari akan menentukan arah pelayanan kesehatan di masa depan.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah dosen membutuhkan kepemimpinan. Pertanyaannya adalah: Apakah kita siap membangun sistem yang benar-benar mempersiapkan mereka untuk memimpin?
Sebab jika kita ingin memiliki dokter yang mampu menghadapi masa depan, kita terlebih dahulu membutuhkan dosen yang mampu membawa pendidikan kedokteran menuju masa depan itu.
Jangan tunggu seseorang menjadi pimpinan untuk mengajarinya memimpin. Mulailah membangun pemimpin sejak ia menjadi dosen.
Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian tesis Dr. dr. Rohadi, Sp.BS, Subsp.N-Onk (K), S.H., M.H.Kes, M.Med.Ed. di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) berjudul “Analisis Kebutuhan Kompetensi Kepemimpinan Dosen di Fakultas Kedokteran di Indonesia”.
Penelitian tersebut mengkaji kebutuhan kompetensi kepemimpinan dosen serta arah pengembangannya dalam menghadapi tantangan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post