LombokPost--Logistik yang semula disiapkan untuk kebutuhan dapur umum BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) akhirnya berpindah tangan kepada warga terdampak gempa bumi NTT yang mengaku belum tersentuh bantuan.
Hal ini terjadi di Desa Riung, Manggarai, Rabu (19/8) dan berakhir dalam suasana haru setelah Tim BTB memilih menyerahkan logistik tersebut kepada warga.
Sejak pagi, Tim BTB yang bermarkas di Posko BAZNAS di Pondok Pesantren Pancasila, Reo, berangkat menuju Ruteng untuk membeli berbagai kebutuhan penanganan bencana.
Di antaranya bahan makanan untuk dapur umum, terpal, obat-obatan, perlengkapan tenda, paket kebersihan, serta sejumlah kebutuhan bantuan lainnya.
Setelah seluruh kebutuhan selesai dibeli, tim bergerak kembali menuju Reo. Sekitar pukul 16.02 Wita, ketika kendaraan melintas di kawasan Desa Riung, mobil Tim BTB dihentikan oleh sekitar 73 warga.
Salah seorang relawan, Ais Komarudin, sempat merekam sebagian kejadian tersebut. Dalam situasi itu, sebagian besar muatan di dalam kendaraan diserahkan ke warga, sementara jeriken solar tetap berada di mobil.
Situasi tersebut justru berakhir dengan suasana haru. Relawan BTB Ais Komarudin dan Humaidi kemudian membangun komunikasi dengan warga dan perwakilan mereka.
Dari komunikasi itulah tim mengetahui bahwa warga di perkampungan tersebut mengaku belum menerima bantuan dan berharap distribusi bantuan juga menjangkau wilayah mereka.
Baca Juga: Hakim PN Mataram Percepat Pinjam Pakai Barang Bukti, Kuasa Hukum Apresiasi Proses Hukum
Tim BTB kemudian menjelaskan bahwa mereka bukan rombongan pemerintah setempat, melainkan relawan BAZNAS yang datang dari Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk membantu masyarakat terdampak gempa.
Mendengar penjelasan itu, warga kemudian memahami bahwa bantuan yang mereka lihat merupakan bantuan dari saudara mereka di NTB.
Suasana pun berubah. Yang semula berawal dari penghentian kendaraan bantuan berkembang menjadi percakapan kemanusiaan. Tim mendengarkan kebutuhan warga, sementara warga mengetahui bahwa orang-orang yang berada di hadapan mereka datang dari daerah yang jauh untuk membawa bantuan.
Dalam situasi tersebut, Tim BTB memilih untuk tidak memperpanjang persoalan. Mereka justru memutuskan menyerahkan logistik yang telah dibeli kepada warga.
Logistik yang semula akan dibawa ke dapur umum akhirnya diberikan kepada masyarakat yang berada di lokasi tersebut.
“Ini sebenarnya akan kami bawa ke dapur umum dan nantinya juga akan dibagikan kepada masyarakat. Tetapi kalau bapak dan ibu di sini belum mendapat bantuan, tidak apa-apa kami serahkan sekarang. Ini juga memang untuk masyarakat,” kata Wakil Ketua BAZNAS NTB Ustad Zulkifli, kepada warga.
Keputusan tersebut membuat suasana menjadi haru. Warga yang sebelumnya berharap agar bantuan dapat menjangkau perkampungan mereka akhirnya menerima bantuan secara langsung.
“Terima kasih, bapak. Kami diperhatikan saudara dari NTB,” ujar salah seorang warga.
Baca Juga: Gubernur NTB Dijadwalkan Kunjungi NTT, FKIJK dan BMPD NTB Serahkan Bantuan
Kalimat sederhana itu menjadi bagian paling menyentuh dari perjalanan Tim BTB hari itu. Sebab, di tengah situasi bencana, bantuan bukan hanya soal barang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Ada rasa diperhatikan, didengar, dan tidak dilupakan yang ikut sampai bersama bantuan tersebut.
Bagi Tim BAZNAS Tanggap Bencana, apa yang terjadi di Desa Riung menjadi bagian dari dinamika penanganan bencana di lapangan. Kondisi darurat sering kali menghadirkan situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.
Karena itu, kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Setelah kembali ke Posko BTB Reo, tim melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan BAZNAS di Jakarta dan menyusun kronologi sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus klarifikasi atas informasi yang beredar mengenai peristiwa tersebut.
Bagi warga Desa Riung, mungkin yang tersisa dari peristiwa itu bukan bagaimana bantuan tersebut sampai kepada mereka, melainkan satu hal yang jauh lebih sederhana. Mereka tahu bahwa ada saudara dari tempat yang jauh yang datang membawa perhatian.
Dan bagi para relawan, logistik yang mereka bawa hari itu akhirnya menemukan tempat yang mungkin paling membutuhkan.
Dari sebuah perjalanan menuju dapur umum, bantuan itu menemukan jalannya sendiri, sampai kepada warga yang sedang menunggu untuk diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian.
Editor : Kimda FaridaSumber : siaran pers