Quo Vadis Pertambangan NTB? Menimbang Ekonomi, Kesejahteraan, dan Keberlanjutan

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 15:56 WIB
Syamsul Hidayat Daud.
Syamsul Hidayat Daud.

 

Oleh: Syamsul Hidayat Daud, ST., M.T., Ph.D. (Dosen Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Mataram dan Alumnus Departement Mining Engineering Eskisehir Osmangazi University, Turki)

 

LombokPost-Pertambangan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan ekonomi Nusa Tenggara Barat. Kekayaan geologi yang dimiliki daerah ini membuka peluang ekonomi dalam skala besar, mulai dari investasi, penerimaan daerah, penyerapan tenaga kerja, hingga tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan pertambangan.

Namun, besarnya kontribusi itu sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana arah pertambangan NTB pada masa depan?

Pertanyaan ini penting karena mineral bukan sumber daya yang dapat diperbarui. Apa yang berada di dalam perut bumi dan kita eksploitasi hari ini pada akhirnya akan berkurang, bahkan habis. Karena itu, keberhasilan pertambangan tidak cukup diukur melalui besarnya produksi, nilai ekspor, atau kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa jauh kekayaan tambang mampu menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat setelah masa eksploitasi berakhir.

NTB mempunyai potensi pertambangan yang tersebar di berbagai wilayah. Aktivitasnya tidak hanya berupa pertambangan mineral berskala besar, tetapi juga penggalian bahan batuan yang menopang kebutuhan pembangunan. Potensi emas dan tembaga juga terus ditemukan melalui kegiatan eksplorasi, terutama di Pulau Sumbawa.

Baca Juga: 100 Tahun Setelah Batu Hijau

Besarnya potensi itu telah memberi dampak nyata terhadap perekonomian. Namun, data mengenai struktur ekspor NTB sekaligus memberikan peringatan.

Pada periode 2011-2018, kontribusi ekspor konsentrat tembaga terhadap total ekspor NTB berada pada kisaran 80-99 persen. Angka sebesar itu dapat dibaca dari dua sisi. Di satu sisi, pertambangan memberikan kontribusi luar biasa terhadap ekspor daerah. Di sisi lain, angka itu memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan ekspor NTB terhadap sumber daya alam tambang.

Inilah paradoks yang perlu kita pikirkan sejak sekarang.

Pertambangan dapat menjadi kekuatan ekonomi, tetapi ketergantungan yang terlalu besar terhadap sektor ekstraktif juga menyimpan kerentanan. Ketika produksi, harga komoditas, atau kegiatan pertambangan mengalami perubahan, perekonomian daerah dapat ikut merasakan guncangannya.

Gambaran serupa dapat dilihat dari struktur PDRB NTB. Pada periode 2014-2025, sektor pertambangan memberi kontribusi sekitar 13-22 persen terhadap PDRB. Besarnya kontribusi ini menunjukkan posisi strategis pertambangan dalam perekonomian daerah.

Kabupaten Sumbawa Barat memberikan contoh yang lebih jelas mengenai hubungan itu. Laju pertumbuhan PDRB daerah ini mengalami fluktuasi yang jauh lebih dinamis dibandingkan beberapa daerah lain. Perubahan aktivitas pertambangan menjadi salah satu faktor yang menunjukkan besarnya ketergantungan perekonomian daerah terhadap sektor tambang.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah pertambangan memberikan manfaat ekonomi. Jawabannya jelas: memberikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang kita lakukan dengan manfaat ekonomi itu?

Baca Juga: Emas di Ujung Rantai Produksi Batu Hijau

Dari Tambang Menuju Diversifikasi Ekonomi

Kontribusi ekonomi pertambangan hari ini harus digunakan untuk membangun fondasi ekonomi NTB pada masa depan.

Kita tidak boleh menunggu sumber daya mineral menipis baru mulai memikirkan alternatif. Diversifikasi ekonomi harus dipersiapkan justru ketika pertambangan sedang memberikan manfaat besar.

Sebagian manfaat ekonomi dari sektor tambang perlu diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor produktif yang mampu bertahan jauh setelah aktivitas ekstraksi berakhir. NTB harus memiliki semakin banyak sumber pertumbuhan ekonomi yang tidak bergantung kepada apa yang digali dari dalam bumi.

Pertanian, industri pengolahan, ekonomi berbasis pengetahuan, teknologi, dan berbagai sektor produktif lainnya perlu dikembangkan sebagai fondasi ekonomi jangka panjang.

Dengan cara itu, pertambangan tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menyediakan modal bagi transformasi ekonomi.

Gagasan dasarnya sederhana. Kekayaan yang tidak terbarukan harus diubah menjadi modal yang dapat terus diperbarui.

Salah satu modal paling penting itu adalah manusia.

Mengubah Hasil Tambang Menjadi Manusia Terdidik

Investasi paling pasti untuk masa depan NTB adalah investasi pada sumber daya manusia.

Manfaat ekonomi pertambangan perlu dikonversi secara lebih serius menjadi investasi pendidikan jangka panjang. Pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota perlu berani merancang program beasiswa dalam skala signifikan bagi putra-putri terbaik NTB, terutama untuk bidang sains, teknologi, rekayasa, dan bidang strategis lain.

Kita perlu membayangkan NTB bukan hanya untuk lima atau sepuluh tahun ke depan, tetapi 30 hingga 50 tahun mendatang.

Pada saat sumber daya mineral mulai berkurang, apa yang tersisa?

Jawaban terbaik semestinya bukan hanya lubang tambang yang telah direklamasi atau catatan besarnya produksi masa lalu. Yang harus tersisa adalah generasi yang jauh lebih terdidik, kemampuan teknologi, industri baru, pengetahuan, dan kekuatan ekonomi yang tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.

Karena itu, hasil tambang yang kita nikmati hari ini jangan berhenti menjadi angka produksi dan penerimaan ekonomi. Hasilnya harus berubah menjadi ilmu pengetahuan, manusia terdidik, teknologi, industri, serta kemampuan daerah menciptakan nilai tambah pada masa depan.

Jika transformasi ini berhasil, pertambangan akan meninggalkan warisan yang jauh lebih bernilai daripada mineral yang pernah dikeluarkan dari bumi NTB.

Kesejahteraan Masyarakat Lingkar Tambang

Pertambangan juga tidak dapat dilihat hanya melalui angka ekonomi makro.

Di sekitar kawasan tambang hidup masyarakat yang mengalami dampaknya secara langsung. Aktivitas ekonomi dapat tumbuh, daya beli meningkat, peluang kerja terbuka, dan usaha-usaha baru muncul. Namun, bersamaan dengan itu, selalu ada potensi persoalan sosial dan lingkungan.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi akibat pertambangan harus memiliki hubungan yang jelas dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat lingkar tambang.

Daerah perlu menggunakan seluruh kapasitas dan kewenangannya untuk memastikan manfaat pertambangan terdistribusi lebih luas. Kebijakan tidak cukup berhenti pada penerimaan ekonomi. Perlu ada keberanian melakukan improvisasi kebijakan untuk membuka kesempatan pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta akses terhadap berbagai manfaat pembangunan.

Dalam waktu yang sama, perlindungan lingkungan harus ditempatkan sebagai bagian inti pengelolaan pertambangan, bukan sekadar kewajiban administratif.

Sumber daya mineral memang dapat menghasilkan manfaat ekonomi besar. Namun, sifatnya yang terbatas dan tidak terbarukan membuat setiap keputusan eksploitasi selalu memiliki konsekuensi antargenerasi. Pemanfaatannya karena itu harus mempertimbangkan kemampuan lingkungan dan kesempatan generasi mendatang.

Konflik Tidak Boleh Terulang

Ada satu pelajaran lain yang tidak boleh dilupakan ketika membicarakan masa depan pertambangan NTB: hubungan antara tambang dan masyarakat.

NTB pernah mengalami resistensi masyarakat terhadap aktivitas pertambangan. Dalam periode 2009-2012, penolakan muncul melalui dialog, demonstrasi, dan aksi massa. Konflik itu bahkan pernah berujung pada jatuhnya korban jiwa dalam tindakan pengamanan di Kabupaten Bima pada 2012.

Pengalaman itu harus menjadi pelajaran bersama.

Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang karena konflik berkaitan dengan pertambangan.

Resistensi masyarakat dapat muncul karena banyak faktor: persepsi ketidakadilan dalam distribusi manfaat ekonomi, kesenjangan pendapatan, kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, maupun rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Karena itu, pelibatan masyarakat tidak boleh dilakukan setelah konflik muncul. Dialog harus dimulai jauh sebelum persoalan membesar.

Pemerintah, perusahaan, masyarakat, akademisi, serta berbagai kelompok lain perlu ditempatkan dalam ruang komunikasi yang terbuka. Pengelolaan pertambangan memerlukan kepercayaan, dan kepercayaan hanya dapat tumbuh jika masyarakat merasa didengar, dilibatkan, serta memperoleh manfaat yang adil.

Warisan Setelah Tambang

Pada akhirnya, pertanyaan quo vadis pertambangan NTB bukan sekadar pertanyaan tentang berapa banyak mineral yang masih bisa ditambang.

Pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang akan dimiliki NTB ketika mineral itu suatu saat tidak lagi dapat ditambang.

Apakah kita meninggalkan ekonomi yang tetap bergantung pada sumber daya alam? Atau justru menggunakan periode pertambangan hari ini untuk membangun masyarakat yang lebih terdidik, ekonomi yang lebih beragam, industri yang lebih maju, serta lingkungan yang tetap layak diwariskan?

Pertambangan memberikan kesempatan besar bagi NTB. Namun, kesempatan itu memiliki batas waktu.

Karena itu, manfaatnya harus dimaksimalkan ketika sumber daya masih tersedia. Sebagian keuntungan ekonomi harus ditanam kembali menjadi pendidikan, teknologi, sektor produktif baru, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kita tidak dapat mewariskan mineral yang telah ditambang kepada generasi berikutnya. Namun, kita dapat mewariskan sesuatu yang jauh lebih penting: manusia terdidik, ilmu pengetahuan, teknologi, industri, lingkungan yang terjaga, dan ekonomi yang mampu berdiri setelah era tambang berakhir.

Itulah ukuran sesungguhnya apakah kekayaan tambang NTB telah kita kelola dengan bijaksana.

 

Editor : Kimda Farida
Pertambangan NTB pembangunan berkelanjutan Ekonomi NTB sumber daya alam kesejahteraan masyarakat