Oleh : Muizzudin ( Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)
Deru kehidupan membawa manusia ke ruang realitas yang sulit membedakan teknologi kecerdasaan buatan.
Algoritma mengubah cara berfikir, bekerja, berkomunikasi dan menciptakan karya. Di tengah perubahan tersebut , sastra menghdapi pertanyaan mendasar : apakah sastra masih memliki eksistensi yang kuat sebagi ilmu atau hanya sebagi hiburan di tengah arus teknologi ?
Pertanyaan tersebut bukan persoalan sederhana. Dahulu sastra tidak hanya dipahami sebagai rangkaian kata yang indah. Sastra memiliki kajian ilmiah, teori, metode, sejarah, kritik dan pendekatan yang terus berkembang. Sebagai ruang terbuka, sastra juga menjadi ruang untuk memahami manusia, budaya, bahasa dan membentuk peradaban.
Baca Juga: Holiday Resort Lombok Hadirkan Sunset Yoga, Pengalaman Relaksasi di Tengah Nuansa Tropis
Di Era 5.0 ini, eksistensi tersebut menghadapi ilusi baru. Semua yang dibuat teknologi seakan-akan tidak membutuhkan proses berpikir manusia.
Munculnya kecerdasan buatan adalah pengaruh untuk mendapatkan akses. Dalam hitungan detik, teks puisi, cerpen, dan artikel dapat dibuat oleh mesin itu. Kondisi ini mencipatakan pandangan bahwa karya sastra tidak lagi membutuhkan proses yang panjang.
Jika mesin mampu menghasilkan teks yang indah, apakah sastra masih relevan membutuhkan manusia. Di sinilah letak iluis sastra di era 5.0. kita menganggap sastra hanya produk akhir adalah teks, padahal sastra jauh lebih luas daripada teks.
Sastra lahir dari pengalaman, imajinasi, konflik batin,sejarah dan cara pandang manusia berkehidupan.
Sebagai ilmu, posisi sastra sangatalah penting karena objek kajiannya adalah manusia dengan segala peroblemtika kehidupannya yang direperesentasikan melalui bahasa. Pertanyaanya apakah sastra merupakan karya yang indah atau tidak ? ilmu sastra membicarakan struktur karya, penggunaan bahasa, konteks sosial,ideologi, psikologi tokoh dan sejarah , sehingga membentuk cara pandang masyarakat.
Dengan demikian, Ancaman terbesar eksistensi sastra itu bukanlah teknologi, tetapi hilangnya kemampuan membaca, menfsirkan dan berpirik kritis mejadi lemah.
Baca Juga: Bank NTB Syariah Siapkan Transformasi Menyeluruh, Perkuat Fundamental hingga Sustainable Growth
Ilusi terbesar di era 5.0 keyakinan bahwa teknologi mampu menggantikan seluruh pengalamn manusia, padahala tidak.
Teknologi hanya alat dan sasatra tetap membutuhkan mansuia sebagi subjek yang mengalami,merasakan,menfsirkan dan memberi makna. Karena itu ,sastras sebagi ilmu tak perlu dipertentangkan dengan perkembangan teknologi.
Pada akhirnya, sastra di Era 5.0 bukan sedang menuju pemberangusan oleh teknologi, tetapi sedang mengalami perubahan bentuk.
Sastra harus beardaptasi tampa kehilangan idnetitasnya sebagi ilmu yang mengkaji mansuia melalui bahasa.
Selama manusi masih mencari makna hidup, sastra akan tetap memiliki tempat, bukan sekadar siapa yang mampu menulis karya paling indah, melainkan siapa yang mampu mengajak manusia untu memahami dirinya sendiri dan zamannya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post