Catatan Wartawan Lombok Post: Hamdani Wathoni
LombokPost - Saya sudah mulai mengidolakan Marc Marquez sejak tahun pertama ia menginjakkan kaki dan debut di kelas para raja, MotoGP 2013. Bagaimana mungkin tidak mengagumi sosoknya?
Seorang rookie yang baru saja beranjak remaja, naik ke kelas utama, dan bisa langsung menghebohkan dunia dengan menjadi juara dunia di musim pertamanya! Sebuah sensasi luar biasa ketika anak muda ini mampu menaklukkan pembalap-pembalap veteran kelas dunia yang namanya begitu besar waktu itu.
Siapa lagi kalau bukan sang legenda Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa, Andrea Dovizioso, serta sederet nama beken lainnya yang sudah sangat familiar di telinga para pecinta balap motor.
Sebelum era Marquez tiba, pencinta balap Indonesia seolah hanya mengenal Rossi sebagai satu-satunya ikon pembalap tanah air. Bahkan nama Rossi sudah begitu diidentikkan dengan aksi ngebut di jalanan. Siapa pun yang melaju kencang pasti diibaratkan "Rossi".
Namun, semenjak Marquez hadir, peta dinamika itu berubah total. Namanya eluk-elukan, apalagi saat ia membela tim Repsol Honda. Di Indonesia sendiri, brand Honda punya tempat tersendiri di hati masyarakat.
Semua motor, apa pun mereknya, sering kali disebut "Honda". "Mana Hondamu?" atau "Apa Hondamu?" menjadi istilah lumrah untuk menanyakan sepeda motor. Di era puncak kejayaannya bersama Honda, Marquez tampil begitu dominan dan tak tergoyahkan.
Baca Juga: Astra Motor NTB Gelar Safety Riding Booth Camp, Tiga Perwakilan SMKN 3 Mataram Melaju ke Safety Ridi
Ia dijuluki The Baby Alien, seolah menegaskan bahwa bakat dan kemampuannya melintasi sirkuit bukanlah berasal dari bumi ini.
Qodarullah, perjalanan takdir mempertemukan saya secara langsung dengannya pada tahun 2016 di Jakarta. Saat itu, Marquez datang meluncurkan motor baru yang akan digunakannya untuk balapan musim 2016 sekaligus memperkenalkan produk New Honda CBR.
Kesempatan emas itu saya dapatkan setelah berhasil menjadi runner-up dalam ajang Honda Journalist Award 2016. Bersama salah satu rekan wartawan dari Bulkaino Suara Ntb, kami berdua berangkat mewakili NTB ke Jakarta, bergabung dengan perwakilan jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam sesi konferensi pers yang dihadiri Marc Marquez dan Dani Pedrosa tersebut, diluncurkan pula motor balap Marquez, RC213V. Sensasinya luar biasa ketika saya bisa melihat dari dekat, memegang, bahkan berfoto di samping motor balap itu. Sebuah momen ikonik berupa foto selfie bersama Marquez bahkan sempat diabadikan dan dimuat di Harian Lombok Post.
Pada momen itu pula, berembus kabar membahagiakan bahwa Indonesia berencana menjadi tuan rumah MotoGP di Sirkuit Sentul, Bogor pada tahun 2019. Kabar ini menjadi angin segar bagi para penggemar otomotif tanah air.
Apalagi balap motor adalah olahraga paling populer di Indonesia setelah sepak bola. Kenangan melihat Marquez dan Pedrosa menyapa ribuan pendukung yang memadati tribun Sentul menjadi momen yang sangat sulit dilupakan.
Sayangnya, rencana balapan di Sentul tahun 2019 itu akhirnya batal terlaksana. Kekecewaan mendalam tentu dirasakan para fans. Namun, keajaiban takdir Allah berkata lain. Keinginan menonton Marquez secara langsung justru terwujud di tanah kelahiran sendiri melalui Sirkuit Mandalika yang dibangun di era Presiden Jokowi dan diresmikan pada akhir 2021.
Sirkuit yang sempat diragukan banyak pihak itu kini terbukti hidup dan sukses menyelenggarakan ajang balap internasional.
Perjalanan Marquez di Mandalika memang tidak selalu mulus. Ia kerap mengalami nasib sial, mulai dari kecelakaan, cedera, hingga gagal finish. Namun, saat membela Gresini Racing, ia sempat memberi secercah harapan dengan meraih podium ketiga di sesi Sprint Race.
Kini, hampir satu dekade sejak pertemuan pertama kami di Jakarta pada 2016, saya sangat berharap dan berdoa agar Mandalika menjadi tempat bersejarah baginya.
Baca Juga: Jorge Martin Rebut Pole MotoGP Austria, Kalahkan Marc Marquez dan Pedro Acosta
Dengan poin yang cukup ketat di papan klasemen, Marquez berhasil memimpin dengan poin yang sama dengan Jorge Martin. Sangat mungkin bagi Marquez untuk mengunci gelar juara dunia ke-10 di sirkuit Mandalika 9-11 OKtober mendatang.
Jika itu terjadi, gelar tersebut akan menyempurnakan perjalanannya sekaligus menjawab perdebatan panjang tentang siapa yang terbaik di lintasan. Meski itu tidak mudah, karena Marquez mengaku Mandalika menjadi salah lintasan yang paling sulit ditaklukkan.
Honda, Ducati, MotoGP, dan Mandalika, semua ini terasa bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang indah. Tak sabar rasanya menyaksikan aksinya mengukir sejarah di Sirkuit Mandalika!
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post