Dr. Lalu Sirajul Hadi, M.Pd
Ketua Departemen Pendidikan PBNW dan Sekretaris Pimpinan Pusat PGNW
LombokPost--Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang didirikan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 1937, atau 91 tahun lalu , tidak saja sebagai perwujudan artefak historis, yang hanya sebatas dikenang rapi, dalam memori public (jamaah). Tetapi, dalam kontek peradaban, Madrasah NWDI adalah “oase” penting bagi semangat perubahan umat, yang kemudian menjadi spirit dalam kebangkitan masa depan, dengan ilmu pengatahuan dan pendidikan di dalamnya sebagai modal utama.
Bagi pendiri Madrasah NWDI, mencerdaskan umat dan bangsa, tidak un-sich dibatasi sebagai kewajiban kontitusional semata. Ada kewajiban yang lebih tinggi kedudukannya dari itu, yakni kewajiban moral-etik dan bahkan kewajiban profetik . Ini menggambarkan bahwa tokoh pendiri Madrasah NWDI, adalah figure yang cerdas, visioner dan memiliki kedalaman pengetahuan, tentang bagaimana tanggung jawab “efistemologis” diimplementasikan, dari segi kepentingan kolektif, agama banga dan negara.
Dalam fase perjalanan Indonesia sebagai bangsa, tahun 1937 adalah waktu di mana Indonesia masih dalam kendali kolonialisme Belanda. Tidak mudah bagi bagi rakyat dan siapapun pada saat itu, untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat memobilisasi, kecuali bagi mereka yang memiliki koneksi, akses dan kepentingan dengan Belanda. Semua aktivitas rakyat, berada dalam tekanan dan pengawasan yang ketat dari penjajah. Kondisi bangsa dan masyarakat yang lemah, tetinggal dan tertindas , berimplikasi pada stagnasi ilmu pengeatahuan dan kualitas kehidupan masyarakat saat itu. Pada semua dimensi, rakyat tidak berdaya, tidak terkecuali, kondisi itu terjadi pada masyarakat Lombok saat itu.
Madrasah NWDI adalah transformasi kelembagaan dari Pesantren Al-Mujahidin yang didirikan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, didirikan tahun 1934. Dari kajian, analisis dan kebutuhan serta tuntutan yang lebih maju, lembaga Pesantrean Al-Mujahdin kemudian bertransformasi secara intitusional, menjadi Madrasah NWDI pada tahun 1937. Meminjam istilah teori manajemen modern, sang pendiri sangat paham, bahwa “internal analysis” dan “eksternal analysis” adalah hal penting, dalam membuat Keputusan dan kebijakan. Itulah yang kemudian menjadi refrensi, proses transformasi kelembagaan prestesius. Kedua lembaga yang beliau dirikan di awal tersebut, baik Pesantren Al-Mujahidin maupun Madrasah NWDI, sama-sama menjadi jiwa jihad (perjuangan), yang mengispirasi dan memotivasi masyarakat, untuk mengerti cara keluar dari ketertinggalan dan kebodohan, melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Bale Kita Hadir di BIZAM, Kerajinan NTB Makin Mendunia
Resistensi dan Resilensi Ketokohan
Untuk membawa dan berbuat sesuatu yang baru, walaupun itu penting, baik dan bermanfaat, tidaklah mudah pada jaman itu. Resistensi terjadi sedemikian hebat dari tokoh-tokoh lokal, mereka bermanuver dan memprovokasi masyarakat, agar tidak mengikuti kegiatan-kegiatan dan program yang dilaksanakan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Bahkan narasi-narasi negatif yang menghasut dibuat, menganggap dan menuduh bahwa sosok TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, membawa faham dan aliran yang menyimpang dan tidak benar. Banyak tokoh dan figure-figur lokal pada saat itu, merasa teancam eksistensi dan reputasinya, takut kehilangan pengaruh dan wibawa dengan kehadiran TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Di sisi lain, sekembalinya belau menuntut ilmu dari Makkah al-Mukarromah, beliau cukup progresif dalam ikhtiar dan komitment membawa perubahan bagi masyarakat, Lombok khususnya- melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan. Demikian juga, tantangan dan hambatan yang beliau dapatkan dari pemerintah Belanda, dengan memanfaatkan tangan-tangan pemerintah desa saat itu, agar TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menghentikan aktivitasnya dalam dakwah dan pendidikan. Namun, semua upaya dan provokasi negatif, yang bertujuan menghalangi gerakan sosial dakwah dan pendidikan yang beliau lakukan, dihadapi tanpa takut, tidak mundur sedikitpun. Beliau pasti menyadari, bahwa tidak ada perjuangan yang tidak bersamanya ada tantangan, tetapi masa depan umat serta kepentingan masyarakat, bisa melawan rasa takut. Dalam konteks ini, sosok dan figur TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, mengajarkan tentang cara memiliki ketahanan mental (resilensi) yang kuat, tidak mudah gentar dan tidak mudah takut dari agitasi dan provokasi .
Baca Juga: Perajin Tenun Mulai Andalkan Pasar Lokal
Dialog Keilmuan dan Ketinggian Adab
Dalam catatan dan referensi sejarah, sebelum NWDI ditetapkan sebagai nama Madrasah. Sang pendiri, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, terlebih dahulu memohon doa dan restu kepada guru besar beliau, Maulanasysyaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath tentang nama madrasah. Disitulah terjadinya dialog kelimuan tingkat tinggi, sarat husnul adab, antara sang murid dengan sang guru. Guru besar beliau, memberikan tawaran agar madrasah yang didirikan, dinamakan Madrasah Nahdlatuddin al Islami lil Wathan atau Nahdlatul Islam lil Wathan.
Namun, ada ruang dialog dan diskusi yang sangat “berkualitas” terjadi, dengan ketinggian adab yang tinggi, persepektif yang luas, TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memberikan penjelasan dan sang guru besar beliau menerima dengan saran, agar gerakan agama lebih diperhatikan. Argumentasi, dan penjelasan dalam dialog dan diskusi TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan guru beliau, tentang kenapa dinamakan Madrasah NWDI, berangkat dari cara berpikir yang sangat relevan dan kontekstual. Yakni, sesuai dengan konteks Indonesia dan kontek masyarakat Lombok pada saat itu. Artinya, ada sisi situasi dan tradisi masyarakat yang menjadi alalsan dan argumentasi. Itulah yang kemudian hari ini, kita kenal dengan istilah etnhopedagogi, yakni bagaimana pendidikan dikembangkan dengan memperhatikan dan memanfaatkan tradisi dan modal budaya, sebagai salah satu kekuatan penting, dan jauh sebelum itu TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri Madrasah NWDI sudah mempraktikan secara empiris.
Dalam perkembangannya, Madrasah NWDI mengalami akselerasi dan tranformasi yang cukup pesat. Masyarakat Lombok khususnya, seperti mendapatkan lampu pijar, obor semangat kehidupan dan oase bagi sejarah masa depannya, sejarah akan masa depan anak cucunya, melalui pendidikan umum dan agama. Relevan dengan hajat dan cita-cita awal pendirian Madrasah NWDI, yakni memfasilitasi kebutuhan, hasrat dan keinginan masyarakat pada saat itu, untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islam dan ilmu pengetahuan umum. Madrasah NWDI, telah menjadi bagian penting dalam sejarah jihad (perlawanan) dan perjuangan bangsa Indonesia, keluar dari keterbelakangan dan kebodohan.
Universalitas nilai-nilai ilmu pengetahuan, yang diajarkan di Madrasah NWDI, telah menjadi bagian dari sikap dan praktik berkehidupan santri dan alumni Madrasah NWDI, yang berkarakter, inklusif, moderat, cinta tanah air dan menempatkan kepentingan agama, bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya. Konstribusi Madrasah NWDI, tidak bisa dinafikan dalam kiprah membangun sumber daya bangsa, sejak pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Bupati Lotim Buka Turnamen IPSI 2026 Tingkat Kabupaten
Madrasah NWDI hari ini, tentu tidak hanya pada sekedar posisi mempertahankan eksistensi, tetapi harus mampu menjadi solusi yang efektif, bagi problematika kehidupan sosial masyarakat, agama bangsa dan negara. Madrasah NWDI, harus terus berikhtiar secara sistemik, menghadirkan sistem pendidikan yang inovatif-transformatif, relevan dan kontekstual sesuai tuntutan dan perkembangan zaman, dengan tidak melepas keaslian (genuinitiy), sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar sejarah yang kuat. Wallahu’alam. (*)
Editor : Kimda FaridaSumber : tulisan penulis