Oleh: Sambirang Ahmadi
(Ketua Komisi III DPRD NTB, Mahasiswa Doktoral UIN Mataram)
Nada sumbang mengenai manfaat ekonomi MotoGP Mandalika mengemuka di dunia maya. Dipicu oleh pernyataan mantan Bupati Lombok Timur, Ali Bin Dachlan.
Beliau mempertanyakan klaim dampak ekonomi MotoGP yang diperkirakan tembus Rp5 triliun, sementara penyelenggaraannya disebut masih menghadapi persoalan kerugian finansial.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan penjelasan dari perspektif berbeda. Menurut pemerintah, kerugian perusahaan penyelenggara tidak dapat serta-merta disamakan dengan kerugian ekonomi daerah.
Perbedaan pandangan ini menarik untuk dicermati, karena memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan berskala internasional dapat dinilai melalui ukuran keberhasilan yang berbeda.
Ali BD menempatkan perhatian pada akuntabilitas finansial. Sementara pemerintah menekankan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Keduanya mengangkat persoalan yang relevan.
Namun, jika perdebatan hanya berhenti pada pertentangan antara angka kerugian dan besarnya dampak ekonomi, kita justru kehilangan kesempatan untuk mengevaluasi MotoGP secara lebih utuh.
Dalam perspektif ekonomi publik, persoalan mendasarnya bukan sekadar apakah penyelenggara mengalami keuntungan atau kerugian, ataupun seberapa besar perputaran uang yang terjadi selama MotoGP.
Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat bersih yang dihasilkan bagi masyarakat, siapa yang menikmatinya, dan apakah manfaat tersebut sebanding dengan sumber daya yang digunakan.
Tiga Pisau Analisis
Untuk memahami persoalan ini, setidaknya terdapat tiga pisau analisis yang bisa dipakai. Pertama, financial performance, yaitu kinerja keuangan penyelenggara.
Ukuran ini mempertemukan pendapatan dengan biaya yang ditanggung perusahaan, termasuk kewajiban komersial, biaya operasional, dan pembiayaan kegiatan. Dari sini dapat diketahui apakah penyelenggaraan MotoGP secara bisnis menguntungkan atau justru membutuhkan dukungan finansial berkelanjutan.
Kedua, economic impact analysis, yang mengukur dampak kegiatan terhadap aktivitas perekonomian. Kehadiran penonton menciptakan permintaan terhadap akomodasi, transportasi, makanan, perdagangan, dan berbagai jasa lainnya.
Permintaan tersebut selanjutnya mendorong aktivitas ekonomi melalui keterkaitan antarsektor. Ketiga, economic cost-benefit analysis (CBA), yang menilai apakah keseluruhan manfaat ekonomi dan sosial yang dihasilkan melampaui biaya ekonomi yang ditanggung masyarakat.
Pendekatan ini mempertimbangkan bukan hanya transaksi yang terjadi, tetapi juga tambahan nilai ekonomi, biaya peluang, dampak eksternal, dan manfaat jangka panjang.
Ketiga pendekatan tersebut menjawab pertanyaan berbeda. Karena itu, tidak tepat menggunakan kerugian perusahaan sebagai satu-satunya ukuran kegagalan ekonomi MotoGP. Tetapi sama tidak tepatnya apabila angka dampak ekonomi yang besar dianggap otomatis membuktikan bahwa penyelenggaraan tersebut telah memberikan manfaat bersih yang optimal.
Menguji Angka Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi dari penyelenggaraan MotoGP tahun 2025 sekitar Rp4,96 triliyun (Lihat studi LETMI ITB, 2026)). Kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama ITDC dan MGPA yang diluncurkan 30 September 2026 memperkirakan dampak ekonomi MotoGP 2025 dalam kisaran Rp2,7–4,7 triliun.
Tahun ini, pemerintah memproyeksikan dampak ekonominya tembus Rp5 triliun. Tentu salah satu vatiabel yang diperhitungkan adalah animo kehadiran penonton.
Menurut rilis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (13 Oktober 2026), penonton MotoGP Mandalika 2026 secara akumulatif tembus 157.875 orang.
Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya skala kegiatan dan potensi aktivitas ekonomi yang menyertainya. Namun, angka kehadiran perlu dibedakan dari jumlah pengunjung khusus. Demikian pula, proyeksi dampak ekonomi harus dibedakan dari realisasi manfaat yang telah diverifikasi.
Dalam analisis ekonomi regional, besarnya transaksi atau perputaran uang belum tentu sama dengan tambahan nilai ekonomi bersih.
Sebagian pengeluaran dapat merupakan perpindahan konsumsi dari kegiatan lain, sebagian manfaat dapat mengalir keluar daerah, dan sebagian aktivitas ekonomi mungkin tetap terjadi meskipun MotoGP tidak diselenggarakan.
Di sinilah pentingnya metode pembanding yang masuk akal, dengan menggunakan pendekatan counterfactual (Gertler, dkk. 2016), yakni membandingkan kondisi ekonomi dengan adanya MotoGP dan kondisi yang secara masuk akal diperkirakan terjadi tanpa kegiatan MotoGP .
Sebagai contoh, meningkatnya okupansi hotel selama penyelenggaraan merupakan indikator positif. Tetapi tambahan manfaat yang benar-benar disebabkan MotoGP perlu dihitung setelah mempertimbangkan tingkat okupansi normal, pola musiman kunjungan wisatawan, serta kemungkinan pergeseran wisatawan reguler akibat penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Hal serupa berlaku pada belanja pengunjung. Pengeluaran wisatawan dari luar NTB berpotensi membawa tambahan permintaan ke perekonomian daerah. Sementara belanja penduduk lokal perlu diteliti lebih jauh karena sebagian mungkin hanya menggantikan konsumsi yang biasanya dilakukan pada kegiatan lain.
Selain itu, terdapat persoalan kebocoran ekonomi (economic leakage), yaitu bagian dari manfaat ekonomi yang mengalir keluar daerah melalui pembelian barang dan jasa, pembayaran tenaga kerja, atau keuntungan usaha yang tidak seluruhnya tinggal di NTB.
Karena itu, semakin besar angka dampak ekonomi yang disampaikan kepada publik, semakin penting pula transparansi mengenai metodologi, asumsi, cakupan wilayah, dan komponen pembentuknya.
Menghitung Manfaat dan Biaya Secara Utuh
Pendekatan CBA dapat membantu mempertemukan persoalan kerugian finansial dan manfaat ekonomi dalam satu kerangka evaluasi yang lebih menyeluruh.
Baca Juga: Pemkab Lotim Luncurkan Aplikasi Sigumi untuk Mitigasi Bencana Gunung Rinjani
Pada sisi manfaat, MotoGP berpotensi menciptakan tambahan pendapatan, kesempatan kerja, peningkatan nilai tambah sektor pariwisata, perluasan pasar produk lokal, dan promosi destinasi internasional. Dalam jangka panjang, kegiatan ini juga dapat memberikan manfaat berupa peningkatan keterampilan, penguatan ekosistem industri olahraga, dan pemanfaatan infrastruktur pariwisata.
Tetapi seluruh manfaat tersebut perlu diukur berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Nilai promosi internasional, misalnya, tidak cukup hanya diasumsikan dari besarnya eksposur media. Perlu diteliti sejauh mana eksposur tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kunjungan, lama tinggal, pengeluaran wisatawan, dan investasi.
Pada sisi biaya, evaluasi perlu mencakup biaya penyelenggaraan, penggunaan sumber daya publik, biaya pemeliharaan infrastruktur yang relevan, dampak lingkungan, serta biaya peluang (opportunity cost). Konsep biaya peluang menjadi penting karena sumber daya ekonomi bersifat terbatas. Setiap rupiah yang digunakan untuk mendukung suatu kegiatan pada prinsipnya memiliki alternatif penggunaan.
Oleh sebab itu, manfaat MotoGP perlu dibandingkan dengan seluruh biaya relevan dan alternatif pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
Dalam evaluasi investasi publik, salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Economic Net Present Value (ENPV), yaitu selisih nilai manfaat ekonomi sekarang dan biaya ekonomi sepanjang periode analisis.
Penilaian ini kemudian dilengkapi analisis sensitivitas untuk melihat bagaimana hasilnya berubah apabila asumsi jumlah pengunjung, belanja wisatawan, biaya penyelenggaraan, atau manfaat jangka panjang tidak sesuai proyeksi. Tentu pendekatan ini tidak sederhana. Tetapi kompleksitas tersebut justru menunjukkan bahwa keberhasilan MotoGP tidak semestinya direduksi menjadi satu angka keuntungan perusahaan ataupun satu angka dampak ekonomi.
Economic Impact Versus Public Value
Ada dimensi yang lebih luas dalam menilai MotoGP sebagai bagian dari kebijakan pembangunan, yaitu nilai publik (public value).
Mark H. Moore (1995) melalui pemikirannya mengenai Creating Public Value menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sektor publik tidak cukup dinilai dari efisiensi organisasi, tetapi juga dari nilai substantif yang dihasilkan bagi masyarakat, legitimasi dan dukungan publik, serta kapasitas operasional untuk mewujudkannya.
Dalam konteks Mandalika, nilai publik tidak hanya berkaitan dengan pendapatan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesempatan usaha, kualitas lapangan kerja, penguatan identitas destinasi, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pertanyaannya kemudian, seberapa jauh masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi MotoGP? Jika permintaan hotel, restoran, dan jasa pariwisata meningkat, tetapi kebutuhan barang dan jasanya lebih banyak dipenuhi dari luar daerah, maka sebagian manfaat ekonomi akan meninggalkan NTB.
Sebaliknya, jika kebutuhan tersebut semakin banyak dipasok oleh petani, nelayan, industri pengolahan, UMKM, dan pelaku ekonomi kreatif lokal, maka dampak ekonomi akan memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan struktur produksi daerah.
Baca Juga: Temu Karya Karang Taruna Ke-V Kota Mataram
Inilah yang disebut dengan backward and forward linkages: pertumbuhan satu sektor dapat mendorong sektor lain melalui hubungan pasokan, produksi, distribusi, dan permintaan.
MotoGP seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperkuat hubungan tersebut. Produk pertanian lokal dapat masuk ke rantai pasok hotel dan restoran. Industri kreatif dapat berkembang melalui permintaan cendera mata dan produk budaya.
Pelaku transportasi dan jasa lokal dapat memperoleh kesempatan usaha yang lebih luas. Dengan demikian, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada jumlah UMKM yang dilibatkan atau banyaknya transaksi selama kegiatan. Ukuran yang lebih substantif adalah peningkatan kapasitas produksi, nilai tambah lokal, keberlanjutan kontrak usaha, dan kemampuan pelaku ekonomi NTB memasuki pasar yang lebih luas.
Memperkuat Manfaat Fiskal Daerah
Sebagai bagian dari pembangunan ekonomi NTB, MotoGP juga perlu dievaluasi dari perspektif fiskal. Peningkatan aktivitas pariwisata berpotensi memperbesar penerimaan pajak daerah, terutama dari jasa perhotelan, makanan dan minuman, serta aktivitas lain yang menjadi objek pendapatan daerah.
Namun, peningkatan omzet usaha tidak otomatis sama dengan peningkatan penerimaan pajak. Besarnya kontribusi fiskal bergantung pada struktur transaksi, kepatuhan wajib pajak, sistem pemungutan, dan kewenangan perpajakan masing-masing tingkat pemerintahan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu mengembangkan pengukuran tambahan penerimaan fiskal yang secara wajar dapat diatribusikan kepada MotoGP. Pengukuran tersebut harus mempertimbangkan tren normal penerimaan, faktor musiman, serta perubahan kondisi ekonomi yang tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan kegiatan MotoGP.
Evaluasi juga perlu memperhitungkan dukungan fiskal dan nonfiskal pemerintah, termasuk biaya layanan publik tambahan yang secara langsung berkaitan dengan penyelenggaraan. Dengan pendekatan ini, kita dapat mengetahui bukan hanya besarnya aktivitas ekonomi yang tercipta, tetapi juga sejauh mana kegiatan tersebut memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Momentum Evaluasi
Celetukan Ali BD dan penjelasan pemerintah daerah bagus dijadikan momentum untuk membangun sistem evaluasi yang lebih terbuka dan terintegrasi. Untuk itu, diperlukan kerangka evaluasi MotoGP Mandalika berbasis tiga neraca: Pertama, neraca finansial penyelenggara, yang memuat pendapatan, biaya, kewajiban kontraktual, dan kebutuhan dukungan pembiayaan.
Kedua, neraca dampak dan manfaat ekonomi, yang mengukur tambahan nilai tambah, pekerjaan, belanja pengunjung luar daerah, keterlibatan pemasok lokal, serta manfaat bersih dengan pembanding kondisi tanpa MotoGP. Ketiga, neraca fiskal pemerintah, yang menghitung tambahan penerimaan provinsi dan kabupaten/kota menurut jenis pajaknya, sekaligus biaya layanan publik dan dukungan anggaran yang relevan.
Ketiga neraca tersebut perlu dilengkapi dengan indikator distribusi manfaat, keterlibatan pelaku ekonomi lokal, dampak lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi kawasan Mandalika. Hasil evaluasi tersebut idealnya dapat dipublikasikan secara terbuka agar muncul kesadaran kolektif masyarakat NTB, betapa penting dan strategisnya even internaional MotoGP bagi akselerasi kemajuan daerah.
Sebagai aset strategis yang telah membawa NTB masuk dalam jaringan even olahraga internasional, Mandalika perlu terus dijaga dan dikembangkan. Harus kita akui bahwa MotoGP Mandalika telah menunjukkan kemampuannya menarik perhatian dunia. Ini berkah luar biasa!
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post