LombokPost - Pada Oktober 1987, Toyota memperkenalkan sebuah kendaraan konsep yang tak biasa: Toyota GTV, sebuah mobil berbasis Toyota Carina dan dipersenjatai dengan mesin turbin gas (gas turbine).
Toyota GTV mengusung ide “turbin gas” sebagai penggerak utama, sebuah teknologi yang kemudian jarang digunakan pada mobil penumpang.
Kata kunci “Toyota GTV”, “turbin gas” dan “mesin gas turbine” sangat tepat untuk menggambarkan ambisi Toyota pada era tersebut.
Toyota GTV adalah mobil konsep elegan yang didesain sebagai proof-of-concept untuk produksi skala kecil.
Toyota bahkan membiarkan jurnalis dari majalah Car Magazine mengulas Toyota GTV pada 1986, menunjukkan betapa seriusnya Toyota dengan proyek mobil turbin gas ini.
Namun, ulasan mencatat bahwa lag alami mesin turbin masih menjadi penghambat utama. Di sisi lain, sistem transmisi otomatis CVT yang dipakai sangat diapresiasi; transmisi ini kemudian menjadi fondasi bagi transmisi otomatis Toyota dan bahkan di dasar gearbox Toyota Prius.
Pada aspek teknis, mesin “Gas Turbine II” pada Toyota GTV menggunakan turbin satu tahap untuk kompresor dan turbin kedua untuk output ke poros penggerak; turbin kompresor berputar hingga ±68.000 rpm, output hingga ±65.000 rpm.
Regenerator digunakan untuk mengambil panas buang dan meningkatkan efisiensi. Output mesin dikurangi 10,13 kali sebelum transmisi, menghasilkan tenaga maksimum 148 hp dan torsi 333 N⋅m.
Semua ini menunjukkan bahwa eksperimen dengan mobil turbin gas bukanlah sekadar gimmick.
Namun saat ini, meskipun kata kunci “turbin gas” dan “mobil turbin” masih muncul dalam liputan retrospektif otomotif, Toyota GTV tetap menjadi proyek yang tidak pernah memasuki produksi massal.
Seiring dengan perkembangan teknologi otomotif, Toyota membuka bahwa proyek turbin gas telah dihentikan setelah munculnya Toyota GTV sebagai puncak eksperimen mobil turbin Toyota.
Toyota tampaknya telah mengalihkan fokus riset ke teknologi hibrida, fuel cell hidrogen, dan baterai solid-state.
Liputan modern menyebut Toyota GTV bukan sebagai mobil masa depan yang akan diproduksi, melainkan sebagai simbol ambisi dan eksperimen teknologi otomotif di era akhir 1980-an.
Karenanya, kata kunci “Toyota GTV”, “turbin gas”, dan “konsep mobil Toyota” sering muncul di artikel retrospektif yang mengulas bagaimana teknologi transmisi CVT dari proyek ini ternyata hidup dalam produk Toyota berikutnya, meski mobil turbin itu sendiri tidak pernah dijual.
Bagi generasi Milenial dan Gen Z yang kini menikmati mobil listrik atau hibrida, Toyota GTV adalah contoh bagaimana inovasi ekstrem bisa jadi tidak diteruskan massal, tetapi tetap meninggalkan warisan: dalam hal transmisi CVT dan pendekatan teknologi “apa berikutnya” pada otomotif.
Membahas Toyota GTV hari ini bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga refleksi terhadap bagaimana industri otomotif berevolusi, dari eksperimen turbin gas ke hibrida dan listrik.
Kata kunci seperti “mesin gas turbine”, “konsep mobil Toyota”, dan “teknologi otomotif Toyota” menjadi penting karena menunjukkan perubahan arah riset dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Bagi pembaca muda (Milenial/Gen Z) yang memerhatikan tren otomotif dan teknologi, kisah Toyota GTV menawarkan insight bagaimana suatu ambisi teknologi tinggi bisa gagal produksi, namun tetap memberikan dampak lewat inovasi lain.
Pada akhirnya, Toyota GTV tetap menjadi salah satu nama paling menarik dalam sejarah konsep mobil: mobil turbin gas yang ambisius, tapi tidak berjalan ke jalur produksi massal.
Kata kunci “Toyota GTV” dan “turbin gas” akan terus relevan sebagai pencarian bagi penggemar otomotif yang ingin tahu “apa jadinya jika mobil turbin pernah diproduksi”.
Dan bagi Toyota, proyek ini menjadi batu loncatan untuk teknologi lain, termasuk transmisi CVT yang kini banyak dipakai.
Dengan demikian, Toyota GTV bukan hanya mobil konsep, tetapi bagian dari narasi besar perubahan otomotif: dari turbin ke listrik, dari ide ekstrem ke realitas massal. (***)
Editor : Alfian Yusni