lombokpost - Akio Toyoda kembali menjadi sorotan dunia otomotif setelah secara terbuka mengaku masih lebih menyukai mobil bermesin bensin dibanding kendaraan listrik.
Pernyataan bos Toyota Motor Corporation itu langsung memicu perdebatan di tengah tren global yang semakin agresif menuju era mobil listrik atau electric vehicle (EV).
Dalam wawancara yang dikutip berbagai media otomotif internasional, Akio Toyoda menyebut dirinya masih mencintai “bau bensin dan suara mesin yang berisik”.
Baca Juga: Wujud Freelander 8 Terungkap, SUV Listrik Hasil Kolaborasi Chery dan Land Rover Siap Libas Offroad
Menurutnya, sensasi emosional dan pengalaman berkendara dari mesin pembakaran internal masih memiliki tempat khusus bagi para pecinta otomotif.
Pernyataan Akio Toyoda tersebut sekaligus menegaskan posisi Toyota yang selama ini dikenal tidak sepenuhnya meninggalkan mesin bensin meski industri otomotif dunia sedang berlomba mengembangkan mobil listrik.
Toyota justru memilih strategi multi teknologi dengan tetap mengembangkan EV, hybrid, hidrogen, hingga mesin pembakaran internal secara bersamaan.
Akio Toyoda menilai masa depan industri otomotif tidak bisa hanya bergantung pada kendaraan listrik berbasis baterai.
Sebab, setiap negara memiliki kebutuhan pasar, infrastruktur, dan kemampuan ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, Toyota memilih pendekatan yang lebih fleksibel demi mencapai target netralitas karbon.
“Musuh sebenarnya adalah karbon, bukan mesin pembakaran internal,” ujar Toyoda dalam salah satu wawancara yang dikutip media internasional.
Strategi Toyota ini membuat perusahaan tetap mempertahankan pengembangan mobil performa tinggi melalui divisi Toyota Gazoo Racing atau GR.
Beberapa model seperti GR Yaris, GR Corolla, hingga Supra masih menjadi simbol bahwa mesin bensin belum benar-benar mati di tangan Toyota.
Bahkan, Akio Toyoda menegaskan mobil sport sejati menurut dirinya masih identik dengan suara mesin dan aroma bensin.
Baca Juga: Ifan Seventeen Terkejut Lihat Kaka Slank Keluar Musholla, Sebut Sosok Panutan
Pernyataan tersebut disambut antusias banyak penggemar otomotif yang menilai kendaraan listrik belum mampu sepenuhnya menghadirkan sensasi emosional seperti mobil konvensional.
Di sisi lain, Toyota tetap agresif mengembangkan mobil listrik generasi terbaru. Produsen otomotif asal Jepang itu masih menginvestasikan miliaran dolar untuk pengembangan baterai, platform EV baru, hingga teknologi hidrogen. Toyota juga terus memperluas pasar kendaraan elektrifikasi di berbagai negara.
Meski begitu, Akio Toyoda beberapa kali mengingatkan bahwa transisi menuju mobil listrik secara penuh juga memiliki tantangan besar.
Baca Juga: 59 Tahun BULOG, Menjaga Dapur Bangsa Tetap Berasap
Salah satunya adalah ancaman terhadap jutaan tenaga kerja di industri otomotif yang selama ini bergantung pada teknologi mesin pembakaran internal.
Pendekatan berbeda Toyota kini mulai mendapat perhatian setelah pasar mobil listrik global mengalami perlambatan pertumbuhan di sejumlah wilayah.
Di saat beberapa produsen otomotif mulai meninjau ulang target elektrifikasi mereka, penjualan mobil hybrid Toyota justru terus meningkat signifikan.
Akio Toyoda pun menegaskan bahwa Toyota tidak anti terhadap mobil listrik. Namun, menurutnya, solusi menuju masa depan ramah lingkungan harus dilakukan melalui kombinasi berbagai teknologi, bukan hanya mengandalkan EV semata.
Pernyataan Akio Toyoda kembali menunjukkan bahwa perdebatan antara mobil bensin dan mobil listrik masih akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah gempuran era elektrifikasi, Toyota memilih tetap berjalan di dua jalur sekaligus: mempertahankan DNA mesin bensin sambil terus membangun masa depan kendaraan listrik. (***)
Editor : Alfian Yusni