LombokPost – Perkembangan kendaraan listrik tidak hanya berkutat pada kapasitas baterai dan jarak tempuh.
Teknologi motor listrik juga terus dikembangkan untuk menghasilkan tenaga yang lebih efisien, sekaligus menjaga konsumsi energi tetap rendah.
Salah satu inovasi tersebut dikembangkan GAC melalui teknologi Quark Electric Drive.
Teknologi ini memanfaatkan material amorphous alloy pada stator motor listrik untuk menekan kehilangan energi atau iron loss yang muncul ketika motor bekerja.
Baca Juga: ASDP Lembar Hadirkan KMP Port Link, Perkuat Konektivitas Angkutan Barang dan Penumpang NTB-Jawa
Iron loss terjadi akibat perubahan medan magnet pada stator ketika motor beroperasi.
Semakin tinggi kecepatan putar dan frekuensi kerja motor, semakin besar tantangan untuk mengendalikan kehilangan energi tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam pengembangan sistem penggerak kendaraan listrik.
GAC kemudian menggunakan amorphous alloy yang memiliki struktur atom tidak beraturan.
Baca Juga: Puluhan UMKM NTB Dibekali Ilmu Digital Marketing
Material tersebut memiliki permeabilitas magnetik tinggi dan tingkat iron loss rendah.
Sebelumnya, material serupa lebih banyak digunakan pada sektor teknologi tinggi, seperti dirgantara, pertahanan, hingga transformator tegangan ekstra tinggi.
Namun, penerapannya pada kendaraan listrik bukan perkara mudah.
Amorphous alloy sangat tipis, keras, sekaligus rapuh.
Karakteristik itu membuat proses pemotongan, pembentukan, hingga penyusunan stator harus dilakukan dengan tingkat presisi tinggi.
GAC mengembangkan proses manufaktur bersama mitra industrinya untuk mengolah amorphous ribbon dengan ketebalan 25 mikron atau 0,025 milimeter.
Baca Juga: Volkswagen Kenalkan Mission Efficiency, Mobil Listrik Paling Hemat dan Efisien
Ketebalan tersebut sekitar seperlima dari ultra-thin silicon steel konvensional.
Material ini memiliki saturation magnetic induction hingga 1,68 Tesla dan iron loss 5,7 W/kg.
Angka tersebut diklaim sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan ultra-thin silicon steel.
Untuk mengubah material tipis tersebut menjadi komponen yang sesuai kebutuhan otomotif, GAC menerapkan sejumlah proses.
Baca Juga: Mercedes-Benz C 300 4MATIC Electric, Sedan Mewah Berteknologi Canggih
Di antaranya multi-layer compounding, precision stamping, lamination, Vacuum Pressure Impregnation (VPI), hingga drying.
Teknologi high-speed precision stamping juga mampu bekerja hingga 200 strokes per menit.
Sementara pressure-vibration coordinated lamination menghasilkan stacking factor stator core lebih dari 92 persen.
Rangkaian inovasi tersebut diterapkan pada GAC Quark Electric Drive 2.0 Amorphous-Carbon Fiber Super Electric Drive.
Sistem ini menggabungkan stator berbasis amorphous alloy dengan rotor berbasis carbon fiber.
Berdasarkan pengujian yang disertifikasi China Automotive Engineering Research Institute (CAERI) pada 2025, motor tersebut mencatat peak efficiency 99,03 persen.
Baca Juga: XPeng G9L Debut Oktober 2026, SUV Listrik Bongsor Bertenaga 577 Dk
Sementara sistem electric drive mencatat CLTC operating efficiency 94,184 persen.
Teknologi tersebut kini diterapkan pada sejumlah kendaraan listrik GAC, termasuk AION N60, 2027 AION RT, dan 2027 AION i60.
Editor : Kimda FaridaSumber : kabaroto.com