Berbicara kesiapan pembukaan kembali pondok, ditegaskan pihaknya sudah sangat siap. Mereka mulai mengatur dan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Mulai dari infrastruktur, hingga sistem pembelajaran, yang bisa diterapkan pada masa kenormalan baru tersebut.
”Kami melihat mana materi yang sesuai kurikulum, pola di dalam asrama kita atur dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Dia mengatakan belajar dari rumah (BDR) banyak sisi negatifnya. Menurut laporan orang tua atau wali, ada pergeseran akhlak santri. Misalnya yang paling menonjol keterikatan anak-anak dengan gawai (gadget). ”Ini akan menjadi pekerjaan berat bagi kami, bagaimana mengubah kebiasaan itu,” tegas Fakhruddin.
Kendati demikian, pihaknya tidak bisa gegabah membuka pondok. Dari survei internal yang dilakukan kepala sekolah di lingkungan Ponpes Abu Hurairah, 60 persen orang tua menolak dilakukan pembelajaran tatap langsung. ”Ini tetap menjadi bahan pertimbangan kami, karena mereka juga pihak yang tidak bisa diabaikan dalam situasi ini,” terang dia.
Karenanya, untuk mengantisipasi lamanya kegiatan belajar dari rumah, dia telah menyiapkan strategi. Diantaranya, sekarang sedang berlangsung pelatihan guru yang dilakukan secara daring, terkait dengan metode dan materi pelajaran.
”Guru-guru sedang dilatih, bagaimana bikin video pelajaran yang bagus, berapa durasinya, pemilahan materinya seperi apa, sampai tahap upload,” jelasnya.
Tak kalah penting, Ponpes Abu Hurairah memperbarui situs resmi, termasuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sistematis, terhadap cara penilaian guru terhadap hasil kerja para santri. ”Apakah santri menonton video itu, kalau sebaliknya bagaimana berikan penilaian, ya hal-hal semacam ini yang kita siapkan sekarang, kalau daring masih berlanjut,” tandasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida