Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Bakal Punya Pabrik Penggilingan Beras Modern

Baiq Farida • Kamis, 2 Juli 2020 | 14:27 WIB
BEGABAH: Sejumlah buruh tani sedang merontokkan padi secara tradisional di sawah, beberapa waktu lalu.
BEGABAH: Sejumlah buruh tani sedang merontokkan padi secara tradisional di sawah, beberapa waktu lalu.
MATARAM-Pabrik penggilingan beras modern atau modern rice milling plant (MRPM) akan dibangun Perum Bulog NTB. ”Mesin MRMP dengan spesifikasi 1 dryer 120 ton per hari akan dibangun di Sumbawa,” kata Eri Nurul Hilal, perwakilan Bulog Divre NTB, dalam pertemuan Forkopimda NTB, di rumah dinas kepala BI NTB, Selasa (30/6/2020).

Selain MRPM, Bulog juga akan membangun Corn Drying Center (CDC) di Dompu dengan spesifikasi 90 ton per hari. Serta rice to rice di Lombok Timur dengan spesifikasi 168.000 ton per 6 ton per jam. ”Itu semua dilakukan guna mendukung ketahanan pangan NTB,” katanya.

Hilal menjelaskan, seluruh berkas sudah disiapkan Perum Bulog. Namun mereka masih menunggu persetujuan Kementerian BUMN. Menurutnya, pandemi covid-19 membuat anggaran kementerian diefisiensikan dengan skala proritas. Untuk penyerapan pengadaan gabah petani. ”Ini untuk menjaga stok kebutuhan nasional dan cadangan beras pemerintah (CBP) agar harga pangan tetap stabilisasi,” katanya.

Di NTB, Bulog telah membeli 56.448 ton gabah Rp 300 miliar dan beras 14.776 ton Rp 122,6 miliar. Kemudian dana bulog yang beredar di desa kurang lebih Rp 422,6 miliar. ”Pembelian terus dilakukan untuk kebutuhan stok nasional dan stabilisasi harga beras,” jelasnya.

Di tengah pandemi covid-19, ketahanan pangan tengah diuji. Jangan sampai ketersediaan pangan berkurang. Hal itu bisa menyebabkan krisis lebih parah lagi.

Gubernur NTB H Zulkieflimansyah dalam pertemuan itu mendorong Bulog mempercepat pembangunan MRPM di NTB. ”Dengan MRPM, gabah di NTB tidak lagi dikirim ke luar daerah dan balik ke NTB menjadi beras berkualitas,” katanya.

Ia membayangkan, hadirnya industri pengolahan itu tidak semata-mata untuk mengolah. Tapi, memeperbaharui kemampuan masyarakat NTB pada bidang tersebut. ”Tidak mungkin masyarakat bisa meningkatkan kapasitasnya jika tidak ada industri pengolahan,” ujarnya.

NTB, kata Zul, banyak melahirkan masyarakat pandai bicara tapi nyaris tanpa ekpresi di bidang industri. Itu semua menjadikan masyarakat hanya pandai berdebat. ”Dengan industrialisasi, cara pandang masyarakat kita akan berubah,” harapnya.

Bila industri pengolahan gabah terwujud, itu akan memancing industri lain hadir di NTB. “Bahkan dalam skala lebih besar lagi,” ujarnya. (ili/r5)

  Editor : Baiq Farida
#CDC #Pabrik penggilingan beras modern #MRPM #Bulog Divre NTB