Pelaksanaan MPLS resmi dilakukan sekolah pada 20-26 Juli. Sedangkan 13-18 Juli, dimanfaatkan satuan pendidikan untuk persiapan. ”Jadi ada enam hari MPLS,” imbuhnya.
Dinas Dikbud NTB segera mengeluarkan juknis, sebagai panduan pelaksanaan kegiatan. Gambaran penerapan sistem blok atau shift pada MPLS, misalnya Senin sekolah menghadirkan siswa baru dengan nomor absen 1-50 orang. Selasa nomor absen 51-100 dan seterusnya. ”Kegiatan ini ada batas waktunya, paling lama empat jam per hari,” jelas dia.
Pihaknya tidak bisa menggelar MPLS secara daring. Alasannya, bagi siswa baru SMA, mereka belum memilih jurusan atau peminatan, apakah ingin mengambil Bahasa, IPA atau IPS. Siswa akan memilih ketika diperkenalkan terkait jurusan dan cara belajar dari kegiatan MPLS.
”Kalau dilakukan daring, anak-anak tidak bisa mendapatkan dialognya, dan tidak semua terjangkau internet dan punya fasilitas, jadi nggak bisa memutuskan jurusannya itu,” jelas Aidy.
Sehingga harus ada tatap muka secara. Selama kegiatan, siswa baru akan mendapat gambaran umum dan pengenalan terhadap jurusan yang dipilih. Bagi siswa baru SMK yang sudah memilih kompetensi keahlian, sekolah akan menjelaskan, bagaimana praktik, jam mengajar, siapa guru mata pelajaran, wali kelas dan lainnya. ”Mereka harus dikenalkan secara langsung,” tegas dia.
Rencana pelaksanaan MPLS juga mengantisipasi beberapa hal. Utamanya, penolakan orang tua, bisa jadi melarang anaknya mengikuti kegiatan. Dinas Dikbud NTB akan membuat surat edaran terkait hal itu.
”Orang tua bisa kok nungguin anaknya sampai pulang, atau kalau tetap menolak, sekolah akan kami instruksikan untuk membuat info grafis,” tandasnya.
Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB Purni Susanto menambahkan, pelaksanaan agenda tahunan ini tentu berbeda dari biasanya. Materi yang disampaikan terkait pengenalan tata tertib sekolah, kurikulum dan ekstra kurikuler, pembinaan karakter, wawasan kebangsaan, profil sekolah, guru, dan sebagainya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida