Sejauh ini, masyarakat dianggap sudah paham pentingnya pendidikan pra-SD. ”Praktik semacam ini sudah lama terjadi,” ujarnya.
Balita usia 1-3 tahun di masukkan ke Kelompok Bermain (KB). Selanjutnya balita usia 3-5 tahun melanjutkannya ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-kanak (TK).
Selama penyusunan perwal, Disdik Mataram melibatkan sejumlah pihak terkait. Mulai dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA), BP PAUD Dikmas, hingga Bagian Hukum Setda Kota Mataram.
”Kami tetap meminta masukan serta mencermati apa saja hal-hal yang harus kita muat dalam aturan ini,” tegas mantan kepala SMAN 1 Mataram ini.
Penekanannya, anak diarahkan mempelajari berbagai hal sesuai usia dan kemampuan perkembangan otaknya. Sesuai namanya, pada pra sekolah, anak dilatih mempersiapkan diri memasuki masa sekolah.
Selain mendidik anak sambil bermain, juga berfokus pada pengembangan kemandirian. Tak ketinggalan kedisiplinan dan kehidupan sosial pada anak.
”Termasuk tentang kesehatan, kebugaran hingga kecerdasan anak,” kata Fatwir.
Dengannya anak-anak akan belajar beradaptasi. Saat menjalani pendidikan pra-SD, anak-anak dilatih secara fisik dan mental. ”Pas masuk SD sudah siap. Harapan kami tidak ada lagi kendala yang sangat sulit,” jelas dia.
Dengan adanya aturan tersebut, Pemkot Mataram bisa memberi dukungan terhadap pendidikan pra-SD. Baik dari segi anggaran atau kebijakan lainnya.
”Misalnya anggaran dan infrastruktur. Kira-kira mana yang bisa dibantu, nanti ada juga mana bagian dari masyarakat, mana bagian dari elemen-elemen yang lain. Supaya kita bisa membagi peran masing-masing,” pungkas Fatwir.
Terpisah, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Joko Jumadi mengatakan, harapannya akan efektivitas aturan tersebut. Yakni membuat KB dan PAUD/TK lebih holistik dan terintegrasi dalam memberikan layanan kepada anak-anak.
”Supaya kualitas pendidikan kita lebih baik lagi,” ujar dia.
Pada masa pra-SD, lembaga pendidikan tersebut tidak lagi menekankan pembelajaran pada baca tulis hitung (calistung). Tetapi mendepankan pendidikan karakter.
”Selama ini, pendidikan pra-SD banyak diarahkan untuk calistung, padahal belum waktunya anak-anak belajar tentang itu, maka sekarang penguatan di pendidikan karakter lebih penting, untuk anak-anak di masa golden age ini,” pungkasnya memberi sorotan. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida