”Kalau pandemi, pembelajaran dilakukan melalui guru kunjung, kedepannya kita datangkan guru tamu ke sekolah,” ujar Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan.
Pola semacam ini, merupakan bentuk inovasi pembelajaran SMK. Sumber belajar tidak semata dari guru. ”Ada variasinya,” terang dia.
Guru tamu berasal dari Iduka. Mereka memberikan materi sesuai perkembangan dan kebutuhan dunia kerja saat ini. Pada sisi yang lain, siswa diharapakan lebih memahami kondisi di lapangan yang nantinya mereka hadapi langsung.
”Jadi fungsi mereka memberikan pola pendampingan, dan memberi penguatan kompetensi keahlian yang ada di SMK,” terang Aidy.
Penguatan materi dan praktik, tidak hanya untuk kebutuhan siswa. Namun barguna juga bagi tenaga pengajar. Belajar bisa dari pemberian teori secara presentasi, demo dan praktik secara langsung.
”Sehingga wawasan dan kompetensinya semakin meningkat, harapnya.
Selama mengajar di SMK, guru tamu bisa memberi penilaian terhadap hasil tugas siswa. ”Tetapi nilai akhir untuk diinput ke dalam rapor siswa, tentu kewenangan guru mata pelajaran,” sambung dia.
Guru tamu juga dihajatkan untuk mengatasi salah satu permasalahan krusial, yang dihadapi SMK selama ini. Yakni, kekurangan guru produktif.
Guru produktif adalah tenaga pendidik yang mengajar pada mata pelajaran kejuruan. ”Ini sangat bagus bagi SMK yang tidak atau sedikit memiliki guru produktif pada kompetensi keahlian tertentu, maka guru tamu ini sangat penting,” kata Aidy.
Karenanya, kepala SMK harus segera melakukan penandatangan nota kesepahaman. ”Sekolah yang inventarisir, nanti dikbud akan buat kebijakannya,” pungkasnya.
Kepala SMKN 5 Mataram H Istiqlal mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan kebijakan guru tamu. Itu dirangkum dalam program CoE atau pusat keunggulan, yang fokus pada jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).
”Kami mau mulai dari jurusan itu, jadikan satu pilot project sehingga setelah ini berhasil, maka kami akan datangkan guru tamu untuk jurusan lain,” tegasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida