Kondisi ini telah berlangsung sejak Desember 2020 lalu. Sedikitnya 24 jabatan kepala sekolah untuk SD dan SMP masih lowong. Pucuk pimpinan akhirnya dijabat oleh pelaksana tugas (plt), yang berasal dari unsur pengawas sekolah dan guru senior.
Jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah, seiring dengan banyaknya kepala sekolah yang pension. Termasuk yang pindah tugas. ”Sekitar 30-an lebih kepala sekolah akan diisi oleh plt,” terang dia.
Jika terlalu lama dijabat oleh pengawas sekolah, tentu saja beban pekerjaan mereka bertambah banyak dan berat. ”Kita tahu pengawas sekolah yang menjadi plt, juga harus mengerjakan tugas mereka melakukan monitoring ke sekolah binaannya. Apalagi sekarang ini kan lagi ujian, harus mengetahui langsung gimana situasinya,” kata dia.
Setelah itu, pengawas sekolah kembali bertugas menjadi plt kepala sekolah. ”Ini kan beban kerjanya jadi banyak,” sambung Yasin.
Belum lagi, permasalahan yang timbul di sekolah akibat plt kepala sekolah dijabat guru senior. ”Saya agak was-was ketika guru menjadi plt, walau pun itu guru senior, ya karena pengalaman tentang pengelolaan satuan pendidikan itu yang tidak ada,” ujarnya.
Akibat yang kerap terjadi, sejumlah guru mengeluh. Banyak permasalahan di sekolah yang jarang bisa terselesaikan dengan baik. ”Ada banyak keluhan,” pungkas Yasin
Kepala Disdik Mataram H Lalu Fatwir Uzali mengakui, persediaan calon kepala sekolah menipis. Harapannya segera digelar rekrutmen kepala sekolah melalui pendidikan dan pelatihan (Diklat) calon kepala sekolah.
”Nama calon kepala sekolah sudah kami serahkan ke BKPSDM, jadi tinggal diklat,” ucapnya.
”Harapannya tidak lain semoga proses rekrutmen bisa sesegara mungkin dilakukan,” tegasnya. (yun/r9)
Editor : Wahyu Prihadi