”Semua itu kami masukkan ke struktur kurikulum sekolah ini,” ujar Kepala SMAN 1 Narmada Hulwani, pada Lombok Post, Jumat (30/9).
Ada dua alasan penting mengapa sekolah begitu serius mengusung semangat sebagai sekolah berbudaya. Pertama, Kecamatan Narmada adalah pusat dan lokus kekayaan budaya. Hal itu direpresentasikan oleh situs Taman Narmada dan Taman Suranadi. ”Selain itu, sekolah kami terletak di pusat atau wilayah, yang dimana desa-desa di sekitarnya masih memegang teguh tradisi-tradisi kebudayaan,” jelasnya.
Seperti rantok, begibung, rudat, zikir zaman, tarian aik meneng, tawaq-tawaq, kamput, dan masih banyak lagi. Fakta tersebut, sangat mendukung alasan kedua. Yakni, SMAN 1 Narmada berkomitmen mengusung kebudayaan daerah.
SMAN 1 Narmada kerap menghidupkan semangat budaya, melalui kegiatan Pagelaran Budaya. Menampilkan berbagai tari dan seni tradisional hingga atraksi tarian modern. ”Semuanya dibawakan oleh siswa dan siswi kami,” tegasnya.
Di Pagelaran Budaya, warga sekolah biasanya menampilkan tari kreasi Nusantara, mengusung tema keberagaman Indonesia. Kemudian, seni tradisional tari dan alat musik rantok.
Rantok yang ditampilkan, menunjukkan sejarah tari seni yang lahir dari tradisi gotong royong. Dilakukan oleh warga dalam rangka meringankan pekerjaan keluarga yang sedang mengadakan pesta pernikahan, khitanan dan gawe beleq, hingga acara lainnya.
Rantok atau antan dan alu semula hanyalah alat penumbuk padi, ketan. Kini itu berkembang menjadi seni pertunjukan, sebagai salah satu wujud warisan budaya suku Sasak yang berasal dari Desa Nyur-lembang, Kecamatan Narmada.
Atraksi gendang beleq turut memeriahkan Pagelar Budaya SMAN 1 Narmada. Gendang beleq merupakan alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok.
Ada juga pertunjukkan bela diri merpati putih, menampilkan atraksi jurus tunggal baku, permainan tongkat, teko, dan lainnya. Tidak hanya itu, merpati putih juga menampilakan atraksi pematahan hingga getaran.
Tak ketinggalan, begibung atau ngandang dulang juga diikutsertakan. Tujuannya, mengangkat kembali tradisi daerah. ”Tradisi ini memiliki filosofi yang sangat kuat di masyarakat Sasak,” terangnya.
Ngandang berarti menghadap sesuatu dengan posisi duduk bersila. Dulang yang artinya tempat atau wadah yang berisi sejumlah makanan. ”Jadi ngandang dulang atau begibung secara harfiah dapat diartikan sebagai kegiatan bersila dihadapan makanan,” kata dia.
D tambah lagi, apresiasi objek pemajuan kebudayaan daerah di SMAN 1 Narmada. Dilakukan melalui penyiapan, peningkatan, dan pengembangan SDM kebudayaan. Pengembangan pendidikan formal dan nonformal bidang kebudayaan. ”Inilah komiten kami, dalam melestarikan budaya dan kearifan lokal yang ada terutama di Narmada agar tidak terlupakan,” pungkasnya.
Wakil Kepala Bidang Humas SMAN 1 Narmada Nursinah mengatakan, kegiatan selalu melibatkan siswa dan OSIS. ”Setiap penyelenggaraan kegiatan yang mengusung tradisi budaya, kami tetap meminta pendapat, saran atau masukan dari pihak yang ahli di bidang itu, karena misi kami adalah pelestarian budaya” tegas dia. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida