Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Festival Tunas Bahasa Ibu NTB Lombakan Lima Kategori

Baiq Farida • Kamis, 10 November 2022 | 12:00 WIB
SUKSES DIGELAR: Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retnowati Hardiningtyas (depan tengah) berfoto bersama para dewan juri dan ratusan peserta lomba Festival Tunas Bahasa Ibu Tahun 2022, di Kota Mataram, Rabu (9/11/2022).  (Dewi/Lombok Post)
SUKSES DIGELAR: Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retnowati Hardiningtyas (depan tengah) berfoto bersama para dewan juri dan ratusan peserta lomba Festival Tunas Bahasa Ibu Tahun 2022, di Kota Mataram, Rabu (9/11/2022). (Dewi/Lombok Post)
MATARAM--Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) NTB Tahun 2022 usai digelar. Kegiatan yang diinisiasi kantor Bahasa NTB itu menghadirkan lima kategori yang diperlombakan diikuti ratusan peserta sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari tiga suku besar, yakni Sasak, Samawa dan Mbojo (Sasambo).

"Dari tujuh kategori kita hadirkan lima kategori saja, yaitu penulisan aksara Sasambo, pantun Sasambo, komedi tunggal Sasambo, pidato Sasambo dan bercerita Sasambo. Kategori ini untuk tingkatan SD dan SMP," ucap Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retnowati Hardiningtyas usai menutup gelaran FTBI NTB 2022 di Kota Mataram, Rabu (9/11/2022).

Kegiatan ini, sambungnya, bertujuan agar para generasi muda mampu melindungi bahasa dan sastra daerah khususnya Sasak, Samawa dan Mbojo. Sebab diketahui bersama, Mendikbudristek merancang tiga model Revitalisasi Bahasa Daerah.

"Model tipe A yaitu bahasa dominan, model tipe B yaitu tiga hingga lima bahasa daerah sebagai bahasa dominan yang dipakai masyarakat, model tipe C yaitu banyaknya bahasa daerah pendatang," tambahnya.

Puji juga berharap, kegiatan ini mampu memberikan akses bagi para partisipan untuk melindungi bahasa dan sastra daerah dan melestarikan ke generasi muda. Sebab kewajiban melestarikan bahasa dan sastra daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun seluruh lapisan masyarakat.

"Kita harapkan di tahun-tahun berikutnya festival semacam ini rutin digelar kantor Bahasa," ucap wanita asal Semarang itu.

Salah satu dewan juri untuk bahasa Sasak Muhammad Hakiki berharap, kegiatan serupa dapat terus dilakukan kedepan. Sebab, secara pribadi dari Suku Sasak sudah merasakan adanya kekurangan generasi muda menggunakan bahasa daerah akibat tergerus perkembangan zaman.

"Pada momen inilah kita kembali mempelajari bahasa daerah dan budaya, sehingga penerus bangsa ini bisa mengenal bahasa, budaya dan sastra daerah sendiri," pungkasnya.

Sementara itu, perwakilan orang tua Jum Apriadi menambahkan sangat mengapresiasi gelaran yang dilakukan kantor Bahasa NTB. Sebab memberikan semangat dan motivasi bagi generasi muda dalam melestarikan budaya daerah Sasambo.

"Anak-anak kami juga bisa mendapatkan pengalaman baru, kami (orang tua, red) juga bertanggung jawab karena bahasa dilingkungan keluarga tidak selamanya pakai bahasa Indonesia ada juga pakai bahasa daerah atau ibu," tukas orang tua dari Miza Mahila Aditya pemenang lomba juara satu kategori lomba puisi bahasa Mbojo ini. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida
#Sasambo #Kantor Bahasa NTB #Festival Tunas Bahasa Ibu