LombokPost-Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan, Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian (Faperta), Universitas Mataram (Unram) bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS).
Kedua belah pihak mengadakan Workshop on Exploring Marine Biodiversity and Ecology in Mangrove Ecosystems di hutan bakau Desa Eyat Mayang, Sekotong, Senin (3/6) lalu.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari International Short Course in Mangrove Ecology.
Prof Peter Thomas Vail, associate professor NUS menuturkan, mahasiswa di Singapura sangat pandai dalam pembelajaran melalui buku.
Namun tidak memiliki banyak kesempatan untuk pergi ke lapangan.
Sehingga NUS memiliki inisiatif untuk membawa mahasiswa ke luar dari Singapura untuk belajar di lapangan.
”Saya pikir turun langsung ke lapangan ini sangat penting,” kata Peter.
Menurutnya, dengan turun langsung ke lapangan memberi pengalaman berharga.
Mereka benar-benar turun ke lumpur dan mencoba untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam hal sains di dunia nyata yang sangat berharga.
Ia mengatakan, pembelajaran di lapangan memberikan kesan yang berbeda dan membekas di benak mahasiswa. Disamping itu, memahami semua jenis pengetahuan yang telah dipelajari di kelas.
”Mempelajari bagaimana sesuatu itu terjadi, mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang sebenarnya, melakukan pengukuran. Serta menghitung dan mengintegrasikannya,” ucapnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menarik mahasiswa untuk lebih tertarik pada hal-hal yang nyata di lapangan. Melakukan sesuatu sendiri dan mencari tahu semua masalah di lapangan dan tidak hanya berpikir untuk pergi ke ruangan ber-AC di Singapura.
”Melalui kegiatan ini mahasiswa dapat mengeksplorasi dan memahami bakau lebih baik. Alasan mengapa ini sangat kompleks dan mengapa kita membutuhkan lebih banyak bakau sehingga kita harus melindunginya,” tuturnya.
Chee Koi Jun, mahasiswa NUS Jurusan Life Science sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia merasa kegiatan ini sangat menarik.
Karena di Singapura tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi bakau.
”Apalagi memanjat pohon bakau secara langsung untuk melakukan pengambilan sampel dan mengukur diameter rhizophora,” ujar Koi.
Ia mengaku sudah sering melakukan pengukuran diameter pohon.
Namun kali ini merupakan pengalaman perdana mengukur diameter pohon bakau karena Singapura tidak banyak memiliki pohon bakau.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga membantu memahami pertumbuhan dan penyebaran bakau.
”Kegiatan ini membantu saya memahami bagaimana bakau tumbuh dan menyebar. Serta bagian yang sangat menarik adalah bagaimana dampaknya terhadap ikan,” ucapnya.
”Di Singapura kami memiliki cukup banyak tambak ikan. Namun tidak banyak yang menggabungkan bakau dan tambak ikan secara bersamaan,” imbuh Koi.
Rusmin Nuryadin, dosen Prodi Ilmu Kelautan Unram sekaligus kordinator kegiatan lapangan menuturkan, hutan bakau Eyat Mayang ini merupakan salah satu daerah percontohan.
Daerah tambak yang telah mengalami rehabilitasi menjadi ekosistem mangrove.
”Dulunya ini merupakan daerah tambak udang yang saat ini sudah tidak berjalan optimal. Sehingga dilakukanlah penanaman bakau dengan model silvofishery dengan bakau ditanam di tengah tambak,” terang Rusmin.
Diutarakan, masih banyak ekosistem lain yang dapat dipelajari selain dari ekosistem mangrove.
Yakni, ekosistem lamun, ekosistem terumbu karang, dan sebagainya.
Sehingga melalui kegiatan ini ia berharap Prodi Ilmu Kelautan bisa menjalin kerja sama dengan program studi maupun universitas di luar negeri.
Kerja lapangan ini merupakan aspek utama dari lokakarya International Short Course.
Dengan tujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang ekosistem bakau.
Kerja lapangan ini mencakup identifikasi spesies untuk memahami keanekaragaman flora dan fauna.
Pengumpulan data karakteristik fisik pohon bakau dengan cara mengukur diameter dan tinggi pohon.
Untuk menilai cakupan dan kesehatan hutan bakau pembelajaran tentang asosiasi biota dengan mengeksplorasi hubungan antara spesies yang berbeda di dalam ekosistem.
”Penilaian kualitas air bertujuan untuk mengevaluasi kesehatan lingkungan perairan. Serta persiapan herbarium dengan pengumpulan dan pengawetan spesimen tanaman,” pungkasnya. (jay/r9/*)
Editor : Marthadi