LombokPost--Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPKM) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi (PPMI) skema bottom up.
Kegiatan tahunan pengabdian masyarakat dilaksanakan di Poltekpar Lombok.
“Jadi tujuan utama kegiatan ini untuk berbagi pengetahuan atau sharing knowledge manajemen dan design thinking,” kata Achmad Ghazali, dosen ITB di sela-sela workshop memajukan desa wisata dengan menggunakan metode design thinking dan manajemen pengetahuan kepada mahasiswa Poltekpar Lombok di Hotel Fave, Rabu (21/8).
Menurutnya, pariwisata akan banyak masalah jika tidak dimanage dengan pengetahuan.
Olah karena itu, perlu mengenalkan pengelolaan pariwisata, pengelolaan industri kreatif berbasis pengetahuan atau knowledge base tourism.
Diutarakan, workshop ini akan dilaksanakan selama dua hari.
Pada hari pertama terkait knowledge manajemen dan design thinking. Harapannya, mahasiswa Poltekpar Lombok ini bisa melihat pentingnya mengelola desa wisata dengan pengetahuan memumpuni.
“Jangan sampai pengelolaan hanya dengan insting yang akhirnya menimbulkan masalah kedepannya. Oleh sebab itu, knowledge base manajemen sangat penting dalam industri, terutama untuk hospitality,” ujar Achmad, sapaan karibnya.
Selain itu, design thinking juga dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah berdasarkan kebutuhan konsumen.
Tidak membuat desa wisata sesuai dengan kemauan sendiri, tanpa mempertimbangkan konsumen.
“Konsumen ini membutuhkan fasilitas, kebersihan, dan sebagainya,” ujarnya.
Ia akan mengajak mahasiswa Poltekpar Lombok ke Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, KLU untuk mengcapture pesona wisata menggunakan video promosi wisata.
“Ini sebagai sample,” ucapnya.
Metode design thinking cukup dibutuhkan tahun 2030.
Kompetensi yang dimiliki sekarang ini tidak berlaku lagi karena sekarang sudah ada artificial intelligence (AI). Yang dibutuhkan di masa depan analytical thinking, critical thinking, design thinking, dan problem solving.
“Empat kompetensi dibutuhkan masa depan,” ucapnya.
Enam tahun kedepan mahasiswa harus punya kemampuan ini dibidang pariwisata. Jika tidak maka akan kalah bersaing.
Design thinking harus dimulai dengan keluhan konsumen. Misalnya, banyak sampah di desa wisata.
Dari persoalan ini membuat TPS sehingga desa wisata bersih.
Selain itu, sampah plastik juga bisa dimanfaatkan untuk membuat paving block.
“Kita bikin prototype karena program tidak bisa langsung jalan, tapi ada saja perbaikan. Yang kurang ini yang diperbaiki. Namanya design thinking mulai dari masalah dan cari ide menyelesaikannnya,” ucapnya.
Nuning Yanti Damayanti, dosen ITB lainnya mengatakan, pada pengembangan pariwisata manusia itu harus memiliki imajinasi dan kreativitas.
Tanpa semua itu tidak akan jalan. Manusia itu perlu ada imajinasi dan kreativitas untuk merealisasikan ide.
“Adanya Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB ini untuk memanusiakan manusia dengan manusia. Kalau bidang desain dan teknologi itu kan rasional. Kita ingin agar teknologi tidak membahayakan, tidak merusak tatanan. Jadi ada sentuhan rasa yang bermain,” ujar perempuan berjilbab ini.
Ia membayangkan 30 tahun kedepan teknologi akan seperti apa.
Namun begitu manusia itu punya kekuatan yang luar biasa yakni imajinasi.
“Teknologi ada karena kepintaran manusia. Dalam Islam akal dan rasa itu harus seimbang,” ucapnya.
Direktur Poltekpar Lombok Ali Muhtasom mengatakan, hampir semua desa wisata di NTB binaan dari Poltekpar Lombok.
Para dosen memberikan pembinaan kepada masyarakat untuk pengembangan SDM.
“Potensi desa wisata luar biasa. Ini yang membuat Poltekpar Lombok hadir di sini,” ujarnya.
Poltekpar Lombok dan ITB sudah ada kerja sama.
Ini kegiatan yang kedua kalinya dijalankan dengan melibatkan mahasiswa Poltekpar Lombok.
“Kita butuh sistem, kegiatan ini tak berhenti besok atau lusa. Dengan membangun design thinking apa yang akan dikerjakan,” ujarnya.
Mahasiswa Poltekpar Lombok akan mengunjugi Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, KLU. Dengan harapan mahasiswa memiliki bayangan untuk mengembangkan desa wisata di tempat lain.
Bahkan bisa membangun keindahan baru di tempat yang belum ditahu dengan kemampuan mahasiswa dan alumni. Sehingga NTB bisa mendunia melalui sosial media atau teknologi.
“Salah satu yang tak bisa digantikan teknologi itu menjadikan manusia sebagai sumber pelayanan tertinggi. Sentuhannya tidak bisa digantikan teknologi,” pungkasnya. (jay/*)
Editor : Kimda Farida