Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Unram Luncurkan Teknologi Budi Daya Ikan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Daerah Terbatas

Ali Rojai • Rabu, 16 Oktober 2024 | 15:46 WIB
INOVASI BARU: Tim Peneliti Prodi Budi Daya Perairan Unram dan mitra foto bersama usai meluncurkan inovasi baru teknologi budi daya ikan.
INOVASI BARU: Tim Peneliti Prodi Budi Daya Perairan Unram dan mitra foto bersama usai meluncurkan inovasi baru teknologi budi daya ikan.

LombokPost--Universitas Mataram (Unram) meluncurkan inovasi terbaru dalam teknologi budi daya ikan.

Dirancang khusus untuk diterapkan di daerah dengan keterbatasan sumber air dan lahan.

Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Teknologi yang dikembangkan ini menggunakan sistem resirkulasi bioflok.

Yakni, menggabungkan antara sistem budi daya resirkulasi dan sistem budi daya bioflok.

Sistem ini tidak hanya efisien dalam penggunaan air, tetapi juga lebih ramah lingkungan.

”Kami ingin memberikan solusi praktis yang dapat diadopsi oleh masyarakat. Terutama di daerah yang menghadapi tantangan dalam hal sumber daya,” ujar Dr Zaenal Abidin, ketua peneliti.

Sebagai bagian dari pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, tim peneliti dari Program Studi Budi Daya Perairan telah berhasil mengembangkan teknologi budi daya ikan yang lebih mudah diterapkan masyarakat.

”Setelah melalui beberapa tahap percobaan di kampus, kini saatnya teknologi budi daya ikan nila dengan sistem resirkulasi-bioflok diperkenalkan kepada masyarakat. Berkat pendanaan yang diberikan oleh DRTPM (Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat) melalui skema pengabdian kemitraan,” kata Zaenal.

Teknologi ini dikembangkan untuk mengatasi kekurangan sistem resirkulasi dan sistem bioflok.

Pada sistem resirkulasi minimal dibutuhkan penggunaan penyaringan kotoran ikan dan sisa pakan, pengendalian amonia, serta desinfeksi.

”Filterisasi air untuk menghilangkan kotoran dan sisa pakan  merupakan kegiatan dalam sistem resirkulasi yang memerlukan input energi yang tinggi,” ucap Zaenal.

Filterisasi tradisional dengan menggunakan saringan pasir, ijuk atau kapas membutuhkan penanganan ekstra.

Karena akan sangat mudah tersumbat seiring dengan semakin tingginya tingkat pemberian pakan sehingga merepotkan pembudi daya.

Sedangkan filterisasi otomatis membutuhkan biaya investasi yang tinggi. Dimana, harga filter otomatis masih puluhan juta.

Berbeda dengan sistem bioflok, justru tidak menghilangkan sisa pakan dan kotoran yang ada dalam air.

Tetapi  diubah menjadi gumpalan (flok) dengan bantuan mikroorganisme.

Flok yang terbentuk diharapkan menjadi makanan untuk ikan. Namun dalam kenyataannya, tidak semua flok yang terbentuk dapat dikonsumsi oleh ikan.

Di sisi lain, bakteri akan terus bertumbuh membentuk flok yang dapat menyebabkan perubahan kualitas air yang mendadak jika terjadi ketidakseimbangan kualitas.

Sehingga menyebabkan kematian ikan. Oleh karena itu, kontrol terhadap kolam pada sistem bioflok harus lebih intensif.

Zaenal mengatakan, kombinasi kedua sistem budi daya, yakni resirkulasi dan bioflok ini tidak lagi memerlukan penyaringan air dengan menggunakan proses filterisasi.

Namun air dilewatkan pada bak atau saluran pengendapan.

Air yang tersirkulasi secara terus menerus akan mengendapkan sebagian padatan di bak pengendapan.

Pengkombinasian dengan sistem bioflok memungkinkan padatan yang telah membentuk flok akan semakin mudah untuk mengendap.

Baca Juga: Ukur Kesiapan KPPS, KPU NTB Gelar Simulasi Pungut Hitung di Lombok Barat

Sehingga padatan tersebut dapat dengan mudah dibuang. Sedangkan padatan yang tidak mengendap akan kembali ke kolam untuk bisa dimakan oleh ikan atau berputar kembali ke kolam pengendapan.

Pengurangan padatan pada sistem kombinasi resirkulasi dan bioflok menyebabkan kebutuhan akan oksigen dari mikroorganisme pengurai tidak sebanyak dengan kebutuhan oksigen pada sistem bioflok.

Sehingga kekuatan aerasi yang dibutuhkan dapat dikurangi. Artinya dapat menghemat penggunaan energi listrik.

Kegiatan implementasi teknologi budi daya ikan nila sistem resirkulasi bioflok menggunakan kolam terpal saat ini masih berlangsung di halaman rumah salah satu mitra di Desa Gondang.

Kelompok tani dilibatkan mulai dari persiapan lahan, perakitan kolam terpal, pembuatan unit pengendapan.

Kemudian pengadaan sumur pompa air, pemasangan instalasi aerasi, penebaran ikan, pemeliharaan, hingga nanti sampai panen.

”Sebelum kegiatan budi daya dilakukan, mitra mengikuti pelatihan teknis budi daya ikan,” tutur Zaenal.

Kepadatan tebar yang diaplikasikan adalah 90 ekor per ton air menggunakan ikan nila monosex.

Diharapkan setelah dipelihara selama 90 hari, panen selektif sudah dapat dilakukan.

Untuk memaksimalkan keuntungan maka mitra akan menjual ikan secara eceran langsung ke konsumen pengguna.

Penjualan langsung secara eceran merupakan salah satu keunggulan sistem pemeliharaan yang dilakukan di kolam terpal.

Memudahkan petani dalam memanen ikan dalam jumlah yang sedikit karena volume kolam hanya 4,4 ton.

Diharapkan dengan mengelola lima unit kolam terpal mitra dapat menghasilkan minimal 300 kilogram ikan nila. Serta mendapatkan penghasilan tambahan sebesar minimal 4 juta rupiah per satu siklus pemeliharaan.

Sistem budi daya ikan yang baru dikembangkan ini diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan pada lahan dan sumber air yang terbatas.

Dengan menggunakan kolam terpal, sistem ini mengurangi kehilangan air yang tidak perlu. Serta memungkinkan kolam ditempatkan diberbagai lokasi dan dirakit dengan mudah.

Pembuangan kotoran secara teratur akan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Sehingga kebutuhan akan pergantian air bisa diminimalkan dan cukup menggunakan sumber air dari sumur.

Dengan langkah ini, Unram berkomitmen untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah ketahanan pangan.

Serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah yang selama ini terabaikan.

”Inovasi ini bisa menjadi model untuk pengembangan budidaya ikan di seluruh Indonesia,” harapnya. (jay/r9/*)

 

Editor : Kimda Farida
#Universitas Mataram Unram