Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SMPN 10 Mataram Jadi Rujukan Studi Tiru Pengelolaan Sampah Dikbudpora KLU

Ali Rojai • Senin, 11 November 2024 | 16:10 WIB

 

STUDI TIRU: Kepala Dikbudpora KLU Adenan (pakai peci) didampingi kabid Dikdas Dikbudpora melakukan studi tiru terkait pengelolaan sampah di SMPN 10 Mataram, pekan lalu.
STUDI TIRU: Kepala Dikbudpora KLU Adenan (pakai peci) didampingi kabid Dikdas Dikbudpora melakukan studi tiru terkait pengelolaan sampah di SMPN 10 Mataram, pekan lalu.
 

LombokPost-SMPN 10 Mataram menjadi rujukan studi tiru oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP KLU.

Ini  terkait pengolahan sampah organik dan anorganik.

Pekan lalu, Kepala Dikbudpora KLU Adenan didampingi kabid Dikdas Dikbudpora dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP KLU belajar terkait pengelolaan sampah.

Kedatangan rombongan disambut Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Nauval Aldian dan Kepala SMPN 10 Mataram H Chamim Tohari.

Kadatangan Dikbudpora bersama MKKS SMP KLU ingin melihat secara langsung terobosan dilakukan Spenten, sebutan SMPN 10 Mataram dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah organik.

Pengelolaan sampah dilakukan menjadi kompos, briket arang, dan budidaya maggot.

”Kalau sampah plastik kita jadikan kerajinan dan ada juga yang kita jual,” kata Kepala SMPN 10 Mataram H Chamim Tohari, Minggu (10/11).

Ia menyebutkan, banyak program di sekolah yang tidak dimiliki sekolah lain. Di Spenten ada bank sampah dikelola siswa.

Sampah organik dan anorganik dikelola siswa. Untuk sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, briket arang, dan budi daya maggot.

”Untuk maggot kita jual ke MMC (Mataram Maggot Center),” ujar Chamim.

Sedangkan untuk briket arang sudah dipasarkan dan banyak dibeli pihak luar.

Sementara kompos yang dihasilkan digunakan untuk pemupukan tanaman yang ada di sekolah selain dijual.

”Kalau sampah anorganik seperti botol dibuat menjadi ecobrick dan kerajinan lain. Sisanya yang tidak bisa diolah kita jual,” ucap mantan kepala SMPN 14 Mataram ini.

Chamim menuturkan, pengelolaan sampah di Spenten ini menjadi rujukan bagi Dikbudpora dan MKKS SMP KLU yang ingin memahamai lebih dalam tentang pengelolaan sampah yang baik, termasuk budi daya maggot.

”Kunjungan kerja ini dilakukan untuk sharing ilmu dan pengalaman tentang pengelolaan sampah, khususnya sampah organik. Selain itu, mereka juga ingin mengetahui budidaya maggot di sekolah,” tandasnya.

Kabid GTK Disdik Kota Mataram Nauval Aldian menambahkan, kegiatan ini sangat perlu dilakukan.

Agar antarinstansi atau sekolah bisa berbagi ilmu dan inspirasi demi pembangunan dan kemajuan sekolah.

”Kami berharap informasi yang diberikan SMPN 10 Mataram bisa bermanfaat,” pungkasnya. (jay/r9)

Editor : Kimda Farida
#sampah #mkks #organik #Mataram #SMPN