LombokPost - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya peran keluarga dalam memperkuat ketahanan nasional melalui pendidikan karakter anak.
Pendidikan karakter anak ini sangat penting dan harus menjadi perhatian keluarga.
Ia menegaskan ketahanan nasional tidak dapat terwujud tanpa ketahanan keluarga, yang merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan kebiasaan positif anak.
“Ketahanan nasional dimulai dari ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga sangat penting dalam membangun generasi emas 2045 atau generasi Indonesia yang hebat,” jelasnya.
Ia mencontohkan, salah satu program utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yaitu Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Yang di antaranya bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat hanya akan efektif bila diterapkan secara konsisten dari lingkungan keluarga.
“Kenapa dimulai dari keluarga? Karena tujuh kebiasaan itu harus diawali dari lingkungan keluarga,” jelasnya.
Mendikdasmen juga memberikan apresiasi terhadap peran aktif organisasi termasuk Aisyiyah yang selama ini telah mendukung program-program kementerian, terutama dalam penguatan karakter anak melalui pendekatan berbasis komunitas.
Sebab membangun fondasi bangsa bisa melalui pendidikan karakter tersebut yang harus mulai ditanamkan sedini mungkin.
Pendidikan karakter bukanlah sekadar konsep pendidikan tambahan, melainkan sebuah pilar fundamental dalam membentuk individu seutuhnya dan membangun peradaban bangsa yang kokoh.
Di tengah dinamika global yang serba cepat dan kompleks, urgensi pendidikan karakter semakin terasa, terutama dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Secara esensial, pendidikan karakter adalah upaya sistematis dan berkelanjutan untuk menanamkan nilai-nilai luhur, etika, moral, dan kebiasaan positif pada diri anak sejak usia dini.
Ini bukan sekadar mengajarkan apa yang harus dipelajari, melainkan bagaimana menjadi individu yang baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan akademis, pendidikan karakter berfokus pada pembentukan akhlak, integritas, kepedulian sosial, disiplin, kemandirian, dan berbagai atribut positif lainnya yang esensial untuk kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan produktif.
Membentuk Pribadi Unggul dan Berintegritas, pendidikan karakter membekali anak dengan kompas moral yang kuat, memungkinkan mereka membedakan mana yang benar dan salah, serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Ini menghasilkan individu yang jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Menumbuhkan Kesadaran Sosial dan Kebangsaan, melalui pendidikan karakter, anak diajarkan untuk berempati, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi toleransi, dan memahami peran mereka sebagai bagian dari komunitas dan bangsa. Ini krusial untuk membangun persatuan dan kesatuan.
Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia, individu dengan karakter yang kuat cenderung lebih disiplin, gigih, adaptif, dan memiliki etos kerja yang tinggi.
Kualitas ini sangat dibutuhkan untuk mendorong inovasi dan produktivitas di berbagai sektor, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing bangsa.
Mencegah Degradasi Moral dan Sosial, di era informasi yang tak terbatas, anak-anak rentan terpapar berbagai pengaruh negatif.
Pendidikan karakter berfungsi sebagai benteng yang membekali mereka dengan nilai-nilai positif untuk menolak pengaruh buruk dan membuat keputusan yang bijak.
Membangun Generasi Emas, seperti yang ditekankan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, pendidikan karakter adalah fondasi untuk mewujudkan "Generasi Emas 2045". Generasi ini adalah harapan bangsa yang akan memimpin dan membawa Indonesia menuju kemajuan.
Pendidikan karakter tidak dapat berdiri sendiri di sekolah. Justru, lingkungan keluarga memegang peran sentral dan tak tergantikan.
Keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi anak. Nilai-nilai, kebiasaan, dan perilaku yang diajarkan dan dicontohkan di rumah akan membentuk fondasi karakter anak seumur hidup.
Konsistensi penerapan kebiasaan ini di lingkungan keluarga akan memudahkan anak untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut.
Selain keluarga, sekolah dan masyarakat juga memiliki peran krusial. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertanggung jawab mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum dan kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, komunitas dan organisasi masyarakat, seperti Aisyiyah yang diapresiasi oleh Mendikdasmen, turut berkontribusi dalam membentuk ekosistem yang mendukung tumbuh kembang karakter positif anak melalui berbagai program berbasis komunitas.
Pendidikan karakter adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya bagi masa depan bangsa.
Dengan memprioritaskan penanaman nilai-nilai luhur dan kebiasaan positif sejak dini, terutama melalui penguatan ketahanan keluarga, sedang membangun fondasi yang kokoh untuk menciptakan generasi yang cerdas, berintegritas, berdaya saing, dan siap menjadi pemimpin masa depan Indonesia.
Ini adalah tugas bersama yang membutuhkan komitmen dan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat.
Editor : Kimda Farida