LombokPost- Pemerintah Kota Mataram akan mengusulkan SMPN 18 Mataram sebagai Sekolah Rakyat. Karena setiap tahun atau Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jumlah siswa di sekolah ini menurun.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Yusuf membeberkan, tahun lalu jumlah siswa yang diterima SMPN 18 Mataram hanya 25 orang, sementara ruang kelas cukup banyak.
Ia menyebutkan, jika melihat dari persyaratan untuk Sekolah Rakyat lahan yang dipersiapkan minimal 5 hektare. Sementara di Kota Mataram untuk mendapatkan lahan seluas 5 hektare cukup sulit. Artinya Kota Mataram tidak memenuhi persyaratan dalam membangun Sekolah Rakyat.
Kendat demikian Pemerintah kota Mataram tetap akan mengusulkan ke Pemerintah Pusat untuk keberadaan Sekolah Rakyat.
“Pak wali tetap siap mengusulkan Sekolah Rakyat di Kota Mataram,” ujar Yusuf.
Ia ingin memanfaatkan SMPN 18 Mataram sebagai Sekolah Rakyat. Apalagi, tidak semua anak-anak yang masuk garis kemiskinan bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat. Melainkan mereka juga harus cerdas.
“Tidak semua anak-anak miskin ditampung di sana (Sekolah Rakyat), tapi juga harus cerdas,” tutur Yusuf.
Untuk pembangunan Sekolah Rakyat tim dari pusat akan melakukan verifikasi dan Pemerintah Kota Mataram akan menunjukkan sekolah yang lokasinya di Jalan Layur, Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan ini.
“Kalau Sekolah Rakyat ini gedungnya bisa dipisah-pisah kita akan usulkan sekolah lainnya yang ada di sekitar SMPN 18 Mataram,” ucap Yusuf.
Menurutnya, untuk pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Mataram bisa dilakukan bertingkat atau keatas. Jadi nantinya untuk asrama bisa di lantai dua atau tiga.
“Fasilitas di SMPN 18 Mataram cukup lengkap. Ada ruang perpustakaan, laboratorium, masjid, dan fasilitas lainnya,” terang Yusuf.
Sebelumnya, Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menegaskan, pembangunan Sekolah Rakyat tidak boleh gagal.
Lahan bukan alasan untuk menghentikan program prioritas nasional tersebut. “Ini adalah program prioritas dari Bapak Presiden Prabowo. Jadi harus tetap dilaksanakan,” tandasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post