LombokPost-- Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur afirmasi jenjang SMA di Kota Mataram diwarnai keluhan dari ratusan calon siswa.
Banyak dari mereka yang terpaksa gigit jari karena tidak bisa mendaftar atau dinyatakan tidak memenuhi syarat, meskipun berasal dari keluarga kurang mampu.
Permasalahan administrasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tidak aktif menjadi batu sandungan.
Data sementara menunjukkan sekitar 20 persen pendaftar di semua SMA negeri di Kota Mataram terlempar dari jalur afirmasi.
Panitia SPMB SMAN 3 Mataram Lalu Deri Kertayoga, Minggu lalu (15/6) mengatakan, salah satu kendala paling umum calon siswa gagal daftar jalur afirmasi karena KIP yang tidak aktif.
Banyak orang tua siswa mengaku telah memiliki KIP, namun saat diverifikasi sistem, statusnya tidak aktif atau tidak terdaftar.
“Kita cek KIP-nya tidak aktif. Ini permasalahan paling banyak yang terjadi pada jalur afirmasi dari tahun ke tahun,” kata Deri.
Sementara terkait domisili yang tidak sesuai dengan data kependudukan tidak ada masalah.
“Kalau soal data kependudukan ndak ada masalah,” imbuh Deri.
Ia mengimbau agar masyarakat lebih proaktif dalam memastikan data bantuan sosial mereka selalu terbarui.
“Kami memahami kendala yang dihadapi masyarakat. Namun, aturan SPMB jalur afirmasi ini sangat ketat untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” tutur Deri.
Baca Juga: Hari Pertama Jalur Afirmasi di SMAN 1 Mataram Sepi, Baru 6 Pendaftar dari Kuota 129
Kabid Pembinaan SMK Dikbud NTB Supriadi jauh hari sebelumnya meminta masyarakat agar melengkapi persyaratan pada SPMB, baik jalur afirmasi, perpindahan, prestasi, dan domisili.
“Kalau ndak lengkap dokumen persyaratan ya ndak diterima,” ujar Supriadi.
Saat ini, tambah dia, SPMB dilaksanakan secara online.
Siswa akan mendaftar di sekolah tujuan dengan membawa dokumen persyaratan.
“Sekolah nanti akan memverfiikasi syarat pendaftaran, kalau ada yang kurang akan diminta dilengkapi,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida