Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Seameo Biotrop Genjot Urban Farming Sekolah, Lawan Krisis Pangan dari Kelas

Ali Rojai • Selasa, 22 Juli 2025 | 23:02 WIB
Para guru di Pulau Lombok foto bersama saat pelatihan urban farming di SMKPP Negeri Mataram, Selasa (22/7).
Para guru di Pulau Lombok foto bersama saat pelatihan urban farming di SMKPP Negeri Mataram, Selasa (22/7).

LombokPost- Seameo Biotrop terus mendorong penguatan urban farming sekolah sebagai strategi menghadapi ancaman krisis pangan.

Melalui pelatihan pertanian perkotaan selama empat hari di SMKPP Negeri Mataram, sebanyak 30 guru dari SD hingga SLB di Pulau Lombok dibekali keterampilan urban farming berbasis sekolah.

Pelatihan bertajuk Urban Farming untuk Komunitas Pendidikan ini digelar pada 22–25 Juli 2025, menghadirkan pakar dari Biotrop dan IPB University.

Para peserta mendapat materi praktik langsung seputar hidroponik, akuaponik, budidaya jamur, tabulampot, hingga budi daya ikan konsumsi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB Abdul Aziz saat membuka acara menegaskan, pentingnya menghidupkan kembali program pertanian di lingkungan pendidikan.

“Pertanian masuk sekolah itu program lama. Tapi saat ini makin relevan, terutama saat program KRPL dan P2L tak ada lagi. Kita bisa mulai dari sekolah,” kata Aziz.

Ia menyebutkan, urban farming sekolah dapat menjadi solusi mengatasi kelangkaan pangan. Komoditas seperti cabai, misalnya, bisa ditanam menggunakan tabulampot atau tabulakar di lingkungan sekolah.

"Ini sangat mungkin dilakukan," ujar Aziz.

Ia mendukung kolaborasi SMKPP Negeri Mataram dengan Biotrop dalam penyediaan bibit pertanian untuk sekolah-sekolah.

“Walau bukan ranah utama Dikbud, kami siap fasilitasi kerja sama agar urban farming sekolah terus berkembang,” terangnya.

Deputi Direktur Program Seameo Biotrop Doni Yusri menekankan, bahwa urban farming sekolah bukan sekadar soal produksi pangan.

“Lebih dari itu, ini soal pendidikan karakter, ketahanan lingkungan, dan keterlibatan aktif siswa sejak dini,” katanya.

Pelatihan ini juga menjadi bagian dari strategi Biotrop dalam memanfaatkan lahan sempit dan sumber daya lokal demi mewujudkan ketahanan pangan sekolah. Mataram dipilih sebagai lokasi pelatihan karena dinilai strategis sebagai pusat pendidikan di NTB.

Peserta tak hanya mendapat teori, tapi juga menyusun action plan untuk penerapan langsung di sekolah. Setiap sekolah bahkan diberikan instalasi hidroponik portabel sebagai sarana praktik awal.

Pit Direktur Biotrop Elis Rosdiawati mengatakan, kolaborasi komunitas pendidikan sangat penting untuk menghadirkan solusi berkelanjutan di tengah krisis pangan dan perubahan iklim.

“Sekolah bisa jadi motor perubahan,” tegas Elis.

Koordinator Pelatihan Urban Farming Nasional Seameo Biotrop Dewi Suryani menambahkan, guru adalah ujung tombak keberhasilan program.

“Kalau gurunya kuat, maka siswa dan lingkungan sekolah akan terpapar nilai-nilai kemandirian pangan,” jelasnya.

Kepala Dikbud NTB Abdul Aziz menerima bibit jeruk usai membuka pelatihan urban farming di SMKPP Negeri Mataram, Selasa (22/7).
Kepala Dikbud NTB Abdul Aziz menerima bibit jeruk usai membuka pelatihan urban farming di SMKPP Negeri Mataram, Selasa (22/7).

Sementara itu, Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan ini. “Di era teknologi seperti sekarang, hanya pertanian yang tidak bisa digantikan AI. Potensinya luar biasa,” pungkasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
#SMKPPN Mataram #Guru #Seameo Biotrop #pelatihan #Program Pertanian #Dikbud NTB #urban farming