LombokPost- Nuryani, guru TK PGRI 1 Cakranegara Kota Mataram berhasil memanfaatkan barang bekas menjadi Alat Peraga Edukatif (APE).
Inovasi ini dinilai mampu membuat pembelajaran anak usia dini lebih menyenangkan, interaktif, sekaligus ramah lingkungan.
Kreativitas guru mencuri perhatian. Nuryani menghadirkan inovasi APE dari barang bekas yang dinamakan “Jembatan Ilmu”.
Barang bekas seperti kardus, gelas plastik, kotak susu, sedotan, hingga tutup botol ia ubah menjadi media pembelajaran yang menarik dan interaktif.
Hasilnya, tercipta empat Alat Peraga Edukatif (APE) barang bekas yang bermanfaat untuk melatih keterampilan motorik, kognitif, sosial emosional. Sekaligus mengenalkan simbol-simbol dasar pada anak.
“Dengan Alat Peraga Edukatif Jembatan Ilmu, anak-anak bisa belajar sambil bermain. Mereka tidak hanya mengasah keterampilan dasar, tapi juga belajar mencintai lingkungan sejak dini,” ujar Nuryani saat Gebyar PAUD Kota Mataram, Kamis lalu (28/8).
Adapun empat media pembelajaran kreatif dari barang bekas tersebut antara lain. Pertama, tutup botol pintar yang terbuat dari tutup botol plastik bekas.
Media ini membantu anak mengenal huruf, angka, bentuk, dan warna dengan cara yang menyenangkan.
Kedua, botol stik huruf hijaiyah yang engajarkan konsep berhitung sekaligus mengenal huruf hijaiyah dengan stik es krim. Anak bisa melatih motorik halus melalui koordinasi tangan dan mata.
Ketiga, jam pintar yang emudahkan anak memahami konsep waktu seperti siang, malam, serta aktivitas harian sesuai jam tertentu.
Keempat, roda pintar sebagai media pembelajaran interaktif yang mengasah kemampuan kognitif, bahasa, motorik. Sekaligus menumbuhkan motivasi belajar melalui permainan.
Menurut Nuryani, alat peraga edukatif dari barang bekas ini adalah upaya guru menciptakan pembelajaran menyenangkan dan bermakna. Pendidikan usia dini, katanya, adalah pondasi penting dalam mengasah otak anak melalui interaksi permainan yang mendidik.
“Kami berharap permainan edukatif ini bisa memacu semangat anak dalam belajar, sekaligus mengenalkan simbol, angka, dan warna sejak dini,” pungkasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam