LombokPost- Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, termasuk Sumbawa, sistem peternakan rakyat masih mengandalkan cara tradisional. Ternak dibiarkan mencari makan sendiri di lahan terbuka, pinggir jalan, atau area pertanian pascapanen.
Pola ini dianggap hemat dan sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat, namun menimbulkan persoalan serius, seperti rendahnya produktivitas ternak, gizi yang tidak seimbang, dan meningkatnya risiko penyakit.
Dosen Prodi Biologi FMIPA Universitas Islam Al-Azhar Mataram M Ali Azis Hasan Rizki mengatakan, sistem peternakan tradisional ini menjadi tantangan besar dalam pembangunan pangan nasional.
“Ternak yang dilepas sulit dikontrol nutrisinya. Pertumbuhan dan bobot panen tidak stabil, bahkan sering memicu konflik antarpetani karena hewan merusak tanaman,” ujar Rizki.
Kondisi serupa juga dialami kelompok peternak di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa. Potensi bahan lokal seperti jerami jagung, dedak, daun pepaya, hingga limbah pertanian melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dosen lintas perguruan tinggi dari Universitas Mataram dan Universitas Islam Al-Azhar Mataram berkolaborasi melalui program pengabdian masyarakat yang didanai DRTPM Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek. Fokus mereka adalah menerapkan teknologi inovasi sederhana untuk mengolah pakan alternatif berbasis bahan lokal.
Kegiatan ini berlangsung pada 31 Oktober hingga 2 November 2025 di Samawa Global Farm, mitra peternak aktif di Lape. Dari kegiatan ini lahir inovasi bernama Fermentasi Jagung Nusantara (Fernara).
Produk Fernara mengolah jagung dan jerami jagung menjadi pakan fermentasi bernutrisi tinggi melalui proses fermentasi menggunakan mikroba alami dan enzim selulase dari daun pepaya. Kombinasi ini mampu menurunkan kadar lignin, meningkatkan kecernaan, dan memperkaya nutrisi pakan ternak.
Fernara berkembang menjadi berbagai varian, seperti silase, konsentrat, dan pakan komplit non-fermentasi, semuanya berbasis bahan lokal Sumbawa.
“Produk ini membuat peternak mampu memproduksi pakan sendiri, menghemat biaya produksi, dan mengurangi ketergantungan pada pakan impor,” ujar Rizki.
Namun, nilai utama Fernara bukan hanya pada teknologinya, tetapi juga pada perubahan mindset peternak. Melalui pelatihan dan pendampingan, peternak di Samawa Global Farm belajar dasar fermentasi, pencatatan keuangan sederhana, dan analisis usaha.
“Mereka tidak lagi hanya penggembala, tetapi juga produsen pakan yang memahami sains di balik praktiknya,” ujar Rizki.
Inovasi Fernara sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal dan memperluas dampak riset perguruan tinggi bagi masyarakat. Melalui program DRTPM, pemerintah mendorong agar hasil riset tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi juga hadir di lapangan, di desa, di kandang, dan di tangan peternak.
“Fernara menjadi bukti nyata bagaimana hilirisasi riset dapat berjalan dari kampus ke masyarakat,” tutur Rizki.
Hanya saja, sebagian peternak masih menganggap pakan fermentasi membutuhkan waktu dan tenaga lebih. Oleh karena itu, dibutuhkan pendampingan berkelanjutan dan dukungan kelembagaan agar inovasi seperti Fernara dapat bertahan dan berkembang.
“Pendekatan teknologi inovasi sederhana ini membuktikan bahwa modernisasi peternakan tidak harus mahal,” ucap Rizki.
Dengan bahan alami, alat sederhana, dan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat menghasilkan solusi murah, efektif, dan ramah lingkungan. Model seperti Fernara berpotensi direplikasi di berbagai daerah dengan karakteristik pertanian serupa, terutama wilayah kaya limbah jagung dan dedak lokal.
Editor : Siti Aeny Maryam