LombokPost - Dewan Pendidikan Kota Mataram (DPM) menggelar Rembuk Pendidikan untuk membahas penurunan jumlah anak usia sekolah di Kota Mataram. Kegiatan yang berlangsung, Rabu (12/11), dihadiri Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang, Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Yusuf, serta Kepala Brida Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa.
Dalam rembuk pendidikan ini, berbagai persoalan diangkat, terutama terkait penurunan jumlah siswa baru di beberapa sekolah negeri.
Kepala SDN 12 Mataram Ni Nengah Artini Mahendri mengungkapkan, jumlah pendaftar baru di sekolahnya terus menurun setiap tahun. Teranyar, sekolahnya hanya menerima tujuh siswa pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Padahal fasilitas kami lengkap dan memadai. Tapi karena banyak sekolah di sekitar kami, seperti SDN 41 Mataram, SDN 28 Mataram, dan madrasah swasta, siswa tersebar,” jelas Mahendri.
Artini juga menekankan perlunya ketegasan Disdik Kota Mataram dalam menerapkan aturan SPMB. “Kalau dalam satu rombongan belajar isinya 28 siswa, sesuai juknis, ya harus dikunci. Jangan dilebihkan, biar sekolah lain juga kebagian siswa,” pintanya.
Plt Kepala SMPN 18 Mataram Pratini mengungkapkan pernyataan senada. Pihaknya telah berupaya keras mempromosikan sekolah agar bisa memenuhi kuota penerimaan. Namun jumlah pendaftar tetap minim.
"Yang lebih parah, muncul isu SMPN 18 Mataram akan dijadikan Sekolah Rakyat. Ini membuat calon siswa enggan mendaftar. Akibatnya, banyak guru kekurangan jam mengajar,” ujar Mahendri.
Praktisi Pendidikan Lalu Sirajul Hadi menilai, perubahan tren pendidikan menjadi salah satu penyebab. Banyak orang tua, terutama ASN, kini lebih memilih menyekolahkan anaknya di madrasah negeri ketimbang sekolah umum.
"Kalau kita lihat, rata-rata anak ASN sekolah di MI, MTs, atau MA negeri. Ini perlu disikapi dengan kolaborasi antara sekolah di bawah Kemendikbud dan Kemenag," saran Sirajul.
Menurutnya, lembaga pendidikan jangan sampai terkotak-kotak. “Yang kita pikirkan ini anak-anak kita, bukan sekadar label kementerian,” tegas Sirajul.
Menanggapi hal tersebut, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang menekankan pentingnya sinergi semua pihak dalam memajukan pendidikan di Kota Mataram.
"Sebagai kota pendidikan, Mataram harus punya ide-ide kolaboratif agar sekolah yang kekurangan siswa bisa kembali diminati," ujar Martawang.
Martawang menambahkan, hasil dari Rembuk Pendidikan Kota Mataram ini akan menjadi bahan evaluasi dan dasar kebijakan ke depan, terutama dalam menjaga keseimbangan distribusi siswa antar sekolah.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Semua pihak harus ikut berperan,” tandasnya.(*)
Editor : Rury Anjas Andita