Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SMAN 6 Mataram Perkuat Toleransi dan Cegah Bullying di Sekolah Inklusi

Ali Rojai • Selasa, 18 November 2025 | 22:35 WIB
Plt Kepala SMAN 6 Mataram Moh Ridwan
Plt Kepala SMAN 6 Mataram Moh Ridwan

LombokPost- SMAN 6 Mataram (Smansix) terus memperkuat komitmen sebagai sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter siswa melalui nilai toleransi dan budaya saling menghargai.

Upaya ini menjadi strategi sekolah dalam mencegah radikalisme dan bullying, sekaligus mengokohkan identitas sebagai sekolah inklusi di Kota Mataram.

Plt Kepala SMAN 6 Mataram Moh Ridwan menegaskan, pencegahan radikalisme di sekolah tidak diarahkan pada pengawasan ideologi tertentu, tetapi pada pembiasaan toleransi antar umat beragama.Menurutnya, keberagaman di lingkungan sekolah menjadi modal utama membangun karakter siswa.

“Dengan menjaga dan meningkatkan toleransi antar umat beragama, suasana sekolah menjadi lebih harmonis,” ujar Ridwan.

Sebagai sekolah inklusi, Smansix melayani empat jenis anak berkebutuhan khusus (ABK). Karena itu, pencegahan bullying menjadi fokus penting. Ridwan menegaskan keberadaan siswa ABK bukan celah timbulnya diskriminasi, melainkan kesempatan bagi siswa reguler untuk berlatih empati dan membantu sesama.

“Inilah ladang ibadah mereka,” tegas Ridwan.

Ia mencontohkan bagaimana siswa reguler membantu teman-teman tuna netra menuju kelas atau bersabar saat berinteraksi dengan siswa grahita dan rungu. Pendekatan ini, kata Ridwan, membuat interaksi positif tumbuh secara alami.

“Kami selalu mengingatkan anak-anak normal agar menjadi pendamping teman-teman ABK,” ujar Ridwan.

Menurut Ridwan, insiden bullying yang muncul biasanya terjadi karena ketidaktahuan siswa bahwa temannya memiliki kebutuhan khusus. Setelah diberikan pemahaman, perilaku tersebut tidak terulang. Hal ini menunjukkan edukasi karakter masih menjadi faktor paling efektif dalam pencegahan bullying.

Dalam pembelajaran sebut Ridwan, implementasi pembelajaran mendalam atau diferensiasi menuntut guru memahami karakter setiap siswa. Guru diminta mendampingi siswa super aktif sekaligus memberi perhatian lebih kepada siswa yang membutuhkan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin membersamai anak seperti orang tua mereka di rumah,” kata Ridwan.

Ia juga meminta guru agama dan pembina Imtak mengoptimalkan perannya. Menurutnya, jika pendidikan agama berjalan baik, maka perilaku siswa juga akan mengikuti. Upaya ini memperkuat komitmen Smansix dalam mencetak generasi berkarakter, toleran, dan saling menghargai.

Dengan strategi berbasis karakter, Ridwan berharap Smansix menjadi sekolah yang menumbuhkan toleransi, memperkuat pendidikan inklusi, dan konsisten melakukan pencegahan bullying di lingkungan pendidikan. (*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#saling menghargai #SMAN 6 MATARAM #imtak #ABK #karakter siswa #guru agama #sekolah inklusi #kebutuhan khusus #cegah bullying #Perkuat Toleransi