Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kolaborasi Dosen dan BEM UTS Berdayakan Warga Rababaka Olah Ikan Tawar untuk Tekan Stunting

Yuyun Kutari • Jumat, 21 November 2025 | 09:08 WIB
Tim pengabdian masyarakat UTS menyerahkan mesin teknologi inovasi pengolahan daging ikan air tawar, kepada perwakilan tim PKK Desa Rababaka, Dompu, belum lama ini.
Tim pengabdian masyarakat UTS menyerahkan mesin teknologi inovasi pengolahan daging ikan air tawar, kepada perwakilan tim PKK Desa Rababaka, Dompu, belum lama ini.

LombokPost - Kolaborasi dosen Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) bersama mahasiswa BEM Fakultas Rekayasa Sistem (FRS) dan BEM Fakultas Ilmu Teknologi Hayati (FITH), menghadirkan program pemberdayaan masyarakat di Desa Rababaka, Kecamatan Woja, Dompu, berlangsung 17–21 November 2025.

Koordinator kegiatan sekaligus dosen Teknik Industri UTS Koko Hermanto menegaskan program ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan ikan air tawar, menjadi produk olahan bernilai ekonomi. “Ini sebagai upaya menekan angka stunting di daerah tersebut,” tegasnya, Jumat (21/11).

Selain dirinya, kegiatan ini digagas oleh tim dosen terdiri dari Adi Suryadin dari Prodi Ilmu Perikanan dan Yuliadi dari Prodi Informatika UTS, serta 20 mahasiswa BEM FRS dan FITH terlibat langsung sebagai pelatih dan pendamping masyarakat.

Koko mengungkapkan, pengabdian masyarakat ini digelar, lantaran timnya melihat kondisi stunting di Dompu yang masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data, prevalensi stunting meningkat dari 10,64 persen pada 2024 menjadi 11 persen pada 2025.

Padahal, wilayah tersebut memiliki potensi ikan air tawar yang melimpah berkat kehadiran Bendungan Mila di Kecamatan Woja, yang menampung 6,73 juta meter kubik air dan menjadi sumber pengembangan ikan nila dan gabus.

“Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan optimal oleh masyarakat Desa Rababaka, khususnya dalam meningkatkan ekonomi dan menekan angka stunting,” terangnya.

Kondisi ini mendorong tim UTS bersama mahasiswa BEM mengajukan proposal kegiatan pengabdian ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), melalui skema Pemberdayaan Masyarakat oleh BEM.

“Alhamdulillah, proposal tersebut kemudian disetujui pendanaannya oleh kementerian,” kata Koko.

Di kegiatan ini, tim pengabdian ingin membantu masyarakat memanfaatkan ikan air tawar secara optimal dengan mengolahnya menjadi produk seperti dimsum, nugget, dan abon.

Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menjalankan lima program utama; edukasi gizi ikan air tawar untuk penanganan stunting, pengenalan teknologi inovasi pengolahan ikan, pelatihan produksi olahan ikan, pelatihan desain kemasan digital, serta sosialisasi perizinan usaha dan pengurusan label halal. 

Selain memberikan solusi terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, anggota tim pengabdian Adi Suryadin mengungkapkan kampus ingin mahasiswa terlibat aktif. “Sesuai dengan semangat skema pemberdayaan masyarakat oleh BEM,” ujarnya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, tim dosen menyerahkan sejumlah mesin dan alat inovasi, termasuk mesin penggiling daging, mesin suir, mesin penggoreng abon otomatis, mesin penggoreng nugget, alat kukus dimsum, dan lemari pendingin.

Semua alat tersebut diberikan kepada kelompok ibu PKK Desa Rababaka, sebagai modal pengembangan usaha. “Kami berharap alat-alat ini dapat membantu ibu-ibu PKK memproduksi olahan ikan secara mandiri dan konsisten,” jelasnya.

Ia mengungkapkan selama pelaksanaan kegiatan, mendapat sambutan antusias dari masyarakat. “Jumlah peserta bahkan melampaui undangan yang disebarkan, yaitu sekitar 30 orang di setiap sesi,” kata Adi.

Sebagai informasi, kegiatan ini dijalankan sejak persiapan pada Agustus 2025 hingga evaluasi akhir pada Desember 2025.

“Melalui program ini, masyarakat Desa Rababaka diharapkan bisa mengembangkan usaha olahan ikan sebagai produk unggulan desa,” terang Yuliadi yang juga anggota tim.

Untuk itu, tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Kemenristekdikti atas dana hibah yang diberikan sehingga memungkinkan kegiatan tersebut bisa terlaksana dengan baik.

“Mudah-mudahan, apa yang kami lakukan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Kepala Desa Rababaka Ikram Ibrahim menyampaikan apresiasinya kepada tim pengabdian kepada masyarakat UTS. “Kami sangat berterima kasih kepada dosen dan mahasiswa UTS yang telah memberikan pelatihan dan bantuan teknologi inovasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Begitu juga dengan tim PKK Desa Rababaka yang turut menyampaikan hal serupa. Usai mengikuti sosialisasi dan pelatihan, saat ini memiliki pengetahuan mengolah ikan menjadi nugget, dimsum, dan abon, serta belajar desain kemasan dan cara mengurus label halal.

Editor : Akbar Sirinawa
#Mahasiswa #Kemdiktisaintek #pengabdian masyarakat #dosen #label halal #Dompu #Universitas Teknologi Sumbawa #Stunting