Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Direktur Guru PAUD PNF Ajak Anak TK Belajar Ceria: Praktik Pembelajaran Sederhana yang Sarat Makna di Pekanbaru

Rury Anjas Andita • Minggu, 23 November 2025 | 17:01 WIB
Direktur Guru PAUD PNF Suparto mengajar di TK Lillah Pekanbaru, mencontohkan praktik pembelajaran sederhana namun sarat makna dan nilai 7 KAIH.
Direktur Guru PAUD PNF Suparto mengajar di TK Lillah Pekanbaru, mencontohkan praktik pembelajaran sederhana namun sarat makna dan nilai 7 KAIH.

LombokPost - Praktik pembelajaran sederhana namun sarat makna kembali ditegaskan Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD PNF) Kemendikdasmen, Suparto, saat mengajar langsung anak-anak di TK Lillah Pekanbaru, Jumat (21/11).

Kehadiran Suparto menjadi bagian dari rangkaian Bulan Guru Nasional 2025 sekaligus untuk melihat implementasi pembelajaran sederhana dan sarat makna serta penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).

Sejak memasuki kelas, Suparto memulai kegiatan dengan cara yang sangat dekat dengan dunia anak: berdoa bersama, mencairkan suasana, hingga membangun pembelajaran yang tenang, mindful, dan nyaman. Praktik pembelajaran sederhana tersebut kembali ditekankannya sebagai fondasi penting pendidikan usia dini.

Setelah doa, Suparto mengajak anak-anak melakukan ice breaking singkat dan kemudian membacakan buku cerita bergambar “Selamat Pagi Dina!”, salah satu seri yang mengenalkan penerapan 7 KAIH. Cerita tentang anak yang terlambat sekolah itu mengandung pesan kedisiplinan dan tanggung jawab. Di sela cerita, anak-anak diajak bernyanyi “Lihat Kebunku”, membuat suasana kelas riang.

Suparto juga membawa hadiah kecil sebagai apresiasi. “Kami berkunjung ke TK Lillah untuk melihat bagaimana kegiatan guru dan siswa dalam konteks pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Karena konsep pembelajaran di Satuan PAUD adalah pengenalan diri, pengenalan sesama, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Ia juga menyebut praktik nyata di lapangan menjadi ukuran paling riil dalam menilai kebijakan. Dengan mencoba “mengajar”, ia melihat kemampuan numerasi anak, proses interaksi sosial, hingga cara anak mengenal dirinya sendiri.

“Penanaman karakter terbaik dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan yang mengembirakan. Maka PAUD itu aspek yang sangat krusial saat anak-anak tumbuh kembang di usia emas 0–5 tahun,” tambahnya.

Suparto memuji suasana belajar di TK Lillah. “Sekolah ini mampu mengondisikan anak-anak untuk tumbuh kembang berdasarkan potensi-potensi mereka. Suasana keagamaan juga ditanamkan dengan sangat baik. Ada kegiatan anak-anak di masjid untuk membiasakan diri salat dhuha,” ucapnya.

Kepala TK Lillah, Sri Gusmayanti, mengatakan interaksi Suparto dengan murid-murid berjalan sangat hangat. “Alhamdulillah, tadi Pak Direktur mengajar itu bagi anak-anak sangat seru. Pak Direktur itu bisa membangun kedekatan dengan murid-murid,” ujarnya.

Sri menilai kehadiran Suparto membuat anak-anak berani menjawab dan terlibat aktif. “Biasanya kalau anak-anak tidak ada kedekatan, kadang-kadang mereka tidak mau menjawab. Tapi tadi Pak Direktur mampu membawa anak-anak ikut ke dalam cerita dia,” katanya.

Ia juga menggambarkan bagaimana Suparto mengajak anak menyebutkan nama dan usia mereka, lalu mencatatnya satu per satu. “(Pak Direktur) Layaknya seperti guru TK biasanya dalam mengajar, mampu membawa anak-anak ke dalam interaksi,” ungkapnya.

Suparto menjelaskan, kegiatan “Direktur Mengajar” merupakan cara pemerintah memastikan bahwa pejabat tidak hanya duduk di belakang meja. “Kegiatan ini sangat positif. Seorang direktur jangan menjadi birokrat yang hanya duduk di belakang meja. Kita harus turun langsung melihat praktik pembelajaran secara riil, secara empiris, secara implementatif,” ujar Direktur PAUD PNF.

Sebagai pejabat yang menangani kompetensi dan kesejahteraan guru PAUD TK, Suparto menilai pentingnya mendengar aspirasi para GTK langsung di lapangan. Ia juga menyebut, interaksi dengan murid menjadi sumber energi tersendiri dalam memperkuat kebijakan.

“Ketika saya berinteraksi dengan anak-anak, saya melihat calon-calon pemimpin generasi Indonesia. Indonesia emas di 2045 akan diperkuat oleh anak-anak yang kita siapkan dengan fondasi karakter yang baik sejak usia dini,” tutupnya.

Di akhir kegiatan, praktik pembelajaran sederhana dan sarat makna kembali ditegaskan Suparto sebagai roh pendidikan PAUD. Nilai-nilai tersebut menurutnya harus terus hadir dari awal hingga akhir proses belajar.

Editor : Rury Anjas Andita
#belajar ceria #praktik pembelajaran #guru paud #pnf