LombokPost - Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram terus menghidupkan pariwisata berkelanjutan. Untuk menjalankan program tersebut, mereka memulihkan ekosistem laut.
"Kami lakukan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui transpalansi terumbu karang," kata Humas STP Mataram I Wayan Bratayasa.
Kegiatan tersebut dilakukan di Pantai Pandanan, Desa Malaka, Kabupaten Lombok Utara.
"Kami sudah lakukan kegiatan ini sejak Oktober 2025 sampai sekarang," kata dia.
Untuk menjalankan program tersebut, STP Mataram melibatkan mahasiswa, masyarakat, dan akademisi.
Kolaborasi lintas kelompok ini menjadi kunci keberhasilan kegiatan konservasi berbasis masyarakat.
"Kegiatan utama difokuskan pada pembuatan media transplantasi terumbu karang berupa spider frame," kata Bratayasa.
Transplantasi terumbu karang itu dibuat secara gotong royong bersama masyarakat. Mulai dari proses pengukuran, pemotongan besi beton, pembengkokan, pengelasan, hingga pelapisan menggunakan resin dan katalis.
"Tujuannya meningkatkan daya lekat dan menyerupai substrat alami, bagian luar spider juga dilapisi pasir pantai," terangnya.
Setiap dua bulan sekali, masyarakat berhasil memproduksi sebanyak 550 unit spider. Media tersebut kemudian ditanam di dasar laut pada kedalaman 10–15 meter.
"Lokasi penanaman berjarak sekitar 600–800 meter dari garis pantai. Area transplantasi mencakup luasan sekitar tiga hektare yang telah ditetapkan sebagai zona aman bagi pertumbuhan karang," terangnya.
Penempatan spider dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi arus, pencahayaan, dan stabilitas substrat dasar laut.
Selanjutnya akan dilakukan monitoring dan evaluasi secara bertahap.
Dia meyakini, program berdampak pada pemulihan ekosistem laut.
Selain itu juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas masyarakat pesisir.
“Kegiatan ini tidak hanya soal menanam karang, tetapi juga menanam kesadaran dan rasa memiliki masyarakat terhadap laut mereka,” terangnya.
Dari sisi pariwisata, kegiatan transplantasi karang mulai diarahkan sebagai potensi wisata edukasi bahari.
Pokdarwis setempat melihat peluang pengembangan snorkeling edukatif berbasis konservasi yang dapat menambah daya tarik Pantai Pandanan tanpa merusak lingkungan.
"Program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis kolaborasi mampu menjadi solusi efektif dalam konservasi terumbu karang sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan," tandasnya.
Editor : Kimda Farida