Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lima Hari Sekolah Disosialisasikan di Mataram, Dinilai Perkuat Karakter Siswa SMP

Ali Rojai • Senin, 29 Desember 2025 | 15:37 WIB
Ketua MKKS SMP Kota Mataram Burhanuddin
Ketua MKKS SMP Kota Mataram Burhanuddin

LombokPost- Wacana penerapan lima hari sekolah mulai disosialisasikan di Kota Mataram. Kebijakan lima hari sekolah dengan skema full day school ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat karakter siswa SMP melalui pembiasaan positif serta pengawasan yang lebih optimal di lingkungan sekolah.

Dalam skema lima hari sekolah, siswa dijadwalkan mengikuti pembelajaran hingga sekitar pukul 16.00 Wita.

Pola full day school tersebut membuka ruang lebih luas bagi sekolah untuk mengintensifkan pembinaan karakter dan keagamaan, seperti salat duhur dan ashar berjamaah, yang selama ini sulit dilakukan jika jam belajar berakhir lebih cepat.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MMKS) SMP Kota Mataram Burhanuddin mengatakan, penerapan lima hari sekolah memiliki dampak positif yang signifikan, terutama dalam membangun kedekatan emosional antara guru dan siswa.

“Pada masa pertumbuhan remaja, keteladanan dan perhatian guru jauh lebih penting dibandingkan sekadar transfer ilmu akademik. Dengan interaksi yang lebih lama melalui lima hari sekolah, hubungan psikologis bisa terbangun lebih kuat,” ujar Burhanuddin.

Menurutnya, intensitas interaksi selama full day school memungkinkan guru memahami kondisi siswa secara lebih menyeluruh.

Dengan demikian, kebutuhan emosional dan perkembangan karakter siswa usia SMP dapat terpenuhi dengan lebih baik.

Selain penguatan karakter, lima hari sekolah juga dinilai mendukung optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan durasi belajar mencapai 8-9 jam pelajaran per hari, siswa membutuhkan asupan nutrisi yang memadai selama berada di sekolah.

“Dengan aktivitas hingga sore hari, siswa dipastikan menghabiskan jatah makan mereka. Ini sekaligus menjawab persoalan sisa makanan dalam pelaksanaan Program MBG,” jelas Burhanudin.

Dari sisi pengaturan jadwal, Burhanuddin menambahkan, sekolah tetap memiliki fleksibilitas menyisipkan kegiatan kokurikuler pada jam efektif.

Misalnya, senam sehat dapat dilaksanakan pada pagi hari sebelum pembelajaran dimulai pukul 07.30 Wita.

Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler dapat digelar di luar jam tatap muka, baik setelah pukul 16.00 Wita pada hari kerja maupun dengan memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu.

Keuntungan lain dari penerapan lima hari sekolah adalah tersedianya waktu pengembangan diri bagi guru.

Hari Sabtu yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan sekolah formal kini bisa dimanfaatkan untuk mengikuti pelatihan dan peningkatan kompetensi.

“Baik guru maupun siswa juga memiliki dua hari penuh bersama keluarga. Sehingga bisa kembali segar saat memasuki hari Senin,” ucap Burhanuddin.

Meski masih dalam tahap wacana dan sosialisasi, respons sekolah dan tenaga pendidik terhadap lima hari sekolah sejauh ini dinilai sangat positif.

Mereka menilai kebijakan ini mampu menghadirkan keseimbangan antara kewajiban belajar di sekolah dan waktu berkualitas bersama keluarga.

“Penyesuaian teknis seperti pengaturan jadwal salat dan makan siang terus dibahas agar penerapan full day school di SMP dapat berjalan maksimal tanpa kendala sumber daya,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #ekstrakurikuler #Optimalisasi #full day school #kokurikuler #Perkuat Karakter #lima hari sekolah #siswa smp #MKKS SMP Kota Mataram #program mbg #pengembangan diri