LombokPost- Upaya menekan kasus bullying di SMPN 15 Mataram membuahkan hasil nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah ini sukses menciptakan lingkungan belajar aman dan nyaman dengan angka perundungan nyaris nol.
Keberhasilan SMPN 15 Mataram menekan bullying tidak terjadi secara instan. Sekolah menerapkan langkah preventif berlapis melalui pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang aktif memantau aktivitas siswa setiap hari. Pendekatan ini menjadikan pencegahan bullying sebagai agenda utama sekolah.
Selain pengawasan internal, pencegahan bullying di SMPN 15 Mataram diperkuat melalui sosialisasi berkala. Sekolah menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram serta melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk memberikan edukasi langsung kepada siswa.
“Kami rutin melakukan sosialisasi kepada anak-anak, melibatkan DP3A dan Bapak Ibu guru BK, agar siswa paham apa itu perundungan dan dampaknya. Ini langkah pencegahan kami,” ujar Kepala SMPN 15 Mataram Sri Wahyu Indriani, Kamis (8/1).
Hasilnya, kasus bullying yang sebelumnya dikhawatirkan memicu konflik antarsiswa kini berhasil ditekan drastis. Dalam setahun, hanya tersisa dua hingga tiga kejadian kecil yang langsung ditangani sejak dini.
Sri menegaskan, gesekan yang terjadi bukan berupa kekerasan berat atau tindakan anarkis. “Hanya gesekan kecil antar siswa dan langsung kami redam agar tidak berkembang menjadi bullying,” jelas Sri.
Strategi lain yang dinilai efektif menekan kasus bullying di SMPN 15 Mataram adalah keterlibatan aktif orang tua. Setiap ada indikasi perundungan, pihak sekolah segera memanggil orang tua siswa yang terlibat.
“Orang tua kami libatkan sejak awal. Mereka ikut bertanggung jawab memberikan nasihat kepada anak di rumah. Kolaborasi ini sangat efektif,” ungkap Sri.
Sinergi antara sekolah, orang tua, dan instansi terkait membuat lingkungan SMPN 15 Mataram kini bersih dari bullying.
“Kami optimis pendekatan preventif ini dapat terus menjaga iklim belajar yang sehat dan kondusif bagi seluruh siswa,” pungkas Sri.
Editor : Redaksi Lombok Post